Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Wakil Mendiknas Larang Sekolah Pungut Uang PSB

TEMPO Interaktif, Bandung - Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, melarang sekolah melakukan pungutan dalam bentuk apapun dalam penerimaan siswa baru tahun ajaran 2011. "Pokoknya semua pungutan dilarang, apakah uang pangkal, uang bangunan, pokoknya tidak boleh," kata Fasli Jalal usai menghadiri pelantikan Pengurus Dewan Pendidikan Kota Bandung, di Balai Kota Bandung, Kamis, 23 Juni 2011.

Sekolah : Antara Mutu, Gengsi dan Kesenjangan

Adalah sejumlah ibu-ibu muda di sebuah komplek perumahan di kawasan berdataran tinggi Cileunyi, Bandung Timur. Pada suatu waktu, dengan kompak dan sangat bersahabat, mereka mendaftarkan anak sulungnya masing-masing di sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) yang tidak jauh dari perumahan secara bersama-sama. Setahun kemudian, hampir sebagian besar dari mereka masih kompak untuk mendaftarkan anak-anaknya ke sebuah Sekolah Dasar (SD) yang jaraknya agak jauh dari tempat tinggalnya.

Hentikan UN, Sebelum “Gajah Pendidikan” Disepakati : Tanggapan Balik Atas Tanggapan Pak Marzuki Alie

Oleh Sri Endang Susetiawati Berkenaan dengan sikap keprihatinan saya atas kondisi pendidikan nasional yang terpuruk akibat maraknya praktek kecurangan dalam penyelenggaraan Ujian Nasional (UN), maka pada tanggal 15 Juni  2011 yang lalu,  saya mengajukan sebuah Petisi Nasional Buat Presiden RI untuk Penyelamatan Pendidikan Nasional melalui postingan di Kompasiana. Berbagai dukungan atau tanggapun mengalir melalui lapak tersebut, termasuk disalin melalui berbagai media sosial lainnya, seperti di Facebook, Twitter atau blog-blog pribadi teman-teman Kompasiana.

Rakyat Tidak Butuh Parpol, Mungkinkah Pemilu Tanpa Parpol ?

Oleh Srie Mungkinkah Pemilu tanpa harus melibatkan Partai Politik (Parpol) ? Mungkin saja. Bukankah pemilihan kepala desa tanpa harus ada partai politik ? Betul. Toh, ternyata bisa juga Pilkades tanpa Parpol. Memang, masih juga ada praktek korupsi di tingkat pemerintahan desa. Akan tetapi, amat mungkin praktek korupsi akan menjadi turun secara drastis.

Pancang, Pancing dan Pancung

Oleh Sri Endang Susetiawati Andai, ada pancang yang cukup banyak di negeri ini, mungkin pancung itu tidak perlu terjadi di negeri orang lain. Andai pancing itu disediakan cukup banyak di negeri ini, bisa jadi pancung itu tidak akan menjadi berita di mana-mana di belahan dunia. Pertanyaannya, mengapa pancang dan pancing itu tidak cukup tersedia di negeri ini, sehingga ancaman pancung pun dengan terpaksa harus dihadapi ?

Mendiknas Kena Batunya, Bersikap “Mencla-Mencle” ?

Oleh Sri Endang Susetiawati Beberapa saat usai memperoleh kabar mengenai kasus pengusiran Siami, ibu dari seorang anak bernama Alifah Ahmad Maulana, siswa SDN 2 Gadel Surabaya yang melaporkan adanya perintah contek masal Ujian Nasional (UN), Mendiknas langsung mengeluarkan pernyataan bahwa sekolah tersebut harus dilakukan UN ulang. Walikota Surabaya pun bertindak pro aktif dengan segera memberikan sanksi pada Kepala Sekolah dan guru yang dianggap bersalah terlibat perintah contek masal tersebut.

Lesson Study : AS Kalah dalam Pendidikan, Lalu Belajar ke Jepang

Kekalahan tidak selalu berarti kehilangan segala-galanya. Kehilangan rasa peraya diri dan kehilangan akan masa depan. Kekalahan hanya menjadi bagian dari episode kehidupan yang harus dilewati. Untuk kemudian, memulai kembali sesuatu yang baru dan melanjutkannya menuju sebuah kemenangan. Begitulah, kira-kira yang dialami oleh bangsa Jepang tatkala mengalami kekalahan total saat Perang Dunia (PD) II pada pertengahan abad ke-20. Seperempat abad kemudian, mereka mulai bangkit dari kekalahan.

