Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

99,2 % Siswa SMA Lulus UN, Apa Artinya Bagi Kita ?


Oleh Sri Endang Susetiawati
Hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/SMK tahun 2011 telah diumumkan, Senin kemarin (16/5/2011). Hasilnya, secara nasional 99,2 % lebih siswa SMA dinyatakan lulus UN (meningkat dari 99,04 % tahun lalu),  sedangkan angka kelulusan siswa SMK sebesar 99,51 %. Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi daerah terbanyak siswa tidak lulus, yaitu 369 siswa (4,3 %), sedangkan Bali menjadi daerah dengan ketidaklulusan terkecil, yaitu 10 siswa (0,04 %). Di Jakarta, siswa yang tidak lulus sebanyak 118 orang atau 0,19 %. (VIVAnews.com)
NTT kembali menjadi daerah dengan tingkat kelulusan terendah secara nasional, yaitu sebesar 94,43 %. Meski demikian, kelulusan di atas 90 % adalah sebuah prestasi yang tetap saja luar biasa (MICOM). Tingkat kelulusan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat hampir mencapai angka 99,99 %, dengan menyisakan 1 siswa SMA dan 3 siswa SMK yang tidak lulus (Galamedia). Lalu, apa artinya angka-angka kelulusan UN itu bagi kita ?
Kemendiknas selalu mengaitkan UN sebagai bagian dari upaya pemerintah pusat dalam (1) meningkatkan mutu pendidikan; dan (2) memetakan mutu pendidikan sekolah di seluruh Indonesia. Apakah dengan tingkat kelulusan UN 99,2 %, itu berarti mutu pendidikan kita telah mengalami peningkatan ? Tunggu dulu. Jawablah terlebih dahulu pertanyaan berikut : (1) apa itu pendidikan yang bermutu ? (2) bagaimana proses pelaksanaan UN sendiri ?
Pendidikan Kita, Miskin Proses
Hakikat pendidikan adalah proses perubahan perilaku anak didik. Tujuannya adalah terbangunnya sikap dan kepribadian yang unggul, antara lain berakhlak mulia, cerdas, mandiri, kreatif, inovatif, berwawasan luas, dan demokratis.  Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu melakukan proses perubahan tingkah laku anak didik, menuju karakter pribadi yang unggul.
Pertanyaannya, apakah dengan UN, pendidikan kita telah mampu menyelenggarakan proses perubahan tingkah laku secara efektif hingga mencapai pribadi anak didik yang berkarakter unggul ? Justru, yang terjadi adalah sebuah keadaan yang sebaliknya. Praktisi pendidikan, Prof. Dr. Arif Rahman menyatakan bahwa pendidikan kita miskin proses. Adanya UN, makin memperburuk pendidikan yang lebih berorientasi pada hasil dengan cara-cara yang instan.
Siswa, orang tua, dan akhirnya juga telah menyeret guru, kini lebih terfokus pada bagaimana mengejar angka nilai hasil belajar. Bukan lagi proses belajar yang seharusnya lebih dihargai sebagai bagian pembelajaran di sekolah yang jauh lebih penting bagi pengembangan kepribadian siswa. Mengapa hal ini terjadi ? Karena UN telah berhasil mengubah cara berfikir mereka, hingga pendidikan sekolah tak ubahnya seperti lembaga bimbingan belajar yang  sekedar melatih siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan.
Gagal Kembangkan Karakter
Adalah wajar, bila kemudian ada gugatan sebagian masyarakat pada pendidikan sekolah yang dianggap telah gagal dalam mengembangkan karakter atau kepribadian anak didiknya.  Gugatan tersebut mengkritisi moralitas siswa yang dianggap menurun, hingga sikap generasi muda yang dianggap kurang nasionalis, dan kurang bersikap toleran dalam perbedaan yang merupakan benih-benih munculnya sikap radikalisme. Celakanya, Kemendiknas justru memberikan respon yang kurang tepat dengan memasukkan pendidikan karakter dalam materi kurikulum baru, yang amat mungkin hanya akan menambah beban guru dan siswa pada tahun ajaran baru mendatang.  
Mengapa dikatakan kurang tepat ? Karena, pokok masalahnya ada pada pendidikan sekolah yang miskin proses seperti disebut Pak Arif Rahman di atas, bukan pada materi kurikulumnya yang dianggap kurang bermuatan nilai-nilai karakter. Saya sendiri berpendapat, bahwa sebenarnya materi kurikulum tentang pendidikan karakter telah tersedia pada sejumlah mata pelajaran, antara lain PPKn, Pendidikan Agama, IPS (terutama Sejarah) dan lainnya. Namun, masalahnya adalah terletak pada kemampuan guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang efektif dalam membentuk karakter siswanya sesuai dengan materi kurikulum yang telah ada.
Mengapa hal ini bisa terjadi ? Karena proses pembelajaran di sekolah, kini lebih menekankan pada aspek kognitif, yang cenderung bersifat hapalan. Bukan pada aspek afktif dalam pembentukan sikap dan kepribadian siswa. Guru lebih banyak mempraktekkan pembelajaran yang bersifat monolog, bukan dialog, dengan penekanan selanjutnya pada pengerjaan soal-soal latihan. Adanya target kelulusan yang mengacu pada UN, makin menambah kecenderungan terjadinya praktek pembelajaran di sekolah yang anti dialog.
