Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Di Arab Saudi, Perempuan Menyetir Mobil Akan Dihukum Cambuk?

Oleh Sri Endang Susetiawati Bersyukurlah, wahai kaum perempuan di Indonesia. Dalam hal kebebasan mengemudi mobil di jalanan umum, ternyata Indonesia jauh lebih maju dari pada di Arab Saudi. Di negeri kerajaan ini, seorang perempuan yang mengemudikan mobil akan terkena hukuman berupa cambukan sebanyak 10 kali. Itulah yang terjadi pada diri Shema, seorang perempuan Arab yang pada bulan Juli lalu dianggap bersalah oleh pengadilan di Arab Saudi karena mengemudikan mobil di kota Jeddah. Berdasarkan undang-undang yang masih berlaku di negara tersebut hingga saat ini, perbuatan mengemudikan mobil di jalan umum merupakan tindakan yang dilarang oleh hukum negara. Ancaman pidananya, adalah dicambuk  sebanyak 10 kali.

Uang MGMP Dipotong, Selamat Berkorupsi Ria!

Oleh Sri Endang Susetiawati Memperoleh bantuan dana dari pemerintah (pusat) merupakan sebuah kegembiraan. Setidaknya, para guru akan lebih terbantu dalam menyelenggarakan beberapa kegiatan yang pernah dan akan dilakukan bersama. Namun demikian, bagaimana apabila dana itu sudah dipotong 10 % di muka, saat dana hendak dicairkan? Itulah yang terjadi pada kami, saat guru-guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) memperoleh bantuan dana untuk kegiatan pengembangan guru untuk satu bidang mata pelajaran yang sama. Ini fakta, Rp 2 (dua) juta per kelompok MGMP langsung dipotong oleh pihak Dinas setempat tanpa penjelasan sedikitpun, kecuali kalimat “harap maklum” saja.

Cerber Empal Gentong (4): Kaleng di Gubug Kumuh

Oleh Sri Endang Susetiawati Fia melihat dan mendengar langsung rangkaian gerbong kereta bergerak cepat dari jarak yang sangat dekat. Ia biarkan telinganya tertusuk-tusuk kuat oleh suara bising kereta yang amat sangat. Ia mulai terbiasa dengan ketidakbiasaannya yang baru. Meskipun, harus dengan sangat terpaksa. Langsung saja, ia merekam kembali kehidupan penghuni liar di pinggir lintasan rel kereta api. Si ibu terlihat hendak masuk ke dalam gubugnya, yang terbuat dari kayu bekas, dengan atap seng yang telah berkarat dan bermotif warna rupa pakaian-pakaian tua yang sedang dijemur. Dindingnya berbalut karton dus bekas serta kain bekas spanduk yang turut menghiasi. Fia minta ijin untuk ikut memasuki gubug. Si ibu tidak keberatan. “Masuk saja” katanya. Maka, masuklah Fia ke dalam gubug kumuh yang baru pertama kali ia masuki. Ia merekam kamar yang sangat sempit, pengap, sesak dan terlihat barang-barang yang berserak berantakan.

Cerber Empal Gentong (3): Haji Gendut yang Sombong!

Oleh Sri Endang Susetiawati Waktunya dianggap telah cukup. Misi hari ini dianggap telah terpenuhi. Si ibu memerintahkan anak-anaknya untuk segera pulang. Merekapun menuruti perintah sang ibu. Dengan perut yang sudah kenyang dan punggung yang telah menggendong barang, satu persatu mereka menaiki lagi pagar besi yang tinggi untuk dapat keluar dari lingkungan pabrik.  Begitu pun dengan si ibu, dengan menggendong anak kecil dan barang bekas. Tak terkecuali dengan Fia, yang meski rasa takut masih menghinggapi, ia harus ikut memanjat pagar besi kembali. Tanpa harus beristirahat lagi, mereka terus berjalan kaki menjauhi pabrik, mengayunkan langkah demi langkah,  dengan mengulang rute jalan yang telah sering mereka lewati. Sekarang, Fia menganggap telah tiba saatnya untuk mengajukan pertanyaan lanjutan kepada si ibu. Maka, ia pun mencoba untuk lebih mendekat. Ia coba pancing dengan kata-kata ulangan dari komentar si ibu sendiri.

Masuk Angin Badan Dikerok, Sehatkah?

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebagai orang Indonesia, tentu kita tidak asing dengan metode penyembuhan sendiri dengan cara menggosok tubuh dengan alat atau kerokan. Metode tradisional ini telah menjadi andalan banyak orang untuk mengatasi masuk angin, mual, atau tidak enak badan.
Meskipun terkesan tradisional, menurut ahli kedokteran olahraga dr Michael Triangto, Sp.KO, metode kerokan memang berkhasiat untuk menyembuhkan rasa tidak enak atau demam.
"Kerokan pada dasarnya adalah menipiskan kulit. Tindakan ini membuat panas tubuh mudah keluar sehingga suhu tubuh yang semula demam menjadi turun," kata dr Michael Triangto ketika ditemui dalam acara peluncuran produk koyo pereda nyeri otot di Jakarta, Selasa (13/9/2011).

