Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Belajarlah dari Kompasiana : Indahnya Demokrasi, Tanpa Perlu Caci Maki

Oleh Sri Endang Susetiawati
Bagaimana pun, saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan Kompasiana. Maka, ketika dua hari lalu saya menyatakan sikap tegas untuk menolak kehadiran iklan rokok menempel di head banner Kompasiana, tak lain adalah bagian dari kecintaan saya tersebut. Bahwa, saya tidak merasa nyaman kalau Kompasiana ternoda oleh sesuatu yang menurut saya sangat prinsip, substantif, strategis dan berdaya jangkau ke depan. Sebuah perasaan, yang sangat mungkin berbeda dirasakan oleh teman-teman lain. Bahkan, boleh jadi lebih banyak teman-teman yang sangat tidak merasakan sama sekali. Tentu dengan berbagai alasan dan pandangan yang tak kalah kuat pula.
Dalam hal ini, saya pun sangat sadar, bahwa sikap dan pendapat terkait dengan hal iklan rorok tersebut akan menuai pro dan kontra dari sesama teman-teman Kompasianers sendiri. Di samping ada yang pro dengan sikap saya, pasti masih banyak lagi pendapat teman-teman yang berbeda atau bahkan berseberangan sama sekali dengan sikap saya tersebut. Saya sangat sadar sepenuhnya, bahwa masih cukup banyak alasan lagi dari teman-teman yang berpendapat bahwa iklan rokok tidak perlu dipermasalahkan, atau bahkan tidak harus diturunkan. Saya pun sangat sadar, bahwa saya sama sekali tidak membenci teman-teman yang kebetulan masih merokok, atau pun yang menjadi perokok berat.
Itulah, mengapa dalam postingan protes saya terhadap Kompasiana, secara sengaja saya tidak pilih bentuk tulisan wacana, atau bahkan bukan berupa ancaman sama sekali. Saya hanya sampaikan hak saya untuk tidak setuju terhadap keputusan Kompasiana memasang iklan rokok. Sama halnya, sebagaimana hak Admin memasang iklan rokok, dan sama pula dengan hak teman-teman Kompasiana yang pro atau kontra terhadap iklan tersebut. Selanjutnya, saya tinggalkan posting saya, dengan  harapan, di suatu waktu nanti, yang saya perkirakan akan berlangsung sekurangnya selama satu bulan lagi, saya akan kembali menulis di Kompasiana kembali.
Mengapa dengan sengaja saya tinggalkan postingan itu, sambil sesekali saja saya baca-baca komentar dari teman-teman Kompasianers ? Tentu, karena saya amat sadar bahwa apa artinya diri saya, hanya seorang Kompasianers yang sangat tidak berarti bila dibadingkan dengan puluhan ribu teman Kompasianers lainnya, ditambah ratusan Kompasianers baru yang terus masuk. Tentu, dalam hal ini, konteksnya bukan lagi soal wacana, namun sudah pada pengambilan sikap masing-masing. Saya yakin sepenuhnya, bahwa pada tiap diri teman-teman Kompasiana telah ada sikap dan pandangan tersendiri yang telah cukup mapan terkait soal iklan rokok tersebut.
Itulah, mengapa saya menghindari diri untuk mau menanggapi, apalagi untuk berdiskusi secara terbuka. Menurut saya, tanggapan atau diskusi dalam bentuk apapun, hanya akan menimbulkan jurang yang kian lebar di antara perbedaan sikap dan pendapat itu. Bahkan, amat mungkin, justru akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam pertemanan, berbuah sikap saling caci maki, atau sinisme di antara teman-teman. Sebuah kondisi yang amat ingin saya hindari. Sekali lagi, ini pun merupakan sebuah pilihan sikap saya yang amat mungkin berbeda dengan teman-teman semua. Sepenuhnya, saya sangat hormati atas perbedaan sikap itu.
