Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Renungan di Hari Pendidikan Nasional ( Hardiknas ) 2011


Ada apa yang terjadi dengan dunia pendidikan kita saat ini ? Keluhan, kritikan dan gugatan terhadap penyelenggaraan pendidikan terus-menerus terjadi secara bergelombang. Ada yaang mengeluhkan tentang penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) yang dianggap kontroversial, ada yang menyoroti mengenai mutu pendidikan yang dianggap masih rendah, ada yang menggugat relevansi pendidikan dengan dunia nyata yang dianggap timpang, ada yang mengkritisi akses kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu yang dianggap belum merata, hingga ada yang mempertanyakan masih pentingkah pendidikan sekolah bagi anak di tengah kian beragamnya alternatif seseorang dalam memperoleh informasi dan pengetahuan secara mudah dan praktis.
Sangat dibutuhkan sebuah keinsyafan bersama agar kita dapat merenung sejenak untuk memahami secara lebih baik tentang masalah pendidikan yang sedang kita hadapi bersama pula. Sangat dibutuhkan sebuah kejujuran kolektif bangsa agar kita dapat mengurai benang kusut yang melingkupi dunia pendidikan kita saat ini. Sangat dibutuhkan sebuah kearifan dari semua pihak yang terkait agar bentangan masalah pendidikan itu dapat memperoleh solusi yang tepat dan akurat.
Hakikat Pendidikan : Perubahan Tingkah Laku
Mulailah dari pertanyaan, apa sesungguhnya pendidikan itu ? Secara hakiki, para pakar penddidikan akan menjawab bahwa pendidikan, hakikatnya adalah proses perubahan tingkah laku peserta didik. Perubahan tingkah laku yang bagaimanakah yang hendak dituju ?  Perubahan tingkah laku peserta didik, sedemikian rupa, sehingga seseorang akan memiliki karakter atau keperibadian yang luhur dan unggul, wawasan pengetahuan yang luas, serta ketrampilan yang memadai. Untuk apa ? Agar seseorang dapat memasuki dunia nyata di masyarakatnya secara lebih baik, dan  agar seseorang dapat mengatasi masalah yang akan dihadapinya kelak.
Pertanyaannya, apakah pendidikan kita telah mampu menjalankan tugasnya dalam mengubah perilaku peserta didik sebagaimana yang diidealkan di atas ?  Sebagai pendidik atau guru, secara jujur saya dapat mengatakan belum. Pendidikan saat ini masih jauh dari ideal sebagai sebuah institusi yang diharapkan dapat mengubah perilaku peserta didik ke arah yang telah disebutkan di atas. Mengapa ? Karena sistem pendidikan yang berlansgung saat ini, secara pribadi, saya katakan memang belum ideal, bahkan dapat dikatakan kian jauh dari kata ideal.
Sekolah Menjadi Kian Mirip Bimbel
Mengapa hal ini bisa terjadi ? Banyak hal yang dapat kita jelaskan. Sebagai sebuah proses pembelajaran, pendidikan kita dirasakan kian menyempit fungsi dan perannya menjadi semakin tak jauh bedanya dengan sebuah lembaga bimbingan belajar (Bimbel). Apa itu ? Lembaga bimbingan anak agar mampu mengerjakan soal-soal pertanyaan (terutama pilhan ganda) secara lebih cepat dan tepat. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Karena, sistem evaluasi belajar yang diterapkan di sekolah, secara efektif diduga telah mampu mengubah orientasi siswa dan orangtuanya, bahkan juga guru dan sekolah yang lebih tertuju pada capaian prestasi yang hanya bersifat angka dan angka. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang secara terpaksa atau disengaja sampai pada upaya “menghalalkan segala cara”.
