Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Kasus Nazarudin : Blunder Politik Demokrat, Perahu Yang Sedang Bocor


Oleh Srie
Suka atau tidak suka kasus M. Nazarudin membuka kembali rivalitas internal antar faksi di tubuh Partai Demokrat (PD) secara terbuka. Ibarat sebuah pendulum yang menggantung di ujung kaitan tali SBY, maka besi pendulum itu kini menjauh dari faksi (kubu) Anas Urbaningrum (AU). Lalu, ke manakah besi pendulum itu kembali mengarah ?
Yang jelas,  pendulum itu bergerak ke arah faksi anti AU. Faksionalisme internal PD terjadi sejak peristiwa Kongres II PD di Padalarang, Bandung Barat, setahun yang lalu. Awalnya, ada dua faksi besar yang muncul, yaitu faksi pendukung Hadi Utomo (HU), Ketua Umum PD sebelum AU dan faksi yang anti pendukung HU. Faksi pendukung HU, adalah mereka yang memperoleh berbagai keuntungan selama kepemimpinan HU di PD, baik keuntungan politis maupun ekonomis. Faksi ini berporos utama pada lingkaran keluarga besar Cikeas, seperti HU, adik ipar SBY, Agus Hermanto, adik HU, Edhie Baskoro, anak SBY, Ani Yudhoyono sendiri, serta politisi partai yang berasal dari militer. Mereka ini, biasa disebut sebagai faksi Cikeas.
Sementara itu, faksi anti pendukung HU adalah mereka yang telah merasa dirugikan oleh kepemimpinan HU, baik secara lansung atau tidak langsung, serta mereka yang relatif  berfikir lebih maju terkait pengembangan PD ke depan. Para pimpinan partai ditingkat daerah yang kecewa oleh kebijakan DPP saat itu, seperti pemecatan yang sepihak terhadap Ketua DPC atau DPD, dan penerapan praktek money politik yang kasar dalam kebijakan pimpinan partai saat Pilkada atau Pemilu legislatif adalah para pendukung kuat AU. Ada satu lagi, adalah mereka yang merasa kurang suka atas keberpihakan yang dianggap berlebihan dari Edhie Baskoro atau Ibas saat mendukung Andi Mallarangeng (AM) untuk menjadi Ketum PD.
Faksi anti pendukung HU (kelompok Cikeas), bersumbu pada sosok AU, yang didukung oleh jaringan alumni HMI, para politisi PD yang kecewa atas kepemimpinan HU,  dan kalangan terpelajar lain yang memiliki visi partai yang lebih maju. Nazarudin kemudian direkrut sebagai Bendahara PD, diduga adalah lebih karena hubungan sesama alumni HMI juga. Sebuah pilihan AU, yang kini telah membuat blunder bagi AU sendiri sebagai Ketum PD.
 Adalah menarik, bahwa beberapa saat menjelang pemilihan Ketum PD, Marzuki Alie (MA) memberikan kejutan di Kongres, dengan menjadi kuda hitam, yang ternyata mengalahkan AM pada voting pemilihan putaran pertama. MA, adalah mantan Sekjen era HU, yang secara visi cukup berbeda dengan para pendukung HU. Pendukung MA, adalah mereka yang berseberangan dengan pendukung HU, dan mereka yang menganggap kelompoknya lebih senior aktif di partai dibandingkan dengan kubu AU, yang dianggap masih sebagai pendatang baru.
Inilah yang kemudian membuat bingung kubu Cikeas, ketika jagonya AM ternyata kalah telak pada voting putaran pertama Kongres. Sebuah kebingungan, yang kemudian mengambil sikap bermain aman pada putaran kedua voting pemilihan Ketum di Kongres PD tahun lalu. Yakni, AM secara terang-terangan mendukung MA, sedangkan Ibas “seolah” memberi dukungan ke AU.  Akhirnya, Ibas memperoleh jatah sebagai Sekjen dari Ketum terpilih, AU.
Sumber informasi yang dapat dipercaya, menyebutkan bahwa selain isu-isu di atas, sebenarnya ada isu lain yang justru lebih besar dan signifikan pengaruhnya atas dinamika internal antar elit faksi di tubuh PD. Yaitu, isu Capres 2014, di mana saat itu ada polarisasi dukungan, antara mereka yang berharap ibu Ani Yudhoyono (AY) yang disokong oleh kubu Cikeas, dengan AU yang jelas didukung oleh pendukungnya sendiri, plus pihak luar yang merasa tidak suka terhadap kepemimpinan SBY sebagai Presiden RI.
Itulah mengapa, di hari H Kongres, nama lain muncul sebagai calon Ketum PD, ketika AM ternyata dianggap tidak lagi laku dipasarkan pada pemilik suara Kongres, khsususnya para Ketua DPC. Nama itu, adalah Joko Suyanto (Menkopolhukam), yang diharapkan akan mampu membendung MA atau AU, sehingga PD tetap dipegang faksi Cikeas. Bukan hanya itu, justru yang terpenting, pengusungan Joko Suyanto adalah dimaksudkan agar mengamankan jatah tiket bagi AY menuju calon RI-1 pada Pilpres 2014 nanti.
