Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Ensiklopedi al-Qur’an: Islam (4)

Oleh M. Dawam Rahardjo

Barangkali karena ketidakpuasan terhadap buku introduksi Islam selama ini yang ditulis oleh orang-orang Barat, maka Fazlur Rahman tak ketinggalan ikut menulis buku dengan judul singkat, Islam (University of Chicago Press, 1979). Ia menyadari bahwa tak seorang pengarang pun yang mampu menulis tentang agamanya sendiri, tanpa menyampaikan sesuatu pun mengenai identitas batinnya sendiri dalam menyampaikan pesan-pesan agama yang bersangkutan. Di lain pihak untuk menulis sebuah buku bagi pembaca non-Muslim, ia perlu bersikap obyektif dalam melihat sejarah agamanya sendiri.
Dalam bukunya itu, ia memulai menjelaskan Islam dengan menampilkan Nabinya, Muhammad SAW. Baru kemudian, ia berbicara mengenai al-Qur’an dan Sunnah. Sesudah itu ia berbicara tentang fiqh, teologi dan tasawuf. Bagian-bagian akhir bukunya berbicara mengenai Islam di zaman modern. Di sini, ia sekaligus berbicara Islam sebagai Islam-ideal dan Islam-historis, walaupun ia lebih membatasi diri pada aspek kebudayaan dan intelektual.
Kategorisasi lain tentang Islam diberikan oleh Willfred Cantwell Smith dalam bukunya On Understanding Islam (Mouton Publisher, The Hague, 1981). Islam dapat dilihat dalam tiga kacamata. Pertama, bersifat pribadi (personal), sebagai kepercayaan seseorang secara aktif. Di sini, keseluruhan keberadaan seseorang terlibat, dalam semacam transaksi, antara jiwanya dengan jagad.
Dalam keyakinannya ini, nasibnya dalam keabadian, dipertaruhkan. Hal ini menyangkut pengambilan keputusan yang bersifat pribadi dan tak teringkari. Penyerahan dirinya, apabila kita mengacu pada makna “Islam”, bersifat sangat khusus dan tersendiri, dibanding dengan keputusan orang lain. Dalam kategori ini, Islam bukanlahnama dari suatu agama, melainkan jenis atau macam komitmen dan sikap pribadi seseorang, yaitu “menyerahkan diri” pada Sesuatu, yaitu Tuhan.
Kategori kedua dan ketiga, bersifat non-pribadi (impersonal). Yang kedua adalah Islam sebagai sistem keagamaan yang bersifat ideal, dan ketiga, Islam sebagai sistem keagamaan yang bersifat historis. Keduanya telah mengalami obyektifasi (objectified). Sebagai islam-ideal dan Islam-historis, sebenarnya Islam telah mengalami sistematisasi yang sifatnya rasional atau mengandung upaya rasionalisasi. Inilah yang disebut Lewis sebagai Isalam yang telah diinterpretasikan. Lebih jauh lagi, Islam telah mengalami proses pelembagaan (institusionalized) dalam masyarakat.
Sistem, menurut Smith, dapat dikonseptualisasikan dengan dua cara, secara ideal dan secara historis. Antara yang ideal dan aktual, dan antara yang hakiki (essence) dan yang maujud (existence), selalu ada jurang (gap), sesuatu yang dikenal luas. Barangkali, seperti ditekankan oleh Smith, dalam kasus agama, jurang pemisah itu sangat dalam dan luas, karena di sini, aspirasi agama dan cita agama, dalam sifatnya yang paling alamiah, adalah sesuatu yang tinggi, yang mulia.
Sementara yang aktual, menurut hakikat manusia dan masyarakat, kerapkali terbukti dangat koruptif, sangat terlibat dalam proses kemasyarakatan, yang selalu terkena pengaruh, didominasi dan diselewengkan oleh berbagai macam faktor. Kalau suatu agama mengajarkan persaudaraan dan perdamaian umpamanya, mengapa gejala aktualnya memperlihatkan konflik, permusuhan dan perang? Di sini, orang perlu melihat pada faktor sosial, politik atau ekonomi yang mempengaruhi dan melatarbelakangi. Perang agama yang dicatat terjadi di Eropa yang berlngsung puluhan tahun umpamanya, kemungkinan besar bukanlah pertentangan agama, melainkan perang antara kekuasaan feodal atau perang etnis.
Buku yang memperkenalkan Islam secara utuh, merupakan ide bagus. Seorang pengarang non-Muslim yang mengarang buku semacam ini, niasanya mengandung maksud untuk memperkenalkan Islam di lingkungan masyarakatnya, dengan mengurangi bias sejauh mungkin, dan sebaliknya berusaha untuk memahami Islam “dari dalam”. Buku semacam ini pada umumnya cenderung melihat Islam sebagai Islam-historis, seperti dicontohkan oleh buku-buku yang disinggung di atas.
Sekalipun sudah berusaha melukiskan Islam seobyektif mungkin, hasilnya biasanya tetap kurang memuaskan. Inilah yang mengundang pemikir Muslim sendiri untuk menulis buku serupa. Biasanya orang yang menulis buku semacam ini adalah pemikir terkemuka yang mampu melakukan abstraksi dan mengacu pada alam pikiran masyarakat, seorang yang punya ide dan mengemban misi pembaharuan.
Itulah yan dilakukan umapamanya oleh Syekh Mahmoud Syaltout dalam Islam : al-Aqidah wa al-Syari’ah. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Hamka, juga menulis buku Pelajaran Agama Islam, sebuah buku yang cukup sukses, terbukti dengan cetak ulangnya, paling tidak tujuh kali (hingga 1982). Ini menunjukkan kebesaran Hamka sebagai pemikir Indonesia, sekalipun dalam bukunya itu Hamka hanya menjelaskan Rukun Islam dan Rukun Iman saja.
Buku-buku introduksi yang ditulis oleh pemikir Muslim pada umumnya bertolak dari konsep Islam-ideal. Kecuali yang ditulis oleh Fazlur Rahman, ia sekaligus merangkum Islam-ideal dan Islam-historis. Inilah kelebihan pemikir Amerika-Pakistan ini dari pemikir-pemikir kontemporer lainnya. Bukunya tidak saja efektif bagi pembaca Barat, tapi juga bagi kaum Muslim sendiri. Bukunya itu, sekaligus memuat gagasan-gagasan pembaruannya, terutama di bidang intelektual. *** By Srie.

(Bersambung......)        
Baca Juga

Komentar