Isu Reshuffle Kabinet, Di Tengah Harapan Nyaris Nol

Oleh Srie Reshuffle, sejatinya merupakan masalah yang biasa saja. Dalam sistem kabinet presidensial, pergantian menteri sepenuhnya  merupakan hak dan kewenangan seorang Presiden. Sebatas reshuffle sebagai bagian dari peningkatan efektivitas dan kinerja pemerintah, tentu saja rakyat akan mendukungnya. Lalu apa masalahnya? Secara prinsip, sebenarnya tidak ada masalah dalam hal reshuffle Kabinet. Apapun keputusan Presiden dalam mengganti para pembantunya, jelas merupakan kewenangannya yang telah diberikan oleh konstitusi. Masalah reshuffle itu muncul, diduga justru lebih banyak terletak pada Presiden sendiri. Mengapa? Isu reshuffle yang bergulir sejak Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II jelang berusia satu tahun, ternyata hanya merupakan isu belaka. Faktanya, pergantian itu tidak benar-benar terjadi. Meskipun, tanda-tanda keseriusan akan adanya reshuffle saat itu benar-benar dirasakan.

Klaim Feminin, dan Jebakan Mitos Perempuan

Oleh Sri Endang Susetiawati
Hati-hati saat menjelaskan mengenai masalah feminitas (keperempuanan) di ruang publik. Apalagi, bila kategorisasi feminin, lawan maskulin, kemudian diklaim sebagai sesuatu yang sangat benar, hampir tanpa kesediaan diri untuk dikritik. Atas nama label penelitian ilmiah, feminitas kemudian hendak diperjuangkan dalam bentuk tuntutan dalam sebuah gerakan yang masif. Mengapa perlu hati-hati? Karena, setidaknya untuk dapat lebih menghindari keterjebakan feminisme dalam mitos-mitos yang dibangunnya sendiri. Termasuk, bagi mereka para psikolog perempuan dan para pegiat perempuan, yang boleh jadi tidak terlepas pula dari keterjebakan yang mengenainya. Sudah sejak awal abad ke-20, krtitik atas psikologi androsentris telah dilakukan. Namun, upaya besar-besaran dalam membongkar mitos-mitos psikologi feminin terjadi pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Sejarah psikologi perempuan adalah sejarah perjuangan panjang dari psikologi androsentris (berpusat pada laki…

Menyoal Keperempuanan di Kompasiana

Oleh Sri Endang Susetiawati Seringkali, masih saja ada kerisihan saat seorang perempuan hendak berpartisipasi dalam sebuah kegiatan, dimana hubungan interaksinya tidak sebatas kaum hawa semata. Sebutlah contoh, dalam hal kegiatan menulis di Kompasiana. Benarkah? Amat tergantung atas konsep diri seorang perempuan. Yakni, bagaimana ia memandang dirinya sendiri, dan menempatkan lingkungan di luar dirinya, terutama terhadap kaum Adam. Risih, salah satunya amat mungkin berawal dari masalah cara pandang kesetaraan gender. Sungguhkah? Boleh jadi. Seorang perempuan yang masih menganggap gender sebagai sesuatu yang cukup menentukan dalam hubungan interaksi sosial, akan merasa lebih sensitif. Namun demikian, bagi kaum hawa yang mengganggap sudah selesai dalam hal kesetaraan gender, maka tidak akan merasakan banyak masalah lagi dalam membangun interaksi di manapun, sebatas ukuran yang digunakan tidak menempatkannya pada posisi yang inferior.

Kemendiknas Gagas Wajib Belajar 12 Tahun Melalui BOM

Bitung (ANTARA News) - Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Hamid Muhamad menggagas wajib belajar 12 tahun.

"Jika sekarang telah ada pendidikan dasar wajib belajar 9 tahun, yakni SD hingga SMP maka kedepan kami menambahkan wajib belajar 12 tahun," ujar Muhamad saat melakukan kunjungan di Kota Bitung, Sulawesi Utara, Kamis.

Alasan digagasnya wajib belajar 12 tahun, kata Muhamad, karena melihat anak-anak didik setelah lulus dari pendidikan dasar, tidak bisa melanjutkan ke tingkat SMU sederajat.

"Tercatat lulusan SMP yang tidak bisa melanjutkan ke SMU sederajat bisa mencapai 1,2 juta anak usia sekolah," ujarnya.

