Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Kritik Sahabat : Bangsa Ini Kurang Percaya Diri ?


Dedeh. Temanku sewaktu kuliah ini tidak banyak berubah mengenai ciri khasnya saat  memberikan kritik terhadap sesuatu hal.   Sangat kritis, analitis, tajam dan blak-blakan secara apa adanya. Begitu pula, saat kemarin ada acara di daerahku, teman yang dulu sering menyandang gelar juara kelas ini berkesempatan mengunjungi kediamanku.  Predikatnya, yang kini sebagai pengusaha busana muslim di Bandung tidak menyurutkan perhatiannya terhadap banyak hal, terutama masalah sosial yang menjadi fenomena di negeri ini.
“Bangsa kita ini banyak yang kurang percaya diri” ucapnya dengan sangat meyakinkan.
Katanya, terlalu banyak bangsa ini menganggap diri lebih jelek dari bangsa lain, menganggap diri kurang mampu dibandingkan dengan bangsa lain. Sebaliknya, terlalu banyak yang begitu menyanjung keberhasilan bangsa lain, memuji kemajuan bangsa lain secara kurang proporsional, dan seterusnya. Katanya, hal ini terjadi dalam hampir di segala bidang, seperti di bidang ekonomi dan perdagangan, bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang sosial dan pendidikan, dan seterusnya.
Lalu, ia memberikan contoh kecil dengan mengaitkan prestasi olahraga sepak bola nasional yang belum banyak berprestasi di tingkat dunia. “Apa kaitannya ?” tanya saya agak heran. Ternyata, ia cukup banyak tahu tentang dunia sepak bola, hal baru yang saya ketahui dari dia. Katanya, perhatikan saja bagaimana perbedaan permainan sepak bola nasional dengan sepak bola di Eropa. Permainan sepak bola di Liga Champion Eropa, misalnya, begitu sangat menarik dan tidak membosankan untuk ditonton. Sangat jauh berbeda, saat kita menyaksikan sepak bola nasional yang kebanyakan terkesan monoton, dan kurang enak ditonton.
Tentu saja, saya tidak dapat mengimbangi untuk menanggapi soal sepak bola, karena saya sangat awam mengenai olah raga yang katanya paling populer di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Biasanya, saya hanya dengar saja dari cerita anakku yang sulung, yang memang cukup menggemari bola. Lalu, saya cuma mengutip ulang komentar yang pernah diucapkan oleh anakku :
“Kata anak saya, pemain bola kita mah kurang ngotot, sedikit-sedikit dioper ke teman kalau dapat bola. Tidak seperti di luar negeri, pemainnya berani maju menembus pertahanan lawan, ngotot untuk menang dan tidak mudah mengoper bola, kecuali saat diperlukan saja”.
“Itu, karena pemain kita banyak yang kurang percaya diri. Padahal, sikap percaya diri merupakan salah satu faktor penting dalam memenangkan sebuah pertandingan atau persaingan” kata teman saya menimpali.
Ia masih terus menjelaskan analisa dan pendapatnya. Sementara, saya lebih banyak mendengarkan saja. Hingga, saat ia mengaitkan masalah kurang percaya diri dengan  pendidikan, saya mulai merasa tertantang untuk secara serius ikut mengomentari.
“Ini, sangat mungkin terkait dengan masalah pendidikan kita yang kurang mengembangkan sikap percaya diri. Sekolah terlalu banyak aspek kognitif,  lebih banyak mengajarkan hapalan dan pemberian tugas-tugas” kritik teman lagi.
Kali ini, saya langsung sigap menanggapi. “Tergantung, siapa dulu gurunya dong...” jawab saya, secara tak sadar seolah ingin menunjukkan sikap percaya diri dari seorang guru. Hingga, saya tersadar kembali untuk memberikan kesempatan teman agar lebih banyak berkomentar lagi. “Maksudnya, bagaimana ?” tanya saya.  