Kalau kita mau jujur, maka fenomena UN yang cukup “dramatis” menguatkan adanya dugaan mengenai hal tersebut. Siswa dan orang tua kian berlomba, tak lebih hanya sekedar untuk mengejar target kelulusan dengan menjawab soal berjenis pilihan ganda. Tujuan semula UN yang dimaksudkan untuk memacu siswa agar lebih giat belajar, amat mungkin jauh dari apa yang diharapkan. Mengapa ? Karena, kalaupun UN dianggap efektif memacu siswa “giat belajar”, hanya terjadi pada waktu yang dekat dengan pelaksanaan UN saja. UN belum mampu meningkatkan motivasi belajar siswa secara keseluruhan, yang diharapkan dapat terjadi selama berlangsungnya proses belajar mengajar di sekolah.
Mengapa hal ini bisa terjadi ? Jelas, karena UN bukanlah satu-satunya faktor pemicu motivasi siswa dalam belajar.  Masih banyak lagi faktor yang lainnya, antara lain terutama faktor guru, dan faktor sekolah secara umum.  Sekarang, apa yang terjadi dengan diri para guru dan sekolah secara umum ?  Mutu guru yang selama ini banyak dikeluhkan oleh masyarakat, menurut saya memang ada benarnya. Mengapa ? Secara umum, guru kita dapat dikatakan belum mampu berperan optimal sebagai fasilitator belajar, di tengah kenyataan kian berkembangnya alternatif siswa dalam memperoleh informasi dan pengetahuan di luar sekolah.
Kurikulum, Yang Sering Digugat
Dalam pengamatan saya, secara umum guru diduga masih terjebak pada fungsi dan perannya yang tak lebih sebagai penyampai misi kurikulum  dalam arti sempit yang secara tekstual tertulis pada daftar silabus dan buku teks mata pelajaran.  Guru seolah hanya menjalankan tugasnya sekedar menunaikan kewajiban berdasarkan urutan kisi-kisi materi pelajaran yang harus disampaikan. Pendeknya, guru seakan hendak mengajarkan sebuah pelajaran yang berasal dari “kitab suci” yang terasa kian terasing dari konteks perkembangan dunia nyata yang dialami oleh para siswanya.
Ini pula, salah satunya yang dapat menjelaskan, mengapa ada sebagian masyarakat yang menggugat relevansi kurikulum yang diajarkan di sekolah dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh anak saat menghadapi dunia nyata kelak. Kurikulum pelajaran, oleh sebagian orang tua, seolah dianggap kurang sesuai dengan apa yang dibutuhkan bagi masa depan anak-anaknya, terutama terkait dengan  masalah kesempatan kerja. Dalam hal ini, kurikulum pelajaran kerap  menjadi sasaran kritikan, entah dari sisi tujuan yang hendak dicapai, dari sisi jumlah materi pelajaran, dari sisi konten materi pelajarannya sendiri, hingga dari sisi bagaimana kurikulum itu diterapkan oleh para guru di sekolah.
Mengapa hal ini bisa terjadi ? Banyak alasan untuk dapat menjelaskan. Antara lain, adalah benar bahwa sampai kapanpun kurikulum pendidikan akan selalu tertinggal dari dunia luar. Perubahan kurikulum sebagai bentuk penyesuaian atas dunia luar, amat membutuhkan waktu, paling tidak, sedikitnya selama lima tahun. Ini belum menghitung waktu yang dibutuhkan untuk melakukan sosialisasi perubahan kurikulum beserta persiapan kelengkapan perangkat lainnya yang dibutuhkan. Ini belum termasuk waktu yang dibutuhkan oleh guru dalam menyesuaikan setiap terjadi perubahan kurikulum dengan proses belajar mengajar yang diadakannya di sekolah.
 Adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kian pesat, semakin memudahkan seseorang dalam memperoleh informasi dan pengetahuan, terutama melalui sarana internet sebagai sarana belajar secara informal. Jelas, hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi sekolah agar dapat menjadikan dirinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak ketinggalan zaman.  Sangat jelas, bahwa saat ini sekolah haruslah berbeda dengan sekolah pada zaman-zaman dulu, dimana sekolah saat itu dapat dianggap memonopoli sumber pengetahuan siswanya, melalui guru dan bahan bacaan yang tersedia.