Pribadi siswa yang cerdas dapat diperoleh melalui proses pembelajaran yang menekankan pada terjadinya dialog, merangsang siswa untuk bertanya, dan berusaha untuk memperoleh jawaban berdasarkan alur dan kerangka berfikirnya sendiri.  Sikap toleran dan demokratis, juga hanya akan terbangun dalam proses pembelajaran yang dialogis, yang terbiasa dengan terjadinya perbedaan pendapat saat belajar di kelas.  Akhirnya, internalisasi nilai-nilai moral akan jauh lebih efektif dalam proses pembelajaran yang penuh dengan keteladanan, bukan dengan sekedar materi hapalan yang kemudian diujikan dalam bentuk evaluasi belajar berupa pilihan ganda yang lebih banyak aspek kognitifnya. 
UN, Penyebab Banyak Masalah
Saya berpendapat, justru karena faktor UN lah yang menyebabkan sejumlah masalah pendidikan sekolah di atas dapat terjadi. UN lah yang menyebabkan sekolah, guru, siswa dan orang tua lebih mementingkan hasil dibandingkan proses belajar. UN lah yang menyebabkan pendidikan kita lebih menekankan aspek kognitif, dibandingkan aspek lainnya, terutama aspek afektif. UN lah yang akhirnya mendidik siswa bersikap kurang toleran dan kurang demokratis. UN lah yang mengajarkan bagaimana siswa, juga gurunya terjebak pada moralitas perilaku yang “menghalalkan” cara-cara yang tidak patut dan tidak pantas terjadi dalam meraih kelulusan. UN lah yang membawa pendidikan kita dalam bahaya besar yang sangat serius. 
Masalah UN, di samping karena materi ujian yang lebih pada aspek kognitif, dan berbentuk pilihan ganda, juga terletak pada pelaksanaannya sendiri yang telah terkontaminasi oleh kepentingan gengsi para pejabat pemerintah daerah. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan UN, para Kepala Sekolah di-briefing oleh pejabat Dinas Pendidikan setempat untuk mencapai target kelulusan yang telah ditetapkan. Masalahnya, briefing tersebut dimaknai sebagai instruksi secara tak tertulis kepada para kepala sekolah, kemudian guru untuk melakukan berbagai cara agar target kelulusan dapat tercapai secara memuaskan.
Maka, tidaklah heran kemudian terjadi upaya pengatrolan nilai raport siswa yang dianggap akan memberikan bobot 40 % atas kelulusan siswa. Upaya ini dianggap sebagai bagian dari antisipasi sekolah atas hasil buruk siswa dalam mengikuti UN. Di samping, tentu saja upaya mereka dalam membantu siswanya saat pelaksanaan UN berlangsung. Tentu saja, berbagai upaya yang dilakukan semakin memperlihatkan “kreatifitas” sekolah yang kian “mengagumkan” agar bantuan atas hasil nilai UN siswa dapat dilakukan dengan cara-cara yang tidak mencolok mata.
UN, Gagal Tingkatkan Mutu Pendidikan
Kembali, pada pertanyaan awal : apakah dengan angka 99,2 % kelulusan siswa dalam UN, berarti telah terjadi peningkatan mutu pendidikan sekolah ? Jawabannya : TIDAK ! Alasannya, antara lain adalah :
 (1) UN sama sekali tidak dapat diandalkan dalam mengukur dan menilai mutu pendidikan sekolah, karena UN hanya mengevaluasi lebih banyak pada aspek kognitif yang sangat terbatas pada beberapa mata pelajaran saja;
(2) UN sendiri, justru telah menjadi salah satu penyebab utama  dalam sejunlah masalah pendidikan sekolah, termasuk didalamnya adalah menyuburkan perilaku siswa dan guru yang tidak patut terjadi dalam dunia pendidikan;
(3) UN telah berhasil mengaburkan isu dan masalah pendidikan yang sebenarnya lebih penting dan mendesak, antara lain (a) pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi masyarakat, terutama dalam hal keterjangkauan dalam memperoleh pendidikan yang layak dan bermutu, hingga ke jenjang perguruan tinggi; (b) relevansi pendidikan dengan dunia kerja, atau kebutuhan siswa dalam menghadapi masa depannya kelak; (c) peningkatan mutu dan kemampuan profesional mengajar guru, termasuk peningkatan kesejahteraan guru; (d) pemerataan mutu pendidikan sekolah antar daerah, termasuk di dalamnya peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, serta penyebaran guru bermutu, hingga di pelosok daerah.
UN 2011, UN Terakhir ?
Jadi, apa yang dapat disimpulkan ? Kemendiknas sebaiknya tidak terus berasyik ria, apalagi berbangga ria, dengan angka-angka yang diperoleh dari hasil UN. Mengapa ? Karena, angka-angka itu sesungguhnya tidak banyak berarti apa-apa bagi kita. Karena, angka-angka itu tidak banyak menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi dalam pendidikan sekolah di Indonesia. Jika terlalu dipercaya, maka angka-angka itu akan menipu siapapun, termasuk Kemendiknas sendiri sebagai pihak penanggungjawab dalam pelaksanaan UN. Hal ini dikarenakan UN tidak diselenggarakan secara patut, dan tidak sesuai dengan hakikat  dan tujuan dari pendidikan nasional. Maka, semoga UN 2011 adalah UN terakhir, jangan lagi ada UN pada tahun depan !
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan
Srie
Guru Anti UN (GAUN)
Baca Juga

Komentar