Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Kisah Curang UN : Siswa SD Dipaksa Ikuti Kesepakatan Konyol Hingga Stres

  JAKARTA (Okezone.com)- Sistem pendidikan di Indonesia kembali membawa korban. Target kelulusan dalam ujian nasional yang ditempatkan sebagai evaluasi mutlak mutu peserta didik maupun penyelenggara pendidikan, berujung pada praktik-praktik kecurangan. Ironisnya, kecurangan itu terjadi di tingkat sekolah dasar.
 
Salah seorang wali murid sekolah dasar negeri buka suara dan melapor kepada Komisi Nasional Perlindungan Anak ihwal kasus ini. Pasalnya, sang anak yang berinisial MAB, harus menanggung konsekuensi negatif secara psikologis, akibat praktik kecurangan dalam ujian nasional yang diberlakukan oleh SDN 06 Petang Pesanggrahan, Jakarta Selatan, tempat ia belajar.

”Usai menjalani ujian nasional di hari pertama, anak saya pulang dalam kondisi tidak seperti biasanya, dia lebih banyak diam, saat saya tanya kenapa, ia tidak mau menjelaskan, tiba-tiba dia mengeluhkan sakit di dadanya," ungkap Irma Lubis, ibu kandung MAB dalam keterangannya kepada sejumlah wartawan di Komnas Perlindungan Anak, Sabtu (28/5/2011).

"Setelah saya paksa, dia mengaku telah dipaksa oleh guru-guru di sekolahnya untuk membuat kesepakatan tolol tentang ujian nasional,” imbuhnya dengan mata berkaca-kaa.

Berdasarkan keterangan sang anak, Irma menceritakan, di sekolah MAB, anak-anak yang punya kemampuan intelektual baik dikumpulkan dan dibagi dalam kelompok-kelompok oleh para guru di sekolah tersebut. Anak-anak ini kemudian diajak bersepakat untuk mau memberikan jawaban kepada teman-teman mereka saat ujian nasional berlangsung, melalui media telepon genggam.

Kesepakatan ini tidak boleh sampai bocor kepada siapa pun, termasuk kepada orangtua mereka sendiri. Agar tampak resmi, kesepakatan ini dituangkan dalam sebuah kertas dan ditandatangani oleh anak-anak.

”Anak saya enggak kuat. Dia tidak mau ikut kesepakatan itu. Waktu dia menolak mengoper jawaban pada temannya, dia diingatkan kembali oleh temannya akan kesepakatan itu,” katanya. ”Para pengawas pun kata dia hanya diam saja dan membiarkan teman-temannya menggunakan handphone.”

Atas tindakan pihak sekolah ini, Irma mengaku telah menempuh jalur-jalur yang semestinya. Dia telah mendatangi pihak sekolah dan meminta pengakuan atas adanya kesepakatan tersebut. Dia juga telah mengantarkan puteranya, MAB, untuk mencabut kesepakatan yang telah dibuat.

Namun, hingga hari ketiga ujian nasional berlangsung, menurutnya tidak ada itikad baik dari pihak sekolah untuk mengakui tindak kecurangan ini di muka umum. Hanya beberapa guru yang ditemuinya, kata Irma, mau mengakui sambil menangis.

”Hanya beberapa guru di hari ketiga akhirnya mengakui dan menangis, namun mereka tidak menyangka akan sampai sejauh ini, saya kecewa tidak ada itikad baik dari pihak sekolah, ujar Irma.

”Kepala sekolah juga tidak bisa ditemui. Yang saya sedih, kesepakatan jahat itu menjadi begitu kuat melekat di ingatan anak saya,” katanya lagi.

(abe)


Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak  (Komnas PA) Aries Merdeka Sirait menerima aduan dari orantua murid terkait kecurangan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Dasar (SD).

Orangtua siswa SDN 06 Petang, Pesanggarahan, Jakarta Selatan, MAB, akhirnya melaporkan kasus pemaksaan menyebarkan contekan soal UN ke Komnas PA, hari ini.

"Komnas PA menyimpulkan bahwa telah terjadi pemufakatan jahat, untuk melakukan kebohongan dan merestui kecurangan. Anaknya jadi bagian menandatangani kesepakatan tersebut, bersamaan dengan itu ada SMS-SMS yang berisi jawaban-jawaban yang harus diedarkan," papar Aries dalam jumpa pers di Kantor Komnas PA, Jakarta, Sabtu (28/5/2011). 

Menurut dia, seharusnya anak dalam tahap perkembangan mendapat contoh yang baik. "Ini bukan soal menghukum, Komnas akan menyampaikan itu ke Wakil Menteri Pendidikan, Fasli Jalal berjanji menerima laporan itu. Kalau tingkat SD ke kepala daerah sebagai penanggung jawabnya. Jadi gubernur juga disampaikan," terangnya.

Aries menjelaskan, kejadian ini merupakan pelanggaran hak anak. "Dalam UU Sisdiknas, tidak ada UN yang ada adalah evaluasi. Kami akan mengawal terus kasus ini," katanya.
(ram)
Baca Juga

Komentar

  1. heheheheh...........bu Sri, emangnya cuman di sd yang gitu?
    emhhh, dunia penuh dengan DUSTA BU. Silahkan anda research total.
    kalau mau bener-bener meningkatkan kwalitas:nilai jangan dijadikan STANDAR KELULUSAN tapi NILAI HANYA MENJADI BACAAN KWALITAS PENGAJARAN ANAK TERSEBUT.jadi, kalo memang guru, wali siswa dan siswa tidak ada yang siap tidak lulus, ya, luluskan aja semua. hanya kwalitas hasil pengajaran bisa dilihat dari nilai. gitu setuju kan? jika begitu, Insya Allah kejujuran sedikit meningkat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).