Guru, Yang Gaptek
Berikutnya adalah masalah guru, sebagai ujung tombak dari pelaksanaan kurikulum.  Mungkin, ada benarnya dugaan yang menyebutkan bahwa secara umum guru kurang mampu mengikuti perkembangan di dunia luar. Guru dianggap kurang mampu menyerap informasi aktual mengenai apa yang sedang terjadi di lingkungan masyarakatnya, atau bahkan di belahan dunia yang lain. Guru dianggap kurang mampu memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi secara optimal bagi kepentingan proses pembelajaran di sekolah. Waktu telah jauh berputar, namun guru dianggap tidak banyak melakukan perubahan secara signifikan dalam hal bagaimana cara mengajar.
Sementara itu, di lain pihak siswa justru diduga lebih ramah atas perkembangan yang terjadi di sekitarnya, dan diduga lebih melek teknologi informasi dan komunikasi. Mereka dianggap lebih mudah terbiasa untuk menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi, di luar apa yang diajarkan oleh gurunya di sekolah. Sehingga, adalah tidak terlalu salah, bila ada yang mengatakan bahwa ada ketimpangan antara guru dan siswanya dalam hal menanggapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya teknologi internet yang dapat berfungsi sebagai sumber alternatif belajar bagi siswa. Sebuah keadaan yang seharusnya membuat seorang guru untuk tidak pernah berhenti belajar.
Tak perlu bereaksi secara berlebihan, bila ada yang menengarai bahwa saat ini masih banyak guru yang kurang memahami dan menguasai teknologi, terutama yang terkait dengan tugas pokoknya sebagai pendidik. Guru dianggap masih banyak yang Gaptek (gagap teknologi), sebuah keadaan yang menunjukkan guru jauh tertinggal dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Banyak faktor yang dapat menjelaskan, antara lain beban mengajar guru yang dianggap cukup memberatkan, bila dibandingkan dengan beban seorang dosen, misalnya.
Selanjutnya, tentu ada masalah kemampuan ekonomi yang dialami oleh guru, yang amat mungkin disebabkan oleh penghasilan yang masih jauh dari memadai. Terakhir, tentu saja, hal ini karena faktor gurunya sendiri yang tidak termotivasi untuk terus belajar meningkatkan kualitas diri. Baik dengan cara bersekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi, maupun sekedar banyak baca buku, berdiskusi atau mengkases informasi dari berbagai media, termasuk dari internet.
Birokratisasi Pendidikan
Di luar masalah kurikulum dan guru, misalnya, tentu ada masalah manajemen pendidikan yang perlu memperoleh tinjauan secara kritis. Hal ini, terutama dikaitkan dengan adanya otonomi di daerah, dimana kewenangan penyelenggaraan pendidikan di daerah, secara teknis diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah setempat. Apanya yang menjadi masalah bagi dunia pendidikan ? Secara umum, masalah yang terjadi adalah adanya intervensi kepentingan politis dan birokrasi pada penyelenggaraan proses pendidikan yang memiliki karakter dan parameter yang berbeda dengan dunia politik dan birokrasi pemerintahan daerah.
Dalam banyak hal, kini sekolah tak lebih dari kepanjangan tangan birokrasi pemerintahan daerah, dengan menempatkan sekolah sebagai unit pelaksana teknis daerah (UPTD) dibawah Dinas Pendidikan setempat. Itulah, mengapa kita menyaksikan di papan nama (plang) sekolah-sekolah tercantum kata UPTD di depan nama sekolah bersangkutan, menjadi UPTD SMP, atau UPTD SMA, yang berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya dimana otonomi daerah belum diberlakukan. Nama, bukanlah substansi yang hendak dipersoalkan. Akan tetapi, adalah pada bagaimana kultur pendidikan yang sangat menjunjung tinggi parameter objektivitas, mutu dan kejujuran dapat dipertahankan dalam sebuah ruang dimana mekanisme birokrasi melingkupinya.
