Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Tanpa Permisi, PLN Ganti Tiang Listrik, Rusak Tanaman Singkong Milik Saya


Sabtu sore kemarin (30/4), baru saja, saya ingatkan PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk bertindak profesional. Apa yang terjadi ? Sejak jam tiga-an,  PLN melakukan pergantian tiang listrik, dari tiang besi menjadi tiang beton yang besar dan tinggi lebih dari 15 meter. Masalahnya, tiang itu terletak persis di pekarangan depan rumahku. Sudah tentu, tanaman singkong, pisang dan pepaya menjadi rusak oleh ulah sekitar 10 orang karyawan kontraktor PLN yang sedang mengganti tiang listrik tersebut.
Sebenarnya, jika sejak awal perwakilan mereka minta izin terlebih dahulu ke pihak yang punya rumah (saya), tentu akan lain cerita. Yang terjadi adalah jurus slonong boy, seenaknya masuk ke pekarangan orang tanpa permisi. Lalu, dengan seenaknya pula main cangkul tanah untuk pondasi tiang, dan pondasi bambu penyangga. Jelas, puluhan   tanaman kebun yang sedianya dua minggu lagi dipanen, jadi rusak.
Saya perhatikan saja kerja mereka hingga selesai memasang tiang listrik baru, agar tidak mengganggu penyambungan kembali kabel listrik, sehingga aliran listrik segera menyala kembali. Apa yang terjadi ? Eh, ternyata mereka (pihak PLN) itu tidak terfikir sedikitpun untuk minta ijin atau bahkan minta maaf atas kerusakan tanaman kebun saya. Bahkan, ketika mereka saya lihat hendak beres-beres mau pulang, tidak ada satu orang pun yang terlihat hendak menemui penghuni rumah.
“Wah, ini harus dikasih pelajaran buat PLN !” kata saya dalam hati. Jelas, ini bukan soal harga sekian tanaman singkong, pisang atau pepaya yang menjadi rusak. Saya kira, harga itu cuma seberapa. Namun, buat saya adalah soal etika dan penghargaan mereka terhadap penghuni rumah.  PLN tidak bisa seenaknya saja berlaku seenak perutnya. Bukankah, ketika pelanggan beberapa hari saja telat bayar tagihan rekening listrik, lalu petugas PLN langsung menyodorkan ancaman pemutusan aliran listrik ?
Maka, sebelum mereka berangkat untuk pulang, saya berusaha untuk memanggil di antara mereka untuk meminta pertaggungjawabannya. “Maaf, siapa yang jadi pimpinan proyek ini ?” tanya saya kepada salah seorang karyawan yang hendak menuju ke mobil proyek. “Itu, bapak yang gendut itu” tunjuknya. Lalu, saya panggil orang yang terlihat sangat gemuk itu. Setelah saya tanya, saya tahu namanya Pak Diding.
“Begini ya, cara PLN memasang tiang listrik? kata saya.
“Maksudnya, bagaimana ?” jawabnya pura-pura tidak mengerti.
“Lho, ini pekarangan milik saya. PLN harus ijin dulu sebelum memasang tiang listrik” jelas saya.
“Oh, iya. Perasaan sudah ada di antara kami yang meminta ijin” katanya.
“Buktinya apa sudah ada yang minta ijin, orang sejak tadi saya berada di sekitar sini” kata saya.
“Oh, begitu ya. Nanti, masalahnya akan dibereskan”
“Oke saya tunggu”
Saya masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Ternyata, setelah beberapa menit kemudian tidak ada perwakilan yang mau menemui saya. Maka, saya hampiri lagi mereka, yang ternyata sudah ada di atas mobil hendak berangkat pulang. Jelas, saya bermaksud langsung untuk mencegat mereka. Harus ada pertanggung jawaban terlebih dahulu. Saya panggil lagi Bapak yang bertubuh gemuk itu.