Petisi Online Buat Presiden RI untuk Penyelamatan Pendidikan Nasional

Kompasiana, 15 Juni 2011 Kepada Yang Terhormat Presiden Republik Indonesia (Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono) Di Istana Negara, Jakarta

Lapor UN Curang, Ortu Siswa Diusir; PGRI Perlu Bentuk TPF

Oleh Sri Endang Susetiawati Kasus kecurangan Ujian Nasional (UN) kembali terungkap secara besar-besaran di media massa. Setelah sebelumnya, kecurangan masal dilakukan oleh pihak sekolah di SDN Pesanggrahan Jakarta, maka kemarin (13/6/2011) terungkap kecurangan masal yang hampir mirip di SDN Gadel II, Surabaya. Kali ini, bahkan lebih heboh lagi karena orang tua siswa yang melaporkan adanya kecurangan justru diusir dari rumahnya beramai-ramai oleh para orang tua siswa lainnya.

Lagi, UN Curang Di SDN Surabaya : Ibu Jujur, Malah “Hancur”

TEMPO Interaktif, Surabaya - Siang itu, rumah berdinding cokelat di gang sempit Jalan Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya, Jawa Timur, tampak sepi. Pagarnya terkunci rapat. Satu sak semen teronggok di terasnya.

Berfilsafat, Haruskah Melepas Agama ?

Oleh Sri Endang Susetiawati Benarkah kalau mau berfilsafat yang benar harus melepaskan keagamaan kita ? Jawabannya : Tidak harus ! Mengapa ? Karena, berfikir kritis dan bisa berfilsafat secara benar juga bisa dilakukan oleh mereka yang masih beragama. Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa mereka yg tidak beragama atau yang melepas agama secara otomatis dapat berfikir kritis dan berfilsafat dengan benar pula. Berfilsafat, adalah lebih pada masalah kemampuan berfikir filsafat yang dimiliki oleh seseorang.

Demokrasi : DNA Bangsa atau Sebuah Ilusi ?

Oleh Srie  Kembali presiden SBY mengungkapkan kebanggaanya tentang perkembangan demokrasi di Indonesia. Katanya, hari ini, Indonesia berdiri bangga sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, ekonomi muncul dengan stabilitas politik, dengan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif, dan sebagai anggota G-20, dan sebagai anggota pendiri dan tahun ini sebagai ketua ASEAN.

Menjadi Muslim Indonesia, Mungkinkah ?

Oleh Sri Endang Susetiawati Mungkinkah, kita menjadi seorang muslim Indonesia ? Jawabannya adalah sangat mungkin. Muslim adalah sebutan atas seseorang yang mengaku beragama Islam. Sementara Indonesia adalah suatu bangsa dan negara yang menempati sebuah kawasan yang terletak di antara dua benua (Asia dan Australia), dua samudera (Pasifik dan Hindia), yang terbentang dari Sabang di ujung barat dan Merauke di ujung timur, serta Pulau Miangas di ujung utara dan Pulau Rote di ujung selatan.

Menolak Simbol Negara, Benarkah Karena Faktor Pemahaman Agama Semata ?

Oleh Srie Pekan ini, kita disuguhi berbagai berita mengenai penolakan sejumlah pihak terhadap simbol-simbol negara. Bermula dari berita mengenai dua sekolah di Karanganyar, Jawa Tengah yang menolak penghormatan pada bendera merah putih. Berikutnya, masih di daerah yang sama, 7 pegawai negeri sipil (PNS) pun melakukan sikap yang sama, yakni menolak menghormat bendera merah putih saat upacata bendera yang diadakan secara rutin tiap hari Senin. Terakhir, ada 6 radio swasta di daerah Balikpapan, Kalimantan Timur, yang menolak memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya saat memulai dan mengakhiri mengudara.

Mengapa Harus Kecewa ?

Oleh Sri Endang Susetiawati Harapan adalah cahaya yang menerangi kita dari gelap. Kedua kaki ini akan dapat melangkah untuk menelusuri lorong yang terasa hampir tak berujung. Hanya terang cahaya di tepi sana yang meyakinkan diri bahwa gelap itu akan ada akhir.

Buku Pak Harto : Nostalgia Rakyat, Adakah Berkah Bagi Parpol ?

Oleh Srie
Ketika, pada saat ini rakyat merasakan beban hidup kian berat, maka menengok masa lalu merupakan hal yang lumrah. Keadaan di masa Orde Baru, ternyata dianggap sebagai sesuatu yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi yang terjadi di era reformasi. Nostalgia, kemudian menjadi sesuatu yang dianggap seksi dan layak jual.

