Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Pendidikan Kita Dalam Bahaya Besar ! Mengapa ?


Oleh Sri Endang Susetiawati
Entah, hendak berkata apalagi Pak Mendiknas tentang dunia pendidikan kita, khususnya terkait penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) tahun ini. Sudah jelas, bahwa ada masalah besar, bahkan bisa disebut bahaya besar mengancam dunia pendidikan dalam arti yang sebenarnya. Peningkatan mutu pendidikan secara nasional itu penting, namun haruskah mengorbankan sendi-sendi luhur dunia pendidikan ?
Haruskah Pak Mendiknas masih bersikeras untuk berkata : “UN itu masih murni, hanya sebagian kecil saja ada penyimpangan. Laporkan ke posko Kemendiknas atau jika ada tindak pidana, maka laporkan saja ke pihak kepolisian”
Pak Menteri, saya berharap bapak tidak sedang berpura-pura tidak tahu. Tapi, memang benar-benar belum tahu tentang apa yang sesungguhnya terjadi selama penyelenggaraan UN berlangsung. Lantas, apa yang sebaiknya bapak lakukan ? Menurut saya, yang jelas jangan lagi mengumbar pernyataan penyangkalan. Percayalah Pak Menteri, itu sudah hampir tidak ada gunanya bagi kami, bagi pelaku sesungguhnya di sekolah, dan masyarakat yang anak-anaknya bersekolah.
Hal terbaik yang perlu dilakukan oleh Pak Menteri atau jajaran Kemendiknas adalah melakukan verifikasi faktual, apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan ? Kalau cakupannya terlalu luas dan ingin memperoleh hasil yang segera, caranya sederhana saja. Lakukan verifikasi atas semua informasi, bukti-bukti dan testimoni dari mereka yang terlibat yang telah diungkap di Kompasiana ini. Mulailah dari sini, untuk sekedar memperoleh bukti atau kesaksian awal tentang penyimpangan atau kecurangaan pelaksanaan UN.
Saya yakin, teman-teman Kompasianers akan bersedia untuk membantu mengurai benang kusut ini. Tidak ada kepentingan apapun, Tidak ada niat untuk memfitnah, kecuali murni demi perbaikan pendidikan nasional yang bermutu dan jujur.  Bukan sebuah pendidikan yang penuh dengan keculasan, meski atas nama demi kepentingan peningkatan mutu pendidikan nasional. Yang penting, jangan kemudian berubah, kami nanti menjadi pihak yang dijadikan tersangka
Lalu, apa bahaya terbesar bagi dunia pendidikan saat ini ? Adalah pendidikan tidak lagi mampu menegakkan sendi-sendi luhur tentang kejujuran, tentang kebenaran, tentang kemuliaan. Bukankah hal ini merupakan hakikat dari pendidikan ? Namun, kini pendidikan telah terkotori bahkan telah terkooptasi oleh kepentingan lain di luar nilai-nilai pendidikan, seperti demi sebuah gengsi, demi sebuah prestasi institusi yang semu, demi nama baik sebuah daerah, dan seterusnya.  Apa bahayanya ? Sendi-sendi pendidikan yang luhur itu amat mungkin telah terganti oleh nilai-nilai permisivisme, pragmatisme, dan  manipulasi birokrasi yang berlangsung secara sistematis dan struktural.
Menurut saya, ini jauh lebih berbahaya, bila dibandingkan dengan prestasi siswa yang nilainya kurang dari standar yang diharapkan oleh Mendiknas. Tak perlu lagi, bapak menantang masyarakat untuk menunjukkan bukti hitam di atas putih mengenai adanya kecurangan tersebut. Namun, percayalah Pak Menteri. Bahwa proses ketidaklaziman pada dunia pendidikan itu dilakukan berdasarkan instruksi terselubung, cuma sekedar lisan. Namun, konsekuensinya bagi mereka yang masih berani membantah, sudah jelas terbukti. Tanyakan ke salah satu atau beberapa anggota Kompasiana di sini. Insya Allah, mereka akan senang hati untuk dapat membantu Bapak atau aparat Kemendiknas.
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan

Srie


Baca Juga

Komentar