Sering Tonton Kartun SpongeBob, Rugikan Balita

TRIBUNNEWS.COM - Sering menonton kartun cepat ternyata merugikan kemampuan balita untuk berkonsentrasi dan memecahkan teka-teki berbasis logika. Parahnya, satu penelitian menyebutkan kebiasaan ini juga bisa merusak memori jangka pendek mereka. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Virginia di AS ini melibatkan 64 anak yang secara acak dibagi dalam tiga kelompok. Satu kelompok diminta secara khusus menonton sembilan menit kartun SpongeBob SquarePants yang populer, di mana perubahan adegan terjadi pada rata-rata setiap 11 detik. Kelompok lain mengamati kartun pendidikan dengan perubahan adegan rata-rata setiap 34 detik, sedangkan kelompok terakhir diizinkan untuk menggambar. Setelah itu anak-anak kemudian diminta untuk menyelesaikan berbagai tes. Yang pertama, tes teka-teki, dan tes yang kedua adalah tes mengikuti petunjuk.

Nikmati (Lagi) Kompasiana, dengan Satu Cara!

Oleh Sri Endang Susetiawati Seorang teman yang telah cukup lama aktif di Kompasiana, akhir-akhir ini sempat mengeluh tentang kehadirannya di Blog keroyokan ini. Apa sebabnya? Katanya, ada yang berbeda di Kompasiana. Katanya, serasa mulai jenuh dan kurang menarik lagi. Katanya, bla..bla..bla..bla..bla..! “Apa sebabnya?” tanyaku “Entahlah, saya sendiri tidak tahu persis.. hehe” jawabnya singkat. “Hmm.... sesuatu yang wajar” balasku. Semua ada saatnya, semua ada masanya. Semua ada proses, semua ada hal yang diperoleh dan dirasakan. Semua ada yang pernah hilang. Termasuk, saat aktivitas berkompasiana ria.

Dalam Pertemanan, Kita Menjadi Murid dan Guru Sekaligus!

Oleh Sri Endang Susetiawati Mengapa sering kali kita bermasalah? Sebagiannya, amat mungkin disebabkan oleh cara kita sendiri dalam memandang masalah. Lihatlah, bagaimana seorang ibu yang hatinya panas tatkala melihat tetangganya, baru saja membeli sebuah mobil baru. Ingatlah, bagaimana ketika seseorang seolah merasa tidak rela ketika temannya dihargai oleh orang lain. Ya. Semuanya lebih dikarenakan oleh cara pandang atau perspektif kita sendiri terhadap masalah. Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu menjadi masalah, justru berubah menjadi masalah bagi dirinya sendiri. Betapapun, seringkali tidak disadari oleh diri sendiri sebagai sebuah masalah. Mulailah, untuk terbiasa berpikir positif. Bahwa masing-masing orang memiliki bagiannya sendiri. Bahwa limpahan rizki yang diterima, adalah bagian dari hasil ikhtiar dan karunia kebahagiaan dari yang di Atas. Bahwa, kita pun pernah, sedang atau akan memperoleh hal yang sama meski tidak harus dalam bentuk yang hampir persis sama.

PGRI : Kebijakan Baru Kemenpan Jangan Bikin Guru Stres

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) kembali menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2011, di Jakarta. Ada beberapa hal yang dibahas dan nantinya akan direkomendasikan kepada pemerintah. Salah satunya adalah harapan PGRI agar dinas pendidikan, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara (Kemenpan), serta pihak-pihak lainnya, tidak membuat kebijakan dan regulasi yang memberatkan guru, terkait pengembangan dan pembinaan profesi. Ketua Umum PB PGRI, Sulistiyo, memaparkan, ada rumor yang beredar jika Kemenpan ingin menambah jam mengajar guru menjadi setara dengan jam kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada umumnya, yaitu yang semula 24 jam dalam seminggu menjadi 27,5 jam dalam seminggu.

Sampeyan Muslim?

Oleh Srie

Ada damai dalam diri muslim. Ada kasih dalam ucap katanya. Ada sayang dalam tiap goresan tangannya. Ada kedamaian dalam tiap langkahnya. Bukankah Islam berarti juga damai? Perdamaian dalam nilai-nilai kebenaran adalah di atas segala-galanya. Damai berakar pada penghormatan nilai-nilai universal kemanusiaan. Tiada damai tanpa penghormatan pada nilai-nilai kemanusiaan. Damai itu ada di hati. Hatilah yang mendamaikan mulut saat bicara. Hatilah yang mendamaikan tangan saat menulis. Agar ucap dan kata-katanya tidak berbuah penistaan atas orang lain.

