Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Seri Novel : SMS Tak Berbalas


Oleh Sri Endang Susetiawati
Di sore hari yang cerah, Zaza, mahasiswi yang sering disebut oleh teman-teman sekampusnya sebagai kembaran salah seorang artis dan bintang iklan sabun mandi itu, masih berada di dalam kamar kos nya, di kawasan Jl. Kebon Sirih Bandung.  Namun, kali ini ada yang tidak biasa saat ia tampak gelisah dalam lentangan tidur, sambil memeluk bantal guling dengan  bermalas-malasan di atas kasur warna biru bergambar Doraemon.  
Beberapa kali ia membaca sejumlah SMS dari seseorang yang selama 4 hari terakhir ini tidak pernah dibalasnya. Dibacanya terus dan berulang-ulang dengan sesekali senyumnya mulai terlihat mengembang.
Ia sedang membaca SMS dari pengirim bernama Caca yang diterima pada hari yang sama, namun beda waktu yang cukup lama, pada pukul 01:45 dini hari, WIB :
“Malam ini ‘ku terjaga. ‘Ku bersujud menghadap-Mu, Tuhan Yang Maha Mengetahui Isi Hatiku. Persaksikanlah, Ya Allah ! Bahwa malam ini .... Aku sangat merindukannya”
Kemudian, ia baca juga SMS dari pengirim yang sama sebelumnya, diterima hari kemarin, pukul 17:25 WIB :
“Engkau boleh tidak membalas SMS-ku, pun tidak mau terima teleponku. Apapun alasanmu itu .... Aku tetap mencintaimu, Zaza ....”
Ia membaca juga SMS yang diterima 2 hari yang lalu, pukul 15 : 32 WIB :
“Tak ada sedikitpun hak bagiku, agar Engkau mau membalas SMS- ku. Bahkan untuk sekedar membaca sekalipun. Karena kutahu, apalah artinya diriku bagimu. Aku hanya ingin katakan, bahwa saat ini aku sungguh sangat merindukanmu”
Ia membaca juga SMS yang diterima 2 hari yang lalu, pukul 04 : 32 WIB :
“Kuakui, Zaza adalah mahluk ciptaan-Mu yang nyaris sempurna. Ya Allah,.... berikanlah segala kebaikan.... untuknya”
Kemudian, membaca juga SMS yang diterima 3 hari yang lalu, pukul 12 : 01 WIB  :
“Jujur, Aku sangat suka dan mengaguminya.   Bagiku, .... Zaza adalah perempuan terbaik yang pernah kukenal”
SMS, yang diterima 3 hari yang lalu, pukul 08 : 17 WIB :
“Sudah 3 kali aku kirim SMS, namun tidak pernah berbalas juga. Entahlah.... ‘Ku tak tahu alasannya mengapa ? Yang kutahu hanyalah .... Aku tetap sayang kamu.....”

Entah, apakah tersadar ataukah tidak, beberapa kali ia sempat mencium kotak hitam bermerek Blackberry itu  sambil mata terpejam. Masih ada bekas guratan bibir mungil yang menempel di layarnya.  Hingga, keasyikannya terganggu saat Hape miliknya menjerit minta perhatian.
“Ada SMS baru masuk” ucapnya pelan.
Kali ini, ia begitu sigap untuk segera membaca isi pesan SMS yang ternyata berasal dari nama yang sama. Dari kedua bola matanya, ada pancaran cahaya yang berbinar melengkapi senyum manis yang selalu berhasil mengukir lesung pipitnya.
“Apa kabar Zaza...? Sungguhkah, engkau telah melupakan aku ? Apapun itu, aku tetap sayang kamu....” demikian bunyi SMS itu.
Selanjutnya, hanya jari-jari tangannya saja yang terlihat lebih aktif memijit-mijit tombol berderet abjad. Kalimat pendek pun telah tersusun rapi dengan singkat, lalu terkirimlah SMS balasan itu.
“Kabar Zaza baek...”
Hanya sesaat senyum itu masih tampak mengembang di bibirnya. Beberapa detik kemudian, usai SMS terkirim, Zaza terlihat kaget. Raut mukanya yang memerah, seolah baru tersadar dari apa yang baru saja dilakukannya.
Bunyi dering Hape kembali membuyarkan kekagetannya untuk sementara. “Hah...! Call dari Caca...!” ucapnya terkesiap.
“Halo...! Wa’alaikum salam...” jawabnya sesaat usai panggilan telepon itu ia terima.
“Boleh saja kok... kapan... di mana , ya ?”
“Oke. Kita ketemuan di sana saja ya...”
Lalu, Hape itu ia letakkan kembali di atas meja belajarnya. Sesekali, rambutnya yang hitam panjang terurai sebahu, ia usap-usap dengan kedua telapak tangannya yang mulus.
 “Ya, ampun.... kok jadi janjian ketemuan sih... ?” ucapnya bermonolog, sembari tak bisa menutupi perilakunya yang tampak bingung dan geregetan.
Kedua tangannya mengepal, membentuk siku di depan dadanya. Giginya pun terlihat merapat, tanda kesal atas dirinya sendiri. Tak lama kemudian, segera saja tubuhnya ia rebahkan di atas kasur. Mukanya yang putih, manis merona, sengaja ia tutupi dengan bantal berwarna biru muda yang empuk.
“Kacau.....” bisiknya.
(Bersambung....)
Demikian, terima kasih
Salam Persahabatan
Srie
Sumber cerita : Cuplikan dari Buku Novel Meraih Tiket Surga oleh Sri Endang Susetiawati.
Baca Juga

Komentar