Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Ku Tahu, Yang Kau Mau (2) : Pagi Dikubur, Sore Main Bola ?

Siang itu, di Hotel berbintang dan bersejarah di Jalan Asia Afrika Bandung. Rangkaian acara reuni sebuah universitas yang terletak di kawasan Bandung Utara baru saja usai. Empat orang pria dan dua orang perempuan sedang duduk di depan meja bundar hendak memulai santap siang. Tak semuanya, kami saling kenal.
“Itu, ya. Ada saja orang yang paginya masih main bola, eh sorenya sudah dikubur” ujar seorang pria, yang kebetulan belum dikenal.
“Oh, iya ?” balas temanku, pria juga yang duduk di sebelahnya.
“Iya. Tapi, menurutku itu bukan sebuah kejutan yang aneh” lanjut pria berkacamata itu.
“Maksudnya, Pak ?” tanya temanku, yang berprofesi sebagai politisi.
“Yah, kalau paginya masih main bola, lalu sorenya dikubur, itu sih wajar, biasa saja. Yang tidak wajar dan luar biasa adalah bila pagi dikubur, lalu sorenya main bola”
“Ha...ha...ha...” suara tertawa kami berempat terdengar.
Kecuali, seorang temanku. Hanya terpaku memandangi mereka. Katanya, memotong :
“Cerita lucu yang sudah lama, Pak. Didapat dari koran Kompas Minggu, kan ?”
“Entahlah. Saya sudah lupa”
“Iya, saya yakin. Itu cerita lama dari Kompas Minggu”
Suasana yang sempat mencair dan ceria, tiba-tiba menjadi berubah. Seolah, ada “ketegangan” yang mulai kami rasa. Saya mulai ikut bicara.
“Tampaknya, Bapak berbakat juga jadi entertainer”
“Ah, biasa saja, kok, bu” ucapnya masih tampak kaku.
“Boleh Pak, saya minta kartu namanya ? Siapa tahu nanti saya perlu”
Semula ia terlihat gugup saat mendengar permintaanku. Namun, langsung saja ia merogoh dompet di saku celana bagian belakang.
“Ini bu, kartu nama saya” katanya dengan mimik bangga.
“Oh, iya. Terima kasih, Pak. Ini kartu nama saya”
Untuk beberapa saat, kartu nama itu tidak langsung saya masukkan ke saku, atau ke dompet milikku. Saya pegangi sebentar, sambil dibaca identitas yang tertera.
“Pak Tejo Sukmono...”
“Wah, tidak disangka. Salah seorang Direktur BUMN pintar bercerita lucu”
“Ah, biasa saja. Biar akrab” balasnya mulai tersenyum.
Lalu, saya masukkan kartu nama itu di saku bajuku. Masih sambil bersantap makan, saya terus mengajaknya untuk mengobrol. Ternyata, sang Direktur itu kembali ceria. Dengan semangat, ia terus banyak cerita. Suasana kami pun kembali mencair. Kecuali, temanku yang satu ini. Tampak, ia masih sibuk memainkan Blackberry miliknya. Lalu ...
“Maaf, ya. Saya permisi dulu. Ada perlu”
“Kemana, Pak ?”
“Ada yang nunggu di luar”
Kami hanya menganggukkan kepala. Kelima pasang mata menatapi langkahnya yang berjalan tampak terburu-buru. Pikirku, apa susahnya bersabar sebentar. Hanya sekedar untuk mendengar bagaimana orang lain bercerita yang menurutnya lucu dan membuat gembira.
“Apa susahnya sih, bikin orang senang. Tanpa harus merampas kesenangannya, saat hanya sekedar untuk bercerita ?” pikirku lagi.
Kami masih terlibat dalam obrolan yang akrab dan santai. Hingga, tak terasa makanan di atas piring itu dianggap selesai untuk disantap.
“Terima kasih, bu. Dan juga, bapak-bapak. Saya senang berkenalan dengan anda semua. Kapan-kapan main ya ke kantor, saat ada di Jakarta”
“Sama-sama. Terima kasih, Pak”   
Kami pun lantas berpisah. Ada kenalan baru dari sebuah acara reuni biasa. Memang, tak ada salahnya untuk saling berkenalan dahulu, bagi mereka yang baru bertemu. Kesan pertama itu, begitu penting. Apakah kita akan diingat sebagai orang yang cukup ramah dan menyenangkan, atau hanya menjadi ingatan seseorang yang ingin segera dilupakan.
Mungkin, Anda punya pendapat yang lain ?
Terima kasih. ***

(Oleh Sri Endang Susetiawati)
Baca Juga

Komentar

  1. Jadi teringat cerita Pak Ari tentang kecerdasan Emosional. menghargai orang lain adalah ciri2 orang yang memiliki peluang lebih banyak untuk menjalin kerjasama dan kesuksesan.

    BalasHapus
  2. @Pak Rio Saputra. Betul Pak. Itu menyangkut kecerdasan emosional, yg berperan 80 % atas kesuksesan seseorang. Ini yg prlu diajarkan lbh bnyk lg bg siswa di sekolah

    Tks. Salam.

    BalasHapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).