Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Pancasila Dalam Bahaya ? Mimpi Di Siang Bolong !


Oleh Sri Endang Susetiawati
Isu mengenai adanya terorisme dan gerakan NII, tampaknya telah agak melenceng dari apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa ? Karena, isu terorisme dan gerakan NII secara langsung atau tidak langsung telah menyudutkan kembali posisi umat Islam, sebagai bagian warga negara yang telah ikut melahirkan dan merawat Indonesia.
Sebagai sebuah fenomena kekerasan dan anti kemanusiaan, maka fenomena terorisme atau pada tahap tertentu gerakan NII dewasa ini, telah melahirkan isu radikalisme atau fundamentalisme. Tentu, kita perlu menghadapinya dan mengatasinya dengan sebaik-baiknya. Namun, ketika isu radikalisme dan fundamentalisme langsung dikaitkan dengan isu bahaya Pancasila, adalah sebuah isu yang terlalu dilebih-lebihkan. Pada sisi lain, isu ini kemudian dikaitkan pula secara sembarangan dengan ajaran agama Islam.
Benarkah Pancasila dalam bahaya ? Jawabnya : Hanya mereka yang sedang berilusi yang akan mengatakan bahwa Pancasila dalam bahaya, apalagi dikatakan dalam keadaan bahaya yang serius. Mengapa ? Karena, bagi sebagian umat Islam terbesar di Indonesia, Pancasila sudah selesai dan final, diterima sebagai dasar negara. Ingatlah Nahdlatul Ulama (NU), ormas terbesar umat Islam di dunia, yang sejak Indonesia lahir sudah memfatwakan bahwa Pancasila dan NKRI adalah sudah final bagi Indonesia.
Begitu pula, dengan Muhammadiyah, ormas terbesar kedua  umat Islam, sebagaimana tergambar dalam Disertasi Doktoral Buya Syafi’i Ma’arif tentang Islam dan Masalah Kenegaraan (Pancasila). Lihatlah, bagaimana Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) organisasi mahasiswa Islam di Indonesia yang tertua dan terbesar hingga saat ini, yang mencantumkan mempertahankan NKRI sebagai salah satu tujuan pendiriannya.   Tentu, masih banyak lagi ormas dan parpol yang berbendera Islam yang berada dalam posisi yang sama, antara lain Persis. Al-Wasliyyah, PMII,IMM,KAMMI, PAN,PKB,PPP,PAN,PKS dan lain-lain. Apalagi PDIP, Golkar dan Demokrat, serta organisasi sayapnya masing-masing.
Pertanyaannya, kelompok mana lagi yang dianggap membahayakan Pancasila, ketika seluruh Parpol dan Ormas (Islam) telah menganggap Pancasila sebagai sesuatu yang sudah final bagi Indonesia ? Bahaya manakah yang mengancam Pancasila ? Apakah bahaya. seperti dari kelompoknya M. Syarif, teroris yang melakukan aksi bom bunuh diri di masjid Mapolresta Cirebon bulan lalu ?.  Ataukah kelompok NII KW 9 yang konon diduga dipimpin Panji Gumilang yang bermarkas di Al Zaytun Indramayu, Jawa Barat ? Kalau kelompok-kelompok ini dianggap sebagai telah sangat membahayakan Pancasila, jelas merupakan MIMPI DI SIANG BOLONG !
Mengapa ? Mudah dapat dijelaskan, bahwa dalam sejarah gerakan yang akhirnya menyudutkan umat Islam, tak jarang diiringi dengan rekayasa atau upaya pembiaran oleh kelompok kepentingan politik tertentu, baik pada tingkat nasional atau internasional. Masih ingat, bagaimana kasus pengeboman Borobudur oleh kelompok Imran, Pembajakan pesawat Garuda Woyla, jelas tidak steril dari rekayasa dan campur tangan intelijen yang bermaksud mendeskreditkan umat Islam. Siapa M. Syarif ? Betul, bahwa dia terkait dengan jaringan teroris. Namun, fakta bahwa dia selama ini dipelihara oleh seorang polisi (intel ?) Polresta Cirebon adalah sulit untuk dapat dibantah. Begitu pula, dengan gerakan NII yang terkesan dibiarkan saja. Bukankah, menurut pengakuan mereka sendiri, pemerintah telah memfasilitasi kelompok ini dengan menjadi agen penjualan BBM, dari mata rantai Pertamina ?
Mengapa rekayasa dan pembiaran itu selalu terus terjadi ? Jelas, karena ingin menyudutkan umat Islam di Indonesia. Isu yang dimunculkan adalah radikalisme, fundamentalisme dan seterusnya. Lalu, diisukan bahwa Pancasila dalam bahaya, antara lain karena kian menipisnya sikap toleransi di masyarakat. Celakanya, masalah isu toleransi selalu dikaitkan secara gegabah dengan ajaran agama (Islam). Padahal, amat mungkin bahwa menurunnya sikap toleransi justru karena dua hal : (1) sistem pendidikan di sekolah, antara lain karena proses belajar mengajar dan karena sistem evaluasi belajar yang tidak mampu mengembangkan sikap toleran, termasuk UN yang justru menyuburkan sikap tidak toleran; (2) contoh konkret yang dipertontonkan para elit politik yang memang suka bersikap tidak toleran dalam hal perbedaan pendapat. Penjelasan soal tersebut, dapat di klik di sini : Toleransi Berkurang, PMP Diusulkan Kembali Diajarkan.
Andai, memang benar kelompok radikal itu ada, dan sedang bergerak. Saya berpendapat, bahwa mereka belum cukup signifikan untuk sekedar membahayakan Pancasila sebaga dasar negara. Baik dalam konteks jumlah, ataupun efektifitasnya dalam meraih simpati pada umat Islam sendiri. Melalui jalur apakah, mereka yang hendak mengganti Pancasila ? Melalui Pemilu ? Melalui Kudeta ? Atau Melalui revolusi berdarah-darah ? Saya anggap semua jalur itu, berdasarkan nalar yang jernih, hampir tidak ada peluang sama sekali bagi mereka untuk mengganti Pancasila.
Jadi, marilah kita atasi soal terorisme atau radikalisasi di sebagian kecil masyarakat kita. Namun, jangan langsung gegabah untuk mengaitkan dengan isu terancamnya Pancasila sebagai dasar negara. Apalagi, dengan secara langsung atau tidak langsung telah berakibat pada penyudutan posisi umat Islam. Percayalah, Pancasila Tetap Aman Dalam Lindungan Umat Islam di Indonesia.
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan
Srie
Baca Juga

Komentar