Upaya untuk memaksakan Joko Suyanto saat itu, ternyata tidak membawa hasil. Maka, AU terpilih menjadi Ketum PD periode 2010-2015, dengan motivasi yang tinggi dari para pendukungnya, bahwa AU adalah bakal calon Presiden RI pada Pemilu 2014, nanti. Lalu, bagaimana dengan faksi Cikeas ? Tentu, mereka tidak tinggal diam.
Terpilihnya AU, ternyata berhasil dikunci oleh mereka dengan membuat struktur baru partai, yaitu Majelis Tinggi Partai (MTP) yang Ketuanya adalah Ketua Dewan Pembina (SBY), wakilnya Ketum PD (AU), dan anggota lainnya dipilih oleh Ketua MTP. Dengan struktur ini, maka AU sebenarnya tak lain adalah hanya Ketua Pelaksana Harian saja di PD, atau Wakil Ketum sesungguhnya, di bawah SBY. Bahkan, bila dianggap perlu Ketua MTP berhak meminta penyelenggaraan Kongres Luar Biasa (KLB) untuk mengganti Ketum PD yang terpilih melalui Kongres reguler. Ketua MTP, sama nilainya dengan syarat 2/3 suara DPC an DPD agar dapat diadakan KLB.
 Kembali pada kasus Nazarudin, pertanyaannya adalah bagaimana masa depan AU ? Menurut saya, peluang AU untuk menjadi calon RI-1 pada Pemilu 2014 mendatang, hampir telah tertutup dengan kasus Nazarudin, yang merupakan salah seorang pilihan dan kepercayaan AU sendiri. Bahkan, tidaklah berlebihan, jika ada pihak yang mengatakan bahwa masih tetap bertahannya AU sebagai Ketum PD secara formal hingga 2015 (hingga Kongres berikutnya) merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Proses pemilihan Ketua DPC dan Ketua DPD baru di daerah-daerah adalah ujian AU pula untuk dapat bertahan sebagai Ketum.  
Lantas, bukankah SBY secara eksplisit telah menyatakan bahwa keluarganya (khususnya Ibu Ani) tidak berminat lagi untuk ikut bersaing dalam Pilpres 2014 mendatang ? Adalah patut dibuktikan, mengingat tiga hal : (1) sejak awal nama AY sudah disosialisasikan sebagai pengganti SBY pada lingkup internal PD atau para pendukung SBY lainnya. (2) jika bukan AY, alternatif lainnya dari lingkungan internal PD, dianggap belum sebanding popularitasnya dengan AY, sementara AU dianggap sudah tercoreng oleh kasus Nazarudin.
(3) Faktanya, politisi PD masih bergantung atas popularitas SBY, dan nama AY dianggap memenuhi syarat agar SBY dapat all out lagi pada Pilpres 2014 mendatang. (4) “Keengganan” SBY atas isu AY sebagai Capres 2014 dapat disiasati oleh para pendukungnya dengan melakukan mobilisasi dukungan ala BULTEK (kebulatan tekad) Orde Baru, bahwa Capres AY adalah “murni” kehendak “arus bawah” dan “rakyat banyak”. Kecuali, jika SBY akhirnya memilih adik iparnya yang sekarang menjabat sebagai Pangkostrad untuk maju dalam Pilpres 2014, maka peluang AY telah benar-benar tiada.
Apapun pilihannya, atau dinamika yang berkembang kemudian, yang jelas amat mungkin pula bahwa kasus Nazarudin, pada akhirnya dapat menyeret Demokrat dalam blunder politik yang merugikan seluruh faksi yang ada, termasuk bagi SBY sendiri yang kini citranya kian terpuruk. Ibaratnya, mereka tengah bertarung di internal partai untuk memperebutkan sebuah perahu bocor yang sekarang oleng, dan bisa jadi akan tenggelam saat menjelang 2014  nanti. Pendulum itu terus bergerak, bergeser kembali ke faksi Cikeas, namun apakah gerakan itu masih cukup mampu untuk mempertahankan kemenangan Demokrat pada 2014 nanti ? Kita lihat saja nanti !
Bagaimana dengan pendapat Anda ? *** [Srie]
Baca Juga

Komentar

  1. Tidak seperti SBY, latar belakang AU patut diperhitungkan karena sejarahnya (HMI)...

    Mungkin AU tidak akan bertahan lama di PD, tapi menggusur AU sekarang, sama saja SBY dan faksinya mati konyol. Kalau pun ini terjadi, nol besar siap menanti PD di 2014...

    BalasHapus
  2. Bg SBY, masalahnya bukan pd PD 2014, tp pd para pangeran-nya. Kehadiran AU, bs jd penghalang serius bg keberlanjutan kekuasaan trah SBY.

    Tampaknya, AU pun tdk cukup hny bermodal HMI, krn toh alumni HMI pun ada dimana2, trmasuk ada di kubu SBY, bukan ? jaringan HMI tdk akan bs dijadikan sbg kesatuan politik. Kader HMI hny akan efektif mjd dirinya sndiri, mjd para jagon di "wilayah" perjuangannya masing2. Kalahnya JK oleh SBY, adalah slh satu bukti, tdk efektifnya jaringan HMI sbg kesatuan politik.

    Tks. salam

    BalasHapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).