PGRI : Pengelolaan Guru Kembalikan Ke Pusat

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2011, hari ini, Kamis (8/9/2011), di Jakarta.
Dalam Rakornas tersebut PGRI mengusung dan merumuskan draf yang berisi beberapa isu fundamental terkait otonomi pendidikan dan pengelolaan guru. Isu tersebut sengaja diambil karena PB PGRI menilai setidaknya dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini terjadi banyak persoalan di dalamnya.
Persoalan yang dimaksud di antaranya adalah pengadaan guru, rekruitmen dan penempatannya, kesejahteraan (khususnya guru non PNS), perlindungan dan jaminan hidup para guru di hari tua. Contoh lainnya adalah tinjangan profesi guru yang dinilai jauh dari memadai.

Usai Idul Fitri, Korupsi Akan tetap Lestari?

Oleh Sri Endang Susetiawati Uruslah pembuatan KTP. Pasti akan diminta “uang rokok” atau “uang bensin” di tingkat Kelurahan atau Desa, hingga di tingkat Kecamatan. Pepanjanglah STNK di kantor SAMSAT. Pasti akan diminta uang cek fisik kendaraan dan uang administrasi tambahan saat STNK diserahkan. Ajukan kenaikan pangkat atau golongan PNS pada Dinas terkait. Pasti akan diminta uang administrasi liar saat pengambilan SK baru. Uruslah pembuatan Akte Lahir pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, yang katanya gratis bagi bayi yang baru dilahirkan. Pasti, masih akan diminta “uang jasa” saat Akte Lahir diserahkan beberapa hari kemudian. Daftar pungutan liar akan semakin panjang. Cobalah berhubungan dengan pelayanan birokrasi pemerintahan yang lainnya. Pasti akan diminta “uang pengertian” yang sebenarnya merupakan praktek korupsi dalam skala yang terkecil. Mekanisme birokrasi hampir selalu meminta biaya tambahan yang bersifat liar, di luar biaya resmi yang telah ditentukan.

Sahabat, Anda Memilikinya?

Oleh Sri Endang Susetiawati 


Sahabat. Ya, orang yang dianggap paling dekat dengan diri kita. Kehadirannya menyiratkan keberartian. Ada rasa nyaman dan senang saat bersamanya. Sekat-sekat antar pribadi itu longgar. Dalam batas tertentu, kita bisa leluasa untuk menyelam hingga pada pribadi dan hati yaang terdalam. Saat absen dari pandangan mata, kita akan merasakan kehilangan. Ada sesuatu yang membuat kita merasa sendiri.  Dalam jangka waktu tertentu, ingin rasanya untuk segera berbicara, berbincang untuk sesaat. Walau hanya sekedar tanya dan sapa berbasa basi. Kala telah tiada, adalah saat yang paling sulit untuk diterima. Perasaan hampir berkata untuk tidak percaya. Keberartian seorang sahabat, kian terasa. Kehadirannya saat masih bersama sangat berharga. Ada penyesalan yang amat mungkin belum terkatakan.

Idul Fitri: Boleh Maaf-Maafan, Jangan Maafkan Korupsi!

Oleh Sri Endang Susetiawati Pagi itu, sholat Idul Fitri diadakan di sebuah lapang terdekat. Tampak ribuan orang cukup memadati barisan sholat. Sang Khatib sholat Ied pun masih terus bersemangat. “Boleh, kita mohon maaf, dan saling memaafkaan. Asal jangan sekali-kali kita memaafkan korupsi!”.

Para jamaah tampak termanggut-manggut saat mendengarkannya. Mereka pun terus menyimak. Kata sang Khatib, percuma kita berpuasa, kalau kita bertoleransi ria pada mereka, para perampok uang negara. Percuma kita ber-Idul Fitri, kalau hanya untuk melupakan para pelaku korupsi. Ada tugas yang lebih besar, usai kita berlebaran. Ada perjuangan dan jihad yang lebih dahsyat, usai kita sholat.



Mudik Lebaran Usai, Lalu Apa?

Oleh Sri Endang Susetiawati Bulan Ramadhan sudah lewat. Idul Fitri telah dijalani. Dan, tradisi mudik pun telah usai sudah.  Pertanyaannya, lalu apa lagi? Secara fisik, amat mungkin kita akan kembali pada rutinitas kegiatan sehari-hari. Bagi mereka yang menjadi pegawai negeri atau swasta, mereka akan kembali melaksanakan kegiatan sehari-harinya sebagai pegawai. Mereka yang berdagang atau berbisnis, akan kembali menekuni kegiatan bisnisnya sehari-hari. Mereka yang kebetulan hanya berlaku sebagai ibu rumah tangga, tentu akan kembali pada rutinitas kerumahtanggaannya. Mahasiswa dan pelajar akan kembali pada tugas-tugas belajarnya, dan seterusnya.