Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Bung Korup Ketiban Sial



Oleh Si Topeng
Bung. Aku memenuhi “panggilanmu” di suatu tempat. Entah, aku pun tidak tahu tempat itu terletak dimana. Kapan itu terjadi? Aku pun telah lupa.
Aku bertemu untuk seorang sahabat. Engkau menyambutku dengan ramah... lalu bersalaman tangan, dan saling berpelukan dengan akrab. Bertahun lamanya, memang kita sudah tak pernah jumpa.
“Bung, aku tahu. Bung hanya ketiban sial” kataku sambil menepuk bahu.
“Maksud sampeyan?” tanyamu

“Hahahahahaha..... semua juga sudah pada tahu, Bung.... POLITISI ya hampir identik dengan KORUPSI....”
“Lalu, apa kaitannya dengan aku?”
“Bung cuma lagi apes. Yah, masalahnya praktek korupsi sahabat Bung terbongkar...”
“Maksudnya, sampeyan juga menuduh aku ikut korupsi?”
“Hahahahahahahahahahahahhaha.... Bung...Bung.... Kok, masih harus bertanya seperti itu lagi.... Hahahahahahahahahahahahahaha.......”
“Masih banyak rakyat yang bernalar waras, Bung. Mereka masih bisa melihat dengan jelas... bagaimana praktek korupsi itu semua terjadi....”
“Semuanya, demi uang... demi kekuasaan, bukan?.......”
“Semuanya, demi kekuasaan... dan akhirnya demi uang kembali, bukan?....”
Aku biarkan ia terus mendengar kata-kataku. Bukankah ia sudah terbiasa banyak bicara dan bersilat lidah dengan kata-kata? Saatnya, kini aku yang banyak berkata-kata. Ia harus terbiasa banyak mendengar apa yang aku bicarakan...
“Kekuasaan itu, begitu sangat menggiurkan di negeri ini, Bung.....”
“Hingga apapun, dengan segala resiko bagaimanapun.... banyak dilakukan oleh mereka, para budak kekuasaan.....”
“Termasuk, keluarkan uang.... menyogok mereka para pemegang mandat kekuasaan.....”
“Hehh..... Apa susahnya, keluarkan uang haram, bukan?..... Hahahahahahahahaha.....”
Engkau peroleh kekuasaan itu. Sungguh, engkau sangat menikmatinya. Lalu, engkau mabuk kepayang. Engkau rajut kembali mimpi-mimpimu yang lebih indah..... Khayalan tingkat tinggi tak terbendung lagi. Lalu, engkau lupa ada mereka yang terluka.. dan masih menyimpan dendam membara.....
“Mereka, para budak kekuasaan yang sama dengan Bung.... Hahahahahahahahaha....”
Sahabatmu terjebak, Bung. Jerat perangkap mereka mengenai sasaran. Kini, mereka semua bertepuk tangan... Prok.. Prok.. Prok... !!! Semua terbelalak... Semua berteriak..... “Katakan Ya Pada Korupsi.... Ya!” Hahahahahahahahahahaha.......
Sayang, sahabatmu belum siap... untuk membela Bung mati-matian hingga di ujung mimpi khayalan tingkat tinggi..... Tiga tahun yang Bung sarankan... terlalu berat baginya. Sahabatmu meradang.... merasa tidak terima dikorbankan sendirian.  Hingga ia ungkap semua apa yang terjadi.... Kongsi itu telah berpecah, Bung. Itulah, awal dari kesialanmu, Bung..... Hahahahahahahahahahaha......
“Maaf, apa sampeyan... mempercayai semua kata-katanya?” tanyamu berusaha untuk membuatku ragu.
“Hahahahahahahahahaha..... Bung... Bung..... Jika ada yang tanya padaku, siapakah Bung? Maka, aku jawab: Dengarkan apa kata para sahabat Bung...”
Ia kembali terdiam. Raut mukanya tampak kian pucat. Kepandaiannya dalam berargumentasi seolah terkubur oleh fakta-fakta yang telah berbicara. Ketenangannya, kini berubah menjadi galau... gelisah menyelimuti seisi hati dan pikirannya.
“Apa saran sampeyan untukku?”
“Saran? Hahahahahahahahahahahaha... Sejak kapan, Bung membutuhkan saran dari orang yang bodoh ini?.. Hahahahahahahahahahahaha....”
“Kali ini, aku benar-benar minta saran dari sampeyan, sahabat...”
“Hahh!.. Sahabat lagi!... Hahahahahahahahahahaha..... Bung, bantulah membongkar korupsi di negeri ini, dengan berkata jujur apa adanya... lalu ikuti semua proses hukum..... bertobatlah untuk tidak mengulangi lagi...”
Setelah itu terasa hening. Tak ada jawaban darimu. Aku hanya melihatmu menunduk. Kedua tanganmu menutupi wajahmu. Ada keraguan. Aku masih terus menunggu tanggapanmu. Hingga waktu telah aku anggap habis. Aku segera meninggalkanmu.
Kekuasaan kembali terbukti, telah mampu membutakan mata hati. Semoga, umrohnya diterima, dan mencerahkanmu sahabatku.....
“Mumpung masih di bulan Ramadhan....” bisikku dalam hati. Hahahahahahahahahahaha...***


Baca Juga

Komentar