Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

PGRI : Kebijakan Baru Kemenpan Jangan Bikin Guru Stres


JAKARTA, KOMPAS.com - Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) kembali menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2011, di Jakarta.
Ada beberapa hal yang dibahas dan nantinya akan direkomendasikan kepada pemerintah. Salah satunya adalah harapan PGRI agar dinas pendidikan, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara (Kemenpan), serta pihak-pihak lainnya, tidak membuat kebijakan dan regulasi yang memberatkan guru, terkait pengembangan dan pembinaan profesi.
Ketua Umum PB PGRI, Sulistiyo, memaparkan, ada rumor yang beredar jika Kemenpan ingin menambah jam mengajar guru menjadi setara dengan jam kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada umumnya, yaitu yang semula 24 jam dalam seminggu menjadi 27,5 jam dalam seminggu.

"Tolong jangan membuat regulasi yang menyebabkan guru stres," kata Sulistiyo, saat ditemui di sela-sela Rakornas PB PGRI, Kamis (8/9/2011) sore, di Jakarta.
Pria yang akrab disapa Sulis ini menambahkan, menurut penilaian berkelanjutan yang dirancang oleh Kemenpan, dan akan berlaku mulai 1 Januari 2013, penilaian guru juga diharuskan dengan unsur publikasi karya ilmiah. Menurutnya, itu menjadi tidak realistis dengan kondisi guru saat ini yang terbentuk dari hasil pembinaan dan lembaga pendidikan guru di masa lalu.
"Sekarang masih banyak guru yang mutunya memang belum bagus. Jangankan disuruh nulis penelitian, apalagi yang bekerja di pedalaman, seminar saja tidak pernah ada. Jadi, jika ingin membuat aturan untuk mengatur guru, hendaknya mengacu pada kondisi riil guru saat ini. Basisnya bukan keinginan yang ngawur tanpa mengenal kondisi sesungguhnya, karena itu dapat membuat guru stress," imbuhnya.
Selain itu, Sulis juga mengimbau agar semua pihak jangan menutup mata dan menyamaratakan jika semua guru hebat. Meski baru sekadar wacana, tapi dirinya mengaku dapat menangkap, jika di setiap waktu selalu ada upaya untuk mempersulit guru.
Ia memberikan contoh, misalnya saja guru yang mengajar mata pelajaran Kesenian yang hanya mendapat jatah satu jam dalam seminggu. Untuk memenuhi 24 jam waktu mengajar, berarti guru tersebut harus mengajar 24 kelas dengan 40 orang siswa, padahal tidak semua sekolah mempunyai 24 kelas.
Berbanding terbalik, misalnya, dengan guru yang mengajar mata pelajaran Matematika. Guru tersebut dapat mengajar empat jam dan hanya memerlukan enam kelas. Baginya, ini merupakan bentuk ketidakadilan.
"Saya berharap rekomendasi PGRI kali ini dapat lebih diperhatikan, termasuk yang terakhir peraturan penghasilan minimal guru non PNS, supaya lebih diatur oleh pemerintah. Setidak-tidaknya sama dengan gaji guru PNS dengan pangkat terendah, dan masa kerja nol tahun. Jika bisa, itu akan sangat baik, tetapi kalaupun anggarannya tidak ada, kami mohon tetap diatur dengan baik, sehingga tidak ada lagi pihak-pihak yang menganiaya profesi guru dengan memberikan upah semena-mena," tandasnya.


Baca Juga

Komentar