Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Ensiklopedi al-Qur’an, Islam (6): Makna Substantif Islam, Trilogi Iman, Islam dan Taqwa

Oleh M. Dawam Rahardjo

Cara ketiga yang dilakukan oleh ahli sejarah, ahli bahasa dan ahli Islam ini adalah menjelaskan makna substantif Islam. Makna Islam secara substantif ini dijelaskan dari Hadits Nabi saw. Yang kemudian dirumuskan oleh para ulama sebagai Rukun Islam, yaitu mengucapkan syahadat (kesaksian) “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah”, menegakkan shalat, menjalankan puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat dan melakukan perjalanan haji paling tidak sekali dalam hidup, jika mampu.
Namun, arti Islam secara substantif tidak hanya itu. Pernah Rasulullah saw. ditanya tentang “Islam yang lebih baik (afdhal)”. Terhadap pertanyaan itu, Nabi memberikan penjelasan, di antaranya yaitu:

·    Kaum Muslim adalah mereka yang selamat dari lidahnya dan tangannya (tentu saja dari perkataan buruk dan perbuatan buruk).
·         Engkau memberi makan dan engkau mengucapkan salam kepada yang engkau kenal dan yang tak kau kenal.
·     Islam yang paling baik ialah bahwa engkau memberi makan kepada yang lapar dan menyebarkan perdamaian di antara yang engkau kenal dan yang tak kau kenal (ke seluruh dunia).
·         Muslim bersaudara dengan sesama Muslim, tidak bertindak zalim dan tidak dizalimi.
·         Muslim bukan pencerca dan bukan pengutuk.
Beberapa petikan Hadits di atas memberikan penjelasan tentang substansi Islam dan bukan kata Islam. Di situ keislaman ditunjukkan oleh perkataan dan perbuatan. Islam adalah juga sesuatu yang dihasilkan oleh perkataan dan perbuatan itu, misalnya, persudaraan, kesejahteraan dan perdamaian. Barangkali dari sinilah Esposito dan yang lain mengambil kesimpulan, bahwa keislaman itu tidak terutama ditunjukkan oleh apa yng dipercaya oleh seseorang (faith), seperti halnya kekristenan pada kaum Kristen, melainkan dengan perbuatannya (action).
Selanjutnya, Djajadiningrat menjelaskan Islam dalam hubungannya dengan Iman. Baginya, tiap-tiap kata mengandung pengertian tersendiri. Tapi, pertumbuhan dan perkembangan kata membawa pertumbuhan dan perkembangan pengertiannya. Kata-kata yang sepokok dan karena itu pada dasarnya sepengertian, dalam pertumbuhan dan perkembangannya bukan saja mempunyai hubungan bentuk, tapi juga hubungan pengertian. Ia memberi contoh perihal kata yang bukan sepokok dengan Islam, tapi sekategori dalam pengertiannya, yaitu kata iman, yang berarti kepercayaan agama dan ihsan, perbuatan yang baik.
Islam, adalah penerimaan apa yang disampaikan oleh Nabi dan Rasul saw., sedangkan iman adalah pembenaran dengan hati. Sedangkan ihsan adalah perwujudan dalam perbuatan. Dengan perkataan lain, iman adalah tindakan interiorisasi dan internalisasi, sedangkan Islam adalah eksteriorisasi atau eksternalisasi apa yang ada dalam keyakinan seseorang. Dalam analisisnya, ia mengambil kesimpulan bahwa penjelasan substantif Nabi saw. mengenai iman sama dengan penjelasannya tentang Islam.
Penjelasan seperti itu juga dilakukan oleh Fazlur Rahman, dalam karangannya “Some Key Ethical Concept of the Qur’an” (The Journal of Religious Ethics, Vol. 2, No. 2, 1983). Dalam kata Islam, terkandung pengertian iman. Demikian pula dalam kata iman, terkandung pengertian Islam. Lebih jauh, Rahman menambahkan bahwa tumpang tindih makna itu terjadi juga dengan kata taqwa. Karena itu, konsep etik al-Qur’an, menurut Rahman terkandung pada trilogi Iman-Islam-Taqwa.
Islam, menurut Rahman, berakar pada kata s-l-m, artinya “aman” (to be safe), “keseluruhan” (whole), dan “menyeluruh” (integral). Kata silm, pada Q.S. al-Baqarah : 208, berarti “perdamaian” (peace), sedangkan kata salam, dalam Q.S. al-Zumar : 29, berarti “keseluruhan” (whole), sebagai kebalikan dari “terpecah dalam berbagai bagian”, walaupun  salam dalam Q.S. al-Nisa : 91, mengandung arti “perdamaian”. Dalam berbagai penggunaannya, kata Islam ini berarti “perdamaian”, “keselamatan” atau “uluk salam”. Dengan melihat berbagai maknanya itu, maka secara keseluruhan tertangkap ide bahwa dengan penyerahan diri kepada Tuhan, seseorang akan mampu mengembangkan seluruh (whole) kepribadiannya secara menyeluruh (integral).
Sementara itu iman, yang arti umumnya, adalah percaya, berakar dari kata a-m-n, yang artinya “(dalam keadaan) damai dengan diri sendiri” (to be at peace with oneself). Atau “merasakan tidak adanya kegoncangan dalam diri seseorang”. Dalam Q.S. al-Baqarah : 283, kata iman disebut dalam arti “menitipkan sesuatu pada seseorang untuk disimpan” (depositing something with someone for safe keeping”). Dalam kaitan ini, kata amanah pada Q.S. al-Nisa : 58, dan yang lain, berarti “penyimpanan yang aman” (safe deposit).
Pada Q.S. al-Azhab : 33, berarti “mempercayakan” atau “mengandalkan” (trust). Pada Q.S. al-Nisa : 83, al-Baqarah : 125, dan ayat-ayat lain, iman menunjuk pada pengertian “keselamatan dari bahaya (luar)”.  Karena itu, aman untuk mengatakan bahwa makna dasar dari iman, adalah “kedamaian” (peace) dan “keamanan” (safety). Kata-kata amana bil-Allah berarti “percaya pada” atau “mempercayajan diri pada Allah”. Bukankah kita dapat pula mengatakan “menyerahkan diri pada Allah”, yang merupakan tindakan aslama, guna memperoleh salam?
Lain dari pada itu, kata taqwa yang juga ditampilkan oleh Rahman, arti populernya adalah “patuh pada Allah”, atau saleh (peity). Tapi, dengan menengok pada akar katanya w-q-y, maka kita beroleh arti kata taqwa, “melindungi” (to protect), “mengamankan dari kehancuran” (to save from destruction), atau “memelihara” dan “melestarikan” (to preserve). Dalam bentuk kata kedelapan, kata ini meninbulkan arti  “memelihara seseorang dari kemungkinan bahaya atau serangan”, dan karena itu merupakan tindakan “berhati-hati” (to be careful).
Dalam arti keagamaan yang dimaksudkan oleh al-Qur’an, kata ini berisikan kandungan moral, “terpelihara dari kegoncangan moral” atau “takut karena bertanggung jawab”. Di sini pun, terjadi artinya yang paralel dengan “menyerahkan diri pada hukum Tuhan”, agar terpelihara dari kegoncangan atau krisis kejiwaan.*** By Srie

(Bersambung.......)

__________________
Keterangan: Artikel ini disalin dari majalah Ulumul Qur’an, volume III, no. 4 tahun 1992.


Baca Juga

Komentar