Hormat Bendera : Syirik atau Tidak ?

Oleh Srie Hormat pada bendera merah putih adalah syirik ? Wah, kok bisa sejauh itu. Mengapa hal yang demikian begitu mudah untuk divonis syirik berdasarkan kaidah agama ? Tampaknya, ada lagi masalah umat ini yang seharusnya tidak perlu terjadi.

SBY, Antara Motif Amanah Rakyat dan Melanggengkan Kekuasaan

Oleh Srie Adalah bisa dimengerti, ketika pada periode pertama menjadi presiden, SBY begitu bersemangat untuk menjadikan dirinya populer di hadapan rakyatnya. Tentu saja, karena ia berharap akan terpilih kembali pada periode kedua. Nah, jika kesempatan untuk jabatan yang ketiga kalinya sudah tertutup, lantas atas dasar motivasi apakah kira-kira SBY akan tampil habis-habisan di periode kedua, yang masih tersisa 3 tahun itu ?

Praktek Korupsi, Kegagalan Wujudkan Reformasi

Oleh Sri Endang Susetiawati Saya yakin, Pak Amien Rais tidak akan pernah membayangkan persis seperti sekarang ini, Indonesia di masa reformasi. Saya masih ingat, tepat di ulang tahunnya yang ke-50 (tahun 1994), di sebuah hotel di kawasan Ciumbuleuit Bandung, Pak Amien begitu semangat untuk meyakinkan 700 lebih para aktivis mahasiswa yang berasal dari perwakilan perguruan tinggi se Indonesia mengenai keharusan Pak Harto lengser.

Antara Kompas dan Kompasiana, Apa Bedanya ?

Oleh Sri Endang Susetiawati Pertengahan awal Januari 2011 yang lalu, saya berkesempatan bertemu dengan mas Wahyu Haryo PS di salah satu ruangan kapal perang KRI Surabaya, di kawasan Komando Armada Timur (Koarmatim) Surabaya. Beliau adalah wartawan harian umum Kompas yang biasa meliput berita politik di sekitar istana negara, Jakarta. Bersama 6 orang lainnya yang khusus diundang sebagai juara lomba karya tulis oleh TNI AL tahun 2011, kami berkesempatan untuk menginap semalam di kapal perang dengan kamar tidur yang cukup mewah itu.

Cerpen : Sang Koruptor

Cerpen : Sang Koruptor Oleh Sri Endang Susetiawati Dia, masih saja tak percaya saat mendengar kabar bahwa seseorang yang ditangkap oleh KPK itu adalah sahabatnya sendiri. Hanya termenung, berdiam diri di atas sajadah usai menunaikan sholat Isya. “Apa yang terjadi dengan bangsa ini ?” ucapnya lirih.

Sinisme Politik, Masalah Sesungguhnya Bagi Pancasila !

Oleh Sri Endang Susetiawati

Adalah menarik apa yang diungkapkan oleh mantan Presiden RI BJ Habibie pada acara peringatan pidato Bung Karno tentang Pancasila di Gedung DPR/MPR RI, Rabu, 1 Juni 2011 kemarin. Menurutnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain sempat  mengalami mistifikasi atau sakralisasi, Pancasila pernah diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan.

Tanggal 1 Juni, Sungguhkah Hari Lahir Pancasila ?

Oleh Sri Endang Susetiawati Tanggal 1 Juni, biasa mengacu pada peristiwa sejarah saat Soekarno berpidato dalam rapat pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), pada tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945. Adalah benar, bahwa pada saat tanggal 1 Juni 1945 itu Soekarno mengusulkan nama dasar negara kita dengan nama Pancasila. Sebuah nama yang menurut Soekarno diperoleh dari seorang teman yang ahli bahasa, tanpa menyebut siapakah nama teman tersebut.

Satu Lagi, Praktek Curang UN Terungkap : Siswa SD Dipaksa Tandatangani Kesepakatan Konyol

Oleh Sri Endang Susetiawati Pendidikan di sekolah, idealnya adalah mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan kepada para muridnya Bukan malah sebaliknya, mengajarkan nilai-nilai keburukan atau bahkan mengajak praktek kejahatan yang bersifat konyol kepada para siswa. Namun, adanya laporan seorang ibu bernama Irma Lubis, ibu kandung MAB, siswi kelas 6 SDN 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada Komnas Perlindungan Anak, Sabtu lalu (28/5/2011), adalah salah satu bukti lagi adanya praktek pendidikan sekolah yang mengajarkan nilai-nilai yang tidak seharusnya.