Ternyata, ia masih mau menjelaskan lagi. Katanya, sikap percaya diri itu terbentuk dari penghargaan atas diri sendiri. Seorang anak yang hampir tidak pernah menerima pujian atau penghargaan dari seorang guru, atau mungkin juga dari orang tuanya sendiri, amat sulit mampu membentuk karakter yang percaya diri. Persepsi orang lain terhadap dirinya amat membekas sehingga secara perlahan dalam jangka waktu yang panjang akan menjadi bagian dari sifat yang dibawanya, hingga ia dewasa kelak. Sikap percaya diri, adalah pangkal dari kreatifitas, inovasi dan kepribadian yang mandiri.
“Pengalaman saya dan anak saya, guru begitu sulit untuk memuji dan menghargai anak didiknya secara terbuka. Sebaliknya, guru lebih banyak menyindir saat siswa mengalami kekeliruan, memarahi saat ada anak yang dianggap menyinggung perasaan, atau bahkan agak “menghardik” ketika muridnya dinilai ada yang nakal dan suka bikin onar” jelasnya.
“Oh, iya ?” sela saya, sembari tetap menahan diri untuk mendebatnya. 
“Iya, itulah salah satu faktor yang menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri. Gurunya saja tidak menghargai, termasuk orang tuanya sendiri !”
“Tak sedikit guru atau orang tua yang mengucapkan kata-kata yang bersifat memvonis, seperti kamu ini, dasar anak bandel.... dasar anak malas.....dasar anak .... dan seterusnya yang berkonotasi negatif”.
“Seharusnya, kita membiasakan diri untuk mengucapkan kata-kata yang persuasif dan apresiatif terhadap anak, seperti... kamu itu sebenarnya pintar, coba sekali lagi, kamu pasti bisa !” ucapnya lagi dengan penuh ekspresi.
Huh, tajam benar kata-kata teman saya ini. Hingga, perasaan saya pun mulai agak “terluka”. Saya yakin, temanku sangat sadar dengan siapa dia bicara. Dengan seorang guru yang menjadi sasaran kritikannya. Namun, saya coba biarkan saja agar ia menuntaskan  seluruh ucapannya. “Kalau bukan begitu, bukan dia namanya !” ucap saya menghibur, walau cuma dalam hati.
Benar saja, ia masih terus mau berbicara, hingga memakan waktu sekitar dua jam lebih, waktu yang dianggapnya telah cukup untuk bertamu. Seperti biasanya, sebelum pamit untuk berpisah, ia selalu menyampaikan permohonan maaf atas segala ucapan dan kata-katanya. Tentu, saya selalu memaafkannya. Bagi saya, dia adalah salah satu sahabat terbaikku yang selalu berusaha jujur berkata apa adanya kepada sahabat lamanya. 
Lagi pula, masih dalam hati, saya yakin bukanlah tipe guru seperti yang telah dikritiknya. Bahwa, bagi saya, semua anak dapat meraih kesuksesan, patut dihargai, perlu dimotivasi, perlu dibantu untuk dapat menyelesaikan masalahnya, agar dapat sukses, agar dapat bangga atas dirinya sendiri, agar mereka dapat menjadi anak yang percaya diri.
Sesaat sebelum mulai menjalankan kendaraan mobilnya hendak pulang, sang sahabat masih sempat membisikkan tambahan kata-kata kepada saya :
“Kecuali, sebagian dari bangsa kita, mungkin sudah terlalu sangat percaya diri jika menyangkut masalah politik, kedudukan dan kekuasaan. Sehingga, mereka kurang peka terhadap aspirasi rakyat, tetap jalan terus walau rakyat sudah berteriak. Mereka, enggan mundur, meski rakyat sudah muak, dan tetap mempertahankan diri, betapapun sudah tidak dikehendaki....”.
“Assalamu’alaikum.... “ ucapnya, lalu bunyi klakson mobil pun diperdengarkan pertanda salam perpisahan. Saya pun membalasnya, sembari melambaikan tangan kanan. Dalam hati berkata, bahwa menurut saya, masih banyak anak bangsa yang begitu sangat percaya diri dan dapat dibanggakan oleh Indonesia. Bagaimana dengan pendapat anda ? Semoga bermanfaat. Terima kasih.***

(Oleh Sri Endang Susetiawati)
Baca Juga

Komentar