Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Peranan Guru Di Era Baru (2) : Kompetensi Dasar

Oleh Sri Endang Susetiawati

Untuk dapat melakukan peran tersebut di atas, maka sosok guru di era baru harus mampu bekerja secara profesional.  Guru harus memiliki sekurangnya empat kompetensi dasar sebagai pendidik, yaitu kompetensi profesional, kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.[1] Dua kompetansi awal merupakan kompetensi yang terkait dengan tugas guru di sekolah, sementara dua kompetensi terakhir adalah kompetensi guru di tengah masyarakat.

Kompetensi profesional dan paedagogik berhubungan dengan kemampuan guru dalam menunaikan tugas-tugas keguruan atau pembelajaran. Antara lain, adalah kemampuan dalam penguasaan landasan dan filosofi pendidikan, kemampuan dalam penguasaan psikologi pengajaran, penguasaan materi pelajaran, penerapan berbagai metode dan strategi pembelajaran, kemampuan dalam merancang pemanfaatan berbagai sumber media atau sumber belajar, kemampuan dalam menyusun rencana program pembelajaran, kemampuan dalam mengevaluasi pembelajaran, hingga kemampuan dalam meningkatan kinerja pembelajaran.
Sementara itu, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial merupakan kemampuan guru yang tidak berhubungan secara langsung dengan tugas-tugasnya sebagai pendidik di sekolah. Dua kompetensi terakhir ini terkait dengan keberadaannnya di tengah masyarakat, yang harus memiliki integritas, kredibiltas dan moralitas yang tinggi, dapat dipercaya, dihargai, dapat menjadi tauladan dan ikut berperan aktif dalam mendorong berbagai kegiatan sosial yang positif.
Profesionalimse guru, dengan demikian, dituntut dengan adanya sejumlah persyaratan minimal, antara lain adalah sebagai berikut:
1). Memiliki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai,
2). Memiliki kompetensi keilmuan sesuai bidang yang ditekuninya,
3). Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak didiknya,
4). Memiliki jiwa kreatif dan produktif,
5). Mempunyai etos kerja dan komitemen tinggi terhadap profesinya,
6). Selalu melakukan pengembangan diri secara terus-menerus (continuous onprovement) melalui organisasi profesi, internet, buku, diskusi, seminar dan sebagainya.

Dengan persyaratan seperti itu, maka tugas seorang guru bukan lagi knowledge based, lebih didasarkan pada aspek pengetahuan semata, seperti yang masih terjadi hingga saat ini. Akan tetapi, kini tugas guru terlebih lagi harus bersifat competency based, yang menekankan pada penguasaan secara optimal konsep keilmuan dan perekayasaan yang berdasarkan nilai-nilai etika dan moral. Konsekuensinya, seorang guru tidak lagi menggunakan komunikasi satu arah yang selama ini masih banyak dilakukan, melainkan harus menciptakan suasana kelas yang kondusif sehingga terjadi komunikasi dua arah secara demokratis antara guru dan murid.
Kondisi pembelajaran seperti itulah yang  diharapkan akan dapat lebih mampu dalam menggali potensi kreativitas anak didik. Guru dituntut lebih mampu dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar yang bersifat dialogis di kelas agar siswa lebih aktif dan proaktif dalam belajar. Peranan guru, dengan demikian, tidak lagi dominan, namun telah bergeser, menjadi lebih sebagai fasilitator dan motivator belajar bagi siswa.*** By Srie

(Bersambung.......)


[1] Sugiyanto, 2010, Model-Model Pembelajaran Inovatif, hal. 2.
Baca Juga

Komentar