Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Ensiklopedi al-Qur’an, Islam (8): Pasal 29 UUD 1945, Kalimah al Sawa’ di Indonesia


Oleh M. Dawam Rahardjo

Pada ayat selanjutnya, Q.S. al-Baqarah : 66, al-Qur’an melukiskan Ibrahim bukan sebagai seorang Yahudi maupun Nasrani, melainkan seorang yang hanif, seorang yang tulus dan cenderung pada Kebenaran dan seorang Muslim, yang menundukkan dirinya hanya pada Allah:
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani. Akan tetapi, ia adalah seorang yang lurus (hanif), dan seorang yang menyerahkan diri (Muslim), dan sekali-kali dia bukanlah dari kategori orang-orang yang menyekutukan (musyrik).
Istilah musyrik dalam ayat itu secara formal diartikan sebagai “orang yang menyekutukan Tuhan dengan yang lain”. Arti materialnya, seorang musyrik adalah yang tunduk pada sesuatu yang bukan Tuhan, misalnya hawa nafsu, kekayaan, ras, bangsa, kekuasaan atau negara, yang menurut ahli psiko-analisis, Eric Fromm, adalah sesuatu yang bisa dijadikan obyek pengabdian atau orientasi.

Namun Ibrahim juga bercita-cita, bahwa generasi mendatang adalah umat yang Muslim, seperti tercermin dalam doanya: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua (Ibrahim dan Ismail), orang-orang yang tunduk kepada Engkau (muslim)”. Doa inilah yang dijadikan pesan oleh keturunan Ibrahim, yaitu Ismail, Ishaq, Ya’qub. Perubahan fundamental, dari sekedar keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa menjadi agama yang teratur, sebagai pedoman bermasyarakat, terjadi melalui wahyu Allah pada Musa a.s., berupa syari’at atau hukum-hukum bermasyarakat, sebagai pedoman tingkah laku dan pembentukan masyarakat.
Proses seperti itu juga terjadi dalam penyebaran agama Islam. Pada mulanya, Islam diperkenalkan sebagai keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, atas dasar itu, para ulama mengajarkan syari’at pada para penganut Islam. Syaikh Makhmoud Syaltout memperkenalkan Islam sebagai aqidah dan syariah.
Perjuangan untuk mencapai kalimah al sawa’ ini telah tercapai di lingkungan bangsa Indonesia, ketika UUD 1945 menyatakan diri “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” (pasal 29 ayat 1). Hal ini juga, dicerminkan oeh pengakuan bahwa kemerdekaan, selain “didorong oleh keinginan luhur”, juga “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”.
Kalimat-kalimat di atas adalah pengakuan bahwa negara Indonesia bukanlah sebuah “negara kekuasaan”, tapi mengakui kekuasaan dan kedaulatan Tuhan. Hanya saja, pengakuan pada prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa itu tidak berarti bahwa negara memeluk satu agama, misalnya Islam, karena pengakuan itu bukan syahadat Islam yang komplit, berikut pengakuan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Pengakuan itu berlaku bagi umat beragama lain.
Dalam istilah al-Qur’an, itu adalah sebuah kalimah al sawa’, kata sepakat mengenai ketundukan pada Tuhan Yang Maha Esa. Namun, agama tertentu, khususnya Islam, sebagai syari’at, tidak merupakan kesepakatan untuk dilaksanakan oleh negara, melainkan hanya “menjiwai” UUD 1945 saja, seperti dinyatakan dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Sementara itu, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu (pasal 29 ayat 2 UUD 1945).
Dalam bukunya “On the understanding Islam”, Smith menganjurkan sebuah dialog antar iman (interfaith dialog), di mana setiap pemeluk bisa memperdalam iman masing-masing dan menyampaikan pengalaman imannya pada orang lain. Mereka membahas agama secara umum, bertolak dari keyakinan masing-masing, tapi tanpa memperolok-olokkan keyakinan yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu golongan melecehkan golongan lain, karena boleh jadi, mereka (yang dilecehkan) lebih baik dari mereka (yang melecehkan)” (Q.S. al-Hujurat: 11). Juga pada ayat 12 dikatakan: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebnayakan dari prasangka, sesungguhnya, sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”
Prinsip-prinsip di atas tidak ahnya berlaku di atnara sesama Muslim, tapi juga merupakan pedoman pergaulan dengan para pemeluk agama lain. Hanya saja sebagai Muslim, kaum Msulim memiliki perinsip-prinsip sendiri yang khas, sebagai pedoman berdialog dengan para pemeluk agama lain, sebagaimana pemeluk agama lain juga berpedoman pada iman yang mereka yakini. Namun dialog antar iman yang dilakukan secara tulus dan jujur akan menghasilkan proses saling menyuburkan dan saling pendekatan pada Kebenaran.
Pertanyaan timbul, mungkinkah seorang Muslim berbicara tentang agama lain, dengan cara bertolak “dari dalam’ agama yang bersangkutan? Jawabannya adalah bahwa seorang Muslim akan melihat agama lain dari kerangka pemahamannya tentang agama. Pertama-tama, ia akan bertolak dari prinsip “bagimu agamamu, bagiku agamaku” (Q.S. al-Kafirun: 6). Prinsip ini akan dinyatakan pada mereka yang telah jelas-jelas kafir, yaitu memiliki keyakinan yang berlawanan dengan keyakinan Muslim.
Sungguhpun begitu, seorana Muslim akan berusaha untuk mencari unsur-unsur kebenaran pada keyakinan lain, karena seorang Muslim adalah seorang yang hanif, yang cenderung pada Kebenaran, dan berusaha mencari dan mendekati Kebenaran, dengan asumsi bahwa di mana pun, dalam masyarakat manusia akan bisa ditemui Kebenaran, karena Allah telah mengutus Rasul-rasul-Nya pada setiap umat atau masyarakat (Q.S. Yunus: 47). Dan tak ada suatu kelompok manusia atau masyarakat pun (umat), yang tidak dikirimkan pada mereka seorang juru ingat (Q.S. Fathir : 24).*** By Srie.
        
(Bersambung....)
__________________
Keterangan: Artikel ini disalin dari majalah Ulumul Qur’an, volume III, no. 4 tahun 1992.




Baca Juga

Komentar