Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Penyakit SMS


Oleh Sri Endang Susetiawati
Tentu, kita semua sudah sangat mengenalnya. Namanya Muhammad Jusuf Kalla atau biasa disapa dengan Pak JK. Mantan Wakil Presiden (Wapres) RI pada pemerintahan SBY Jilid Ke-1 ini kerap memberikan pernyataan yang spontan kepada wartawan. Salah satunya, pernyataan yang paling saya suka adalah tentang penyakit SMS.
Apa itu SMS ? SMS adalah penyakit yang bersifat psikis non medis yang menyerang  seseorang. Yaitu Susah Melihat orang lain Senang atau Senang Melihat orang lain Susah. Apakah Anda pernah mengalaminya ?  Semoga saja tidak. Ataukah sekedar pernah melihat orang lain yang terkena penyakit SMS ? Amat mungkin, Anda pernah menemui salah satu di antaranya. Karena, jenis penyakit ini tidak sedikit melanda sebagian masyarakat kita.
Perhatikanlah, bagaimana reaksi di antara teman saat teman yang lainnya memperoleh kebahagiaan atau sebuah keberuntungan. Misalnya, sang teman memperoleh sebuah penghargaan atas sebuah prestasi yang pernah dilakukannya, atau sekedar mendapatkan kabar gembira anaknya sedang berulang tahun. Apa reaksi yang biasanya terjadi ? Begitu sulit, di antara mereka yang terkena penyakit SMS itu, hanya sekedar untuk mengucapkan selamat, mengajukan sedikit pertanyaan sebagai bentuk perhatian,  atau sekedar berbasa-basi ikut merasakan senang atas kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh salah seorang temannya.
Contoh paling kentara adalah saat sang teman menerima pujian dari rekan lainnya, di depan orang yang berpenyakit SMS. Apa reaksinya ? Huh, berat sekali rasanya untuk sekedar mengiyakan saja. Biarlah teman yang menerima pujian itu menikmati kesenangannya saat dipuji. Apa yang biasanya terjadi ? Tidak jarang pula, terkadang pujian itu kemudian hendak dihambarkan dengan komentar-komentar yang sebenarnya tidak perlu.
“Oh, begitu.... Menurut saya, itu sih biasa saja...” katanya. 
“Saya termasuk orang yang tidak suka dipuji....” katanya lagi
Sebaliknya, ketika sang teman memperoleh sebuah musibah atau sesuatu yang dianggapnya sebagai sebuah kesusahan, maka mereka yang berpenyakit SMS itu, justru bereaksi yang sebaliknya.  Ada raut muka yang begitu gembira, ada rasa senang atas apa yang dialaminya. Bukannya ikut bersimpati atau bahkan berempati sekalipun, namun justru ucapan-ucapan yang kian menyakitkan. Katakanlah, seorang teman mengalami musibah sakit, hingga dirawat di rumah sakit. Sejumlah analisa atau komentar hingga tanpa sensor pun terus saja bermunculan keluar dari mulutnya.
“Yah, barangkali saja, karena ada kewajiban yang dilalaikannya...” katanya.
“Sebaiknya sih, segera introspeksi saja....” katanya lagi.
Model penyakit SMS yang seperti di atas mungkin masih ada, namun dalam skala yang lebih sedikit terjadi. Sangat mungkin, penyakit SMS yang terbanyak adalah ungkapan dalam bentuk aksi diam, hampir tak bereaksi sedikitpun. Baik untuk sekedar mengucapkan ikut suka cita kepada teman yang kebetulan sedang memperoleh kesenangan, keberhasilan atau keberuntungan , dan  kebahagiaan. Atau sebaliknya, hampir tak beraksi sedikitpun untuk sekedar turut simpati atau prihatin atas kejadian yang menyusahkan,  menyedihkan atau sebuah kegagalan seorang teman.  
Tampaknya, begitu berat mulutnya atau ungkapan tubuhnya itu untuk dapat berkata : Senang Melihat orang lain Senang, atau Susah melihat orang lain Susah. Ada yang salah dalam hatinya....
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan

Srie

Baca Juga

Komentar