Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Korupsi, Tetaplah Korupsi !


 Oleh Sri Endang Susetiawati
Bukannya mereka tidak tahu, bahwa ada keganjilan dari harta yang dimilikinya. Sebutlah nama samaran dia, Abang. Pria paruh baya yang dulu pernah menjabat sebagai pimpinan Kantor Pajak di kawasan elit Jakarta Pusat. Setiap hari Jum’at hingga Minggu, biasa berkunjung di rumah kampung miliknya, di sebuah daerah pegunungan yang berhawa sejuk.
Apa yang dilakukannya saat berada di rumah itu ? Ia selalu kebanjiran tamu dari berbagai kalangan. Ada yang sekedar datang untuk setor muka. Ada yang datang, memang  berharap bantuan uang atau sekedar oleh-oleh makanan atau pakaian dari Jakarta. Makanya, tak heran bila setiap hari itu, rumahnya pasti dipenuhi ratusan warga, baik warga sekitar atau warga di luar daerah kecamatan yang datang cukup jauh.
Abang, memang suka mengadakan acara pengajian, juga suka bagi-bagi uang. Abang, amat dikenal oleh warga di sekitar, sebagai sosok yang ramah dan suka membantu warga yang memerlukan. Entah itu, warga perlu uang untuk istrinya melahirkan, anak-anak sekolah, atau orang yang sakit, dan macam-macam. Sepertinya, uangnya tidak pernah ada habis-habisnya. Luar biasa, sekaligus menimbukan tanda tanya, pun bagi mereka yang menerima uluran bantuannya.
Saya jadi teringat lagi dengan seorang pejabat yang telah divonis korupsi, kemudian menjalani hukuman di sebuah Lapas di Bandung. Beberapa saat sebelum keluar Lapas, sebagai tanda bebas bersyarat, toh masih banyak juga orang yang dengan sengaja datang untuk menyambutnya di muka Lapas. Tentu, yang dimaksud adalah mereka yang sebenarnya tidak memiliki kaitan keluarga dengan sang narapidana korupsi itu. Bahkan, beberapa hari sebelumnya, ada pula yang mengajak untuk datang menyambut bak seorang pahlawan yang pulang dari medan perang.  
Masih ingat bukan, ketika sang narapidana korupsi bebas bersyarat, keluar dari Lapas, lalu beberapa hari kemudian mengadakan syukuran di sebuah kampung halaman ? Iya, ini adalah nyata. Bahkan, banyak warga yang menyambutnya begitu antusias, termasuk banyak berharap agar harta sang mantan penghuni Lapas itu dapat membantu warga, atau berinvestasi di daerahnya. Tentu saja, ia sangat bangga dan berhanji akan menginvestasikan hartanya demi kepentingan warga dan pengembangan ekonomi daerah.
Ada lagi, seorang pejabat di BUMN yang lebih berterus terang. Katanya, “Saya akui, memang saya tidak bersih-bersih amat. Ada lah, uang sana sini, yang tidak jelas itu. Tapi, saya berkeyakinan, daripada uang itu diambil orang yang tidak jelas, kan lebih baik diambil oleh saya saja, yang sebagiannya saya gunakan untuk membantu orang yang membutuhkan, atau menyumbang untuk kepentingan ibadah umat”. Hebat, sepertinya ada logika lain, bahwa kalaupun ada kesalahan karena korupsi, toh akan tertutupi oleh amal yang dilakukannya.
Oh....Mungkin, ada persamaannya dalam menggambarkan bagaimana hubungan Calon Kepala Daerah dengan para pendukung-pendukungnya dalam proses Pilkada. Termasuk, bagaimana hubungan mereka, di saat sang Calon telah benar-benar menjabat sebagai Bupati / Walikota, atau Gubernur. Bukankah, ada hubungan simbiosis mutualisma secara politik-ekonomi yang saling menguntungkan antar keduanya?
Entahlah, saya tidak mau untuk menuduh, apalagi hendak menghakimi mereka. Hanya saja, yang saya tahu : korupsi... tetaplah korupsi !
Bagaimana dengan pendapat Anda ?
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan
Srie
Baca Juga

Komentar