Proses pengangkatan Kepala Sekolah, misalnya, sebagai jabatan tertinggi di suatu lembaga sekolah tentu amat penting sebagai seorang manajer pendidikan pada tingkatan unit yang  paling kecil. Mengapa ? Karena, di tangan Kepela Sekolah lah peran dan tanggung jawab itu dipegang untuk mengarahkan kemana sekolah hendak dijalankan. Jika, kita bicara tentang pembenahan, perbaikan, atau bahkan perubahan dalam pendidikan, maka sesungguhnya semuanya itu, pertama-tama tertuju pada keberadaan seorang Kepala Sekolah sebagai manajernya. Baru, kemudian turun kepada para guru, sebagai ujung tombak dalam proses pembelajaran.
Apa yang terjadi saat itu ? Tentu, ini sudah menjadi rahasia umum. Bahwa amat mungkin, dugaan proses pengangkatan seorang Kepala Sekolah, masih jauh dari apa yang diharapkan. Proses pengangkatan Kepala Sekolah diduga masih jauh dari pertimbangan pokok yang seharusnya, yakni apa yang dibutuhkan oleh sebuah sekolah untuk dapat maju dan berkembang, kriteria objektif apa yang seharusnya dipenuhi oleh seorang calon Kepala Sekolah agar mampu memenuhi tugas yang akan diembannya? Kepala Sekolah, diduga dianggap tak ada bedanya dari sebuah jabatan birokrasi, yang lebih mengedepankan unsur loyalitas dibandingkan kemampuan, unsur kepangkatan atau senioritas dibandingkan dengan  kebutuhan riil di lapangan.
Keadaan inilah, yang pada giliran berikutnya membawa institusi sekolah lebih menampakkan dirinya sebagai sebuah birokrasi, dibandingkan sebuah lembaga yang berwajah pendidikan. Contoh paling konkret adalah saat menjelang pelaksanaan UN, dimana hasil UN telah dijadikan sebagai bagian dari prestasi dan sekaligus gengsi mata rantai birokrasi. UN, bukan dijadikan sebagai alat ukur yang jujur dari sebuah prestasi para siswa dan para guru, serta sekolahnya.
Apa yang terjadi ? UN diduga telah melahirkan kebijakan pemerintah daerah yang bersifat manipulatif. Artinya, meski kebijakan dilakukan secara tak tertulis dan tanpa instruksi yang bersifat hitam di atas putih, namun, guru merasakan hal itu sebagai sebuah kebijakan dan instruksi yang terselubung. Maka, tak heran bila kemudian diduga terjadi berbagai penyimpangan atas pelaksanaan UN yang dilakukan secara sistematis dan bersifat struktural. Meski sulit untuk memperoleh pengakuan secara terbuka dari berbagai pihak terkait, namun hampir dapat dipastikan bahwa adanya penyimpangan itu memang benar-benar terjadi sebagaimana banyak diduga melalui berbagai media massa.
Selamat Hardiknas
Demikianlah, sebuah renungan mengenai pendidikan di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tanggal 2 Mei yang jatuh pada hari ini. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi. Agar pendidikan sebagai sebuah proses yang terencana dan sistematis mampu mencapai tujuan sebagaimana yang diharapkan, mampu mencerdaskan bangsa, mampu membentuk karakter pribadi yang luhur dan unggul dan mampu memenuhi harapan masyarakat, dimana mereka mempercayakan anak-anaknya dididik melalui sekolah.
Akhirnya, secara pribadi saya mengucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Semoga, pendidikan kita dapat lebih maju dan lebih mampu memenuhi harapan masyarakat. Amiin.
Demikian, treima kasih.
Salam Persahabatan,
Sri Endang Susetiawati (Guru)

Tulisan sebelumnya yang terkait, antara lain :

Baca Juga

Komentar