Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Busyro: Umat Islam, Penentu Indonesia Bebas Korupsi


TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas menjadi imam dan khatib Idul Adha di Alun-alun Utara Yogyakarta, Ahad, 6 November 2011. Dalam khotbahnya, Busyro menegaskan Idul Adha adalah momen introspeksi diri.
"Berkurban seharusnya menjadi momen introspeksi diri bangsa untuk merefleksikan mengikuti teladan Nabi Ibrahim," kata Busyro.
Menurut Busyro, umat Islam adalah pembentuk dan penentu sejarah masa depan Indonesia yang berkeadilan sosial dan bebas korupsi. Korupsi sendiri adalah bentuk dari penjarahan duit negara. "Adapun keuangan negara hakikatnya adalah anugerah Allah SWT dan menjadi hak rakyat," katanya.

Karenanya, kata Busyro, umat Islam bukan merupakan umat yang terus-menerus dikendalikan dan ditentukan nasibnya oleh pihak lain, termasuk sebagian penguasa yang melanggar dan mengkhianati amanah, penipu, dan penjarah harta rakyat.

Busyro menegaskan, pejabat negara dan pemerintah bukan alat dan ATM bagi partai politik, keluarga, dan kroninya, melainkan pengemban dan pelayan pemenuhan hak-hak rakyat.
"Kita prihatin dengan kemiskinan yang semakin masif di negeri kaya raya sumber daya alam ini akibat korupsi yang sudah bersifat sistemik, menggurita, dan struktural. Korupsi pasti berakibat pemiskinan massal di pihak rakyat," katanya.
Menurut dia, korupsi dilakukan oleh sebagian orang yang sedang diberi amanat di DPR/DPRD, pemerintah pusat/daerah, penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim), dan sebagian pegawai negeri sipil.
Korupsi sebagai tindakan kumuh secara moral sekaligus kejahatan kemanusiaan itu juga dilakukan oleh swasta, yakni sekelompok pengusaha yang menjalankan roda bisnisnya dengan cara menyuap pejabat pemerintah, pejabat negara, dan penegak hukum.
"Sasaran korupsi bukan saja terhadap APBN dan APBD, tetapi juga sektor penerimaan negara dari pajak, minyak, gas, dan batu bara. Bahkan yang menyedihkan, agama pun dikorupsi arti dan fungsinya sebagai pembenaran tindakan politik yang korup," katanya.
Karenanya, Busyro meminta ajang berkurban dalam Idul Adha mengandung makna yang besar bagi kebutuhan hadirnya pemimpin bangsa dan pemimpin negara yang cerdas, tajam nurani, akhlak, keilmuan, dan kepemimpinan. Ia berpesan, bangsa Indonesia tidak menyerahkan kepercayaan memimpin bangsa ini kepada mereka yang hanya tampak pintar, kaya, dan pandai beretorika.
Pada ajang pemilihan umum dan pemilihan presiden 2014, kata dia, merupakan pintu masuk yang paling kritis untuk keselamatan atau bangkrutnya bangsa dan negara ini. Jika salah memilih berarti mengorbankan bangsa sendiri. Ke depan, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu memadukan akhlak, ilmu, dan kepemimpinan yang tegas. "Pemimpin juga harus sederhana, pemberani, dan jujur," kata dia.
Ribuan umat muslim di Yogyakarta menjalankan salat Idul Adha di lapangan, masjid, dan lapangan terbuka di kantor pemerintah seperti di kompleks Balai Kota Yogyakarta juga di Alun-alun Utara. Meskipun mendung dan lokasi lapangan yang becek, tidak menyurutkan umat untuk menjalankan ibadah tahunan itu.
Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, beserta keluarga dan masyarakat menjalankan ibadah salat Idul Adha di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta bersama jajaran pimpinan daerah. "Pengorbanan akan bermakna besar jika dilakukan dengan tulus. Berkorban bagi bangsa agar bisa mengatasi cobaan bangsa," kata Sultan.


MUH SYAIFULLAH | WDA | ANT
Baca Juga

Komentar