Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Ensiklopedi al-Qur’an, Islam (5) : Apa Artinya Islam?

Oleh M. Dawam Rahardjo

Telah banyak buku atau artikel ditulis tentang Islam dalam keseluruhannya. Tapi semua buku itu hanya sedikit mengupas tentang apa arti Islam secara mendalam. Tak seorang pun penulis, Muslim ataupun non-Muslim yang mendedikasikan sebuah artikel saja yang secara khusus mengupas apa arti Islam, kecuali Prof. Dr. P.A. Hoesein Djajadiningrat. 
Bukunya Apa artinya Islam (J.B. Wolters, Jakarta, Groningen), sebenarnya berasal dari pidato pada peringatan Dies Natalis ke-4 Universitas Indonesia, 4 Februari 1954. Tulisan ini juga menunjukkan kehebatan pelopor kesarjanaan di kalangangan bangsa Indonesia itu, sebagai pemikir. Ia biasanya menulis Islam-historis. Tapi dalam pidato dan bukunya itu ua menulis sebuah Islam-ideal.

Keterangan tentang apa arti dan maksud istilah Islam, dengan beberapa kata jadian dari kata kerja aslama, yang berarti “menyerahkan diri” itu, sebenarnya cukup banyak dijumpai dalam al-Qur’an sendiri. Tapi arti kata itu sendiri dari segi substansi pernah menjadi bahan pertanyaan di antara para sahabatt. Sehingga pada suatu hari, Rasululah saw. Pernah menjelaskan maksud kata itu sebagai jawaban terhadap seseorang yang tidak dikenal. Kumpulan Hadits Muslim diawali dengan sebuah riwayat tentang arti kata Islam,  sekaligus juga kata iman dan akhirnya kata ihsan. Inilah trilogi ajaran Islam. Hadits itu sangat menjelaskan kata Islam, karena dikemukakan dalam perspektif perbandingan maknanya dengan kata  iman dan ihsan. Itulah agaknya alasan, mengapa, dalam kupasannya tentang arti kata Islam, Hoesein Djajadiningrat memaknai kerangka Hadits Nabi di atas.
Pada mulanya, Prof. Djajadiningrat menjelaskan kata “Islam” secara harfiah, dengan contoh-contoh dari ayat-ayat al-Qur’an. Melalui kata kerja aslama, ia mengutip Q.S. al-Baqarah : 112, yang berbunyi: “Ya, barangsiapa menyerahkan diri kepada Allah dan ia berbuat baik, maka ia mendapat pahalanya pada Tuhannya dan tak ada ketakutan padanya dan tidak ia berduka cita.”. Ini adalah kata kerja, yang menyebut obyek, yaitu “diri” atau “jiwa” (arti sebenarnya adalah “muka”, atau menurut keterangan Muhammad Ali, “seluruh jiwa dan raganya”).
Contoh yang tidak menyebut obyeknya adalah Q.S. Jin : 14 yang berbunyi: “Dan bahwa dari pada kami ada yang berserah dan dari pada kami ada yang menyimpang dari jalan kebenaran. Maka barang siapa berserah, mereka itulah menempuh jalan yang tepat.” Di sini Djajadiningrat mengartikan kata aslama sebagai “menyerahkan dengan tulus hati” atau “mengikhlaskan”. Dalam penjelasan itu, ia membedakan kata “Uslam” sebagai sikap jiwa seseorang dan “Islam” sebagai nama sebuah agama, berdasarkan Q.S. Ali Imran : 19 yang berbunyi: “Pada hari ini, Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Kulengkapkan atasmu kurnia-Ku dan Aku memilih bagimu Islam sebagai agama”.
Dalam penjelasan ini, tak lupa Djajadiningrat menampilkan arti beberapa kata yang berasal dari kata jadian yang sama, dari mana makna Islam ditarik, yaitu salima min (dari), artinya selamat dari; Muslim, orang yang menyerahkan diri; dan salam, yang artinya sejahtera, kesejahteraan, tempat sejahtera. Salah satu nama Tuhan yang disebut dalam al asma al-husna (Q.S. al-Hasyr : 23), nama-nama yang indah, adalah al-Salam, yang ditafsirkan oleh Djajadiningrat sebagai “selamat (yakni suci) dari kekurangan dan keburukan apapun juga”. Pada pokoknya, dari segi harfiah, Djajadiningrat menjelaskan makna kata Islam, dari jurusan kata kerja aslama, menyerahkan diri pada, yang membentuk kata Islam dan Muslim dari kata salima, selamat dari, yang membentuk kata salam, yang artinya kesejahteraan atau kedamaian.
Djajadiningrat juga mencoba menguji, bagaimana orang, dari alam pikiran dan alam kepercayaan lain mampu menangkap makna Islam itu. Selain mengutip pandangan penyair besar Goethe, seperti telah kita kutip di atas, ia juga mengemukakan bagaimana sejarawan Inggris terkenal, Thomas Carlyle, dalam bukunya yang masyhur One Heroes, Hero-Worship and Heroic in History dan ceramahnya The Hero as Prophet, Mahomet, Islam”, menanggapi Islam sebagai:
...demikian pula halnya “Islam”. Bahwa kita mesti menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Bahwa seluruh kekuatan kita terletak pada penyerahan diri yang menyeluruh kepada-Nya, apapun tindakan-Nya kepada kita. Untuk kehidupan di dunia ini atau untuk kehidupan lain nanti! Apapun yang diturunkan kepada kita, apakah itu kematian atau lebih buruk lagi dari itu, akan baik dan terbaik; kita menreahkan diri kepada Tuhan. “Apabila ini Islam” kata Goethe, “apakah kita semua tidak hidup dalam Islam?” Ya, semua kita yang memiliki seseuatu kehidupan moral, akan hidup secara demikian.
Betapapun simpatinya Carlyle pada Islam, Djajadiningrat masih merasakan kurangnya kandungan “asas keagamaan yang dalam”, pada keterangan tokoh ilmuwan yang dibesarkan dalam alam keagamaan Calvinisme itu. *** By Srie

(Bersambung.......)
__________________
Keterangan: Artikel ini disalin dari majalah Ulumul Qur’an, volume III, no. 4 tahun 1992.
Baca Juga

Komentar