Adalah perlu untuk disampaikan, bahwa reaksi dari banyak teman-teman, justru sangat jauh dari apa yang saya perkirakan sebelumnya. Bahwa, ternyata soal iklan rokok telah cukup memperoleh reaksi yang sangat luar biasa, bahkan telah mengambil alih isu paling aktual di Kompasiana, khususnya apa yang terjadi selama hari Sabtu kemarin. Secara jujur, bahkan saya sempat merasa bersalah. Mengapa, sikap saya harus diposting segala, dengan seolah-olah berlagak sok “gagah”, dan sok merasa “suci” ? Mengapa, tidak cukup dengan mengambil sikap secara diam-diam saja, tidak menulis posting lagi, tanpa perlu dinyatakan melalui postingan tersendiri ?
Saya tidak dapat memperoleh jawaban secara memuaskan atas sejumlah pertanyaan di atas, kecuali satu hal saja. Bahwa amat mungkin karena saya sudah terlanjur cinta dengan Kompasiana, sebagai salah satu media sosial yang menurut saya akan turut berperan penting dalam membangun sebuah peradaban bangsa. Berbagai postingan teman-teman yang sangat menarik, beragam komentar dan saling sapa antar teman-teman yang cukup memikat adalah mungkin jawaban yang paling jujur untuk menjelaskan itu semua. Bahwa Kompasiana memang berbeda dibandingkan dengan jenis media sosial online lainnya.
Secara spontan saya membayangkan, andai saja negeri ini, terutama para elit politik dan para pejabat, mau belajar dari Kompasiana yang selalu sharing, connecting antar sesama penghuninya, juga bagi mereka yang sekedar sebagai silent reader saja. Belajar dari Kompasiana, yang telah berhasil mempertunjukkan sebuah praktek demokrasi yang sehat dan indah. Bahwa perbedaan sikap dan pendapat tidak harus memecah belah pertemanan di antara kita. Bahwa perbedaan sikap dan pandangan tidak perlu dan tidak harus disertai dengan adanya saling caci maki,  menghina secara pribadi, atau bahkan saling mempertontonkan kekuatan massa dengan saling berunjuk rasa, yang akhirnya akan merugikan banyak pihak yang lainnya.
Akhirnya, saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tinginya kepada semua teman-teman yang telah bersikap pro dan kontra terkait isu iklan rokok di Kompasiana. Sekaligus, saya sampaikan permohonan maaf, bila ada kata-kata saya dalam postingan terdahulu dan sekarang, yang dianggap telah menyinggung perasaan atau bahkan telah melukai hati teman-teman.  Secara khusus, saya berharap pula agar  postingan ini dianggap sebagai jawaban atas semua komentar  teman-teman yang pernah mampir di postingan saya sebelumnya. Saya sangat menghargai atas semua tanggapan atau komentar teman-teman semuanya, baik yang pro, kontra atau abstain atas sikap saya.
Terakhir, kepada pihak Admin dan manajemen Kompasiana, saya sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas keputusan yang telah diambil dengan begitu relatif cepat dan sigap terkait iklan rokok. Tentu, jika keputusan itu benar-benar telah menghapus iklan rokok dari wajah Kompasiana, maka manajemen Admin sangat beresiko untuk merugi. Namun, justru di situlah saya mengambil sikap berdiri, lalu memberikan aplaus yang panjang, sebuah sikap yang sangat menghargai atas sikap dan keputusan yang telah diambil oleh manajemen Kompasiana yang sangat tepat dan bijak. Tentu, dengan segenap iringan do’a, agar Kompasiana segera dapat memperoleh pengganti iklan yang setimpal. Saya sangat percaya, bahwa kebaikan akan menyertai kita semua. Amiin.....

Sebuah kemenangan milik kita bersama .....
Bravo Kompasiana !
I Love ......Kompasianers !
Salam Persahabatan
Srie
(Satu dari puluhan ribu pecinta Kompasiana)
Baca Juga

Komentar