Saya bilang, “ Bapak, anda benar belum minta izin saat memasang tiang listrik ?”
“Benar”
“Menurut Anda, apakah ada kerugian di kebun saya akibat pemasangan tiang listrik ?”
“Betul, ada”
“Bapak, anda tahu itu tindak pidana ? Masuk ke pekarangan rumah orang lain tanpa izin, lalu merusak sebagian tanaman di dalamnya ?”
“Oh, iya... ?” tanggapnya agak kaget.
“Maksudnya ?” tanya Bapak itu.
“Kalau ini ada tindak pidana, maka saya akan lapor ke Polsek atau Polres besok pagi !” jawab saya lebih tegas.
Si Bapak itu terlihat masih kaget.
“Bapak. Maaf, ya. Ini kerusakan tidak seberapa. Paling juga nilainya beberapa puluh ribu saja. Tapi, kalau saya laporkan besok pagi ke polisi, maka Anda akan menghadapi ancaman pidana. Ya, vonisnya gak akan lama. Paling-paling, 3-6 bulan saja” ancam saya sekenanya.
“Tapi ingat, itu jauh lebih rugi buat Anda, apalagi nanti harus menebusnya...” tambah saya lagi.
“Baik. Baik, kita akan selesaikan sekarang juga”
Lalu ia memanggil salah seorang bawahannya, untuk turun dari mobil. Ia langsung menemui saya. Pak Gendut itu menjelaskan duduk persoalannya. Termasuk, soal ancaman saya akan lapor ke polisi besok pagi, jika tidak ada basa-basi atau niat baik untuk penyelesaian saat itu juga.
“Baik. Jadi, bagaimana penyelesainnya ?” tanya karyawan  kontraktor PLN yang bertubuh kurus itu.
“Pertama, kalian harus minta maaf ke saya !”
“Baik, saya dan kami atas nama seluruh karyawan yang tadi bekerja, memohon maaf atas kelalaiannya tanpa minta ijin” kata dia.
“Kedua, kalian harus ganti rugi atas kerugian yang dialami saya !” ucap saya.
“Baik. Kira-kira berapa ?” tanya dia semangat.
“Terserah Anda. Hitung sendiri kira-kira berapa kerugiannya”
“Bagaimana kalau gocap ?”
“Boleh. Yang terpenting Anda sadar telah melakukan kesalahan, dan harus bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaan”
Maka, segera saja ia mengeluarkan dompetnya. Uang selembar 50 ribu disodorkan kepada saya. Tanpa ada jeda, uang itu saya angkat tinggi-tinggi, sambil saya berkata : “ Ini, uang bukan untuk saya. Tapi, saya akan sumbangkan untuk masjid”
“Oh, iya...” katanya.
Segera saja, saya temui Pak Haji, salah seorang pengurus masjid di dekat rumahku. Uang yang masih di tangan, lalu saya berikan kepada Pak haji itu.
“Ini, Pak Haji untuk sumbangan masjid”
Pak Haji dan beberapa temannya, termasuk karyawan PLN itu tampak melohok saja menyaksikan apa yang baru saja terjadi.
“Tidak apa-apa, Pak Haji. Biar PLN belajar, bagaimana cara menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas perbuatan yang ditimbulkannya”
Tak berapa lama, mereka pun pergi meninggalkan kami. Tentu, setelah sempat berjabat tangan dengan kedua perwakilan karyawan PLN itu. Bagi saya, ini bukan soal uang yang tidak seberapa. Ini menyangkut perbuatan yang harus bertanggung jawab, menyangkut soal hak dan kewajiban yang harus saling menghargai.
Meski tanaman rusak. Hati saya jadi plong. Nyumbang masjid lagi.  He.he.he...
Demikian, terima kasih.
Salam Persahabatan

Srie


Baca Juga

Komentar

  1. Seharusnya PLN yg bayar, karena memakai tanah pribadi, coba saja kalau itu tanah PLN pasti ada peringatan "Tanah Ini Milik PLN". Lagi pula itu bukan utk kepentingan umum, tapi bisnis... hanya ada di Indonesia

    BalasHapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).