Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Ku Tahu, Yang Kau Mau (1) : Sekolah Unggulan

Di suatu waktu, di dalam sebuah ruangan kerja. Sambil duduk, seorang ibu berkerudung biru muda mengeluh.
“Aduh, berat juga, ya. Sekolahin anak di SMP Islam terpadu” ucapnya memulai.
“Memang, kenapa berat, bu ?” tanya teman, seorang ibu juga yang duduk di sebelahnya.
“Habis, bayarannya mahal. Per bulan saja harus bayar Rp 350 ribu. Belum lagi biaya selama di asrama”.
“Berapa, bu ?”
“Yah, satu juta sih hasus ada...”
“Belum lagi, buat pulsa. Maka-nya, anakku masih suka pulang ke rumah. Minta dana tambahan”.
Sang teman, mulai menangkap maksud pembicaraan si ibu. Lalu, dia mencoba menyarankan sesuatu.
“Kenapa, enggak di sekolah negeri saja, kalau memang di situ mahal ?”
“Iya, sih. Tapi, bagaimana ya ? Ini, masalah kualitas pendidikan dan masa depan anak. Kita sebagai orang tua, kan ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak”
“Tapi, kan mahal. Dan, katanya memberatkan...” sela teman.     
 “Iya, sih. Tapi, enggak juga kalau demi masa depan anak”
Temannya mulai agak bingung mendengar penjelasan dari si ibu. Mimiknya pun mulai agak berbeda. Agak kecut dekat ke sinis.
“Ya, kalau memang demi masa depan anak, kenapa harus mengeluh, biayanya memberatkan...?”
Saya pandangi saja mereka yang masih terus berlanjut, saling jual beli komentar dan argumen. Dari jarak cuma lima meter, saya cuma ikut tersenyum. Obrolan ringan yang semula sekedar basa-basi, kini telah cukup membuat mereka menaikkan tensi.
“Enakan saya, anak di sekolahin di SMP Negeri. Biayanya enggak terlalu memberatkan”.
“Maaf bu, ya. Bukannya mau merendahkan. Tapi ini fakta. Sekolah negeri itu kan sangat terbatas kemampuannya. Maaf, sekali lagi ya. Jadi, ya mungkin kualitasnya juga tidak sebaik di SMP Swasta Unggulan. Belum lagi, soal pendidikan agamanya. Saya yakin lebih baik dari sekolah negeri”
“Enggak, juga tuh...” komentar temannya singkat, sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah ke depan tanpa sempat permisi.
Saya cuma tersenyum. Kemudian, secara sengaja saya mendekati si ibu. Dengan senyum pula, saya mulai bertanya kepadanya.
“Anak ibu, sudah kelas berapa sekolah di SMP unggulan ?”
“Sudah kelas 8, bu”.
“Oh..., berarti sudah banyak perubahan ya, selama satu setengah tahun lebih bersekolah di SMP Unggulan ?”
“Benar, bu. Anak saya jadi lebih mandiri, tidak tergantung lagi sama mamahnya”.
“Wah, hebat ! Apa ada lagi bu, kelebihan dari anak ibu setelah sekolah di sana ?”
“Oh, iya. Anak saya jadi lebih agamis. Mungkin, karena di sana lebih banyak ditekankan soal keagamaan, ya”
Tampaknya si ibu makin bersemangat untuk bercerita tentang berbagai kelebihan anaknya. Walau, sering pula ceritanya agak dilebih-lebihkan. Namun, sesekali saya masih sempat untuk bertanya atau sekedar menanggapi sekedarnya saja. Woow. Rupanya, si ibu terlihat sangat puas dan merasa senang. Dimintanya, agar saya kapan-kapan main ke rumahnya.   
Saya pun merasa puas juga telah bisa menyenangkan hatinya. Tak selalu seseorang yang bercerita tentang keluhan, sebenarnya adalah sebuah keluhan. Ia hanya ingin bicara saja bahwa ada kelebihan pada diri anaknya yang membanggakan. Ia hanya ingin agar orang lain tahu dan mau mendengarkan. Bahwa ia telah banyak mengeluarkan uang untuk sebuah kebanggaan.
Sekali lagi, saya hanya tersenyum. “Apa susahnya nyenengin hati orang. Gak ada ruginya, kok”.
Mungkin, Anda punya pendapat yang lain ?
Terima kasih.***
Baca Juga

Komentar