Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Ensiklopedi al-Qur’an, Islam (9): Kesimpulan

Oleh M. Dawam Rahardjo

Islam, pertama-tama adalah suatu keyakinan, suatu iman, seperti dicontohkan pada pengalaman Ibrahim, seorang yang disebut bukan seorang penganut agama Yahudi atau penganut agama Nasrani, sebagai suatu agama mapan (organized religion), melainkan seorang yang tulus dan cenderung pada kebenaran (hanif), dan seorang yang menundukkan diri pada Allah (Muslim). Namun, Ibrahim tidak hanya menjalankan keyakinannya itu untuk diri sendiri, melainkan juga untuk dipeluk oleh masyarakat.

Dari situlah terjadi evolusi dari sekedar keyakinan (aqidah) menjadi aturan-aturan hukum berperilaku dan bermasyarakat (syari’at), terutama sesudah Allah menurunkan wahyu berupa syari’at pada Nabi dan Rasul Musa as. Pada saat itulah terjadi perkembangan agama sebagai sistem kemasyarakatan. Syari’at semacam itu, dalam bentuk dan struktur yang lebih sempurna juga telah diturunkan oleh Allah pada Muhammad Saw. Agama itu disebut Islam. Dengan begitu, maka Islam adalah juga nama sebuah agama.
Dewasa ini, Islam telah mewujudkan diri ke dalam sejarah. Perwujudan itu mengambil dua bentuk. Pertama, adalah Islam sebagai sistem keagamaan transendental yang ideal. Islam dalam wujud ini dicerminkan oleh ilmu-ilmu keislaman, sebagai hasil interpretasi terhadap al-Qur’an dan teladan Nabi Saw. oleh para ulama dan cendekiawan. Kedua, adalah Islam sebagai realitas sejarah. Wujud dari Islam seperti itu dicerminkan oleh kebudayaan, peradaban dan masyarakat Islam. Antara keduanya terdapat gap, yaitu antara Islam yang ideal dan Islam yang historis, yang telah dibentuk juga oleh faktor-faktor sosial, ekonomi, politik dan proses sejarah.
Islam ideal, pada umumnya ditulis dan hanya bisa ditulis oleh pemikir Muslim sendiri. Pada umumnya, pengamat luar cenderung menulis Islam yang historis, melalui pendekatan yang obyektif. Sungguh pun begitu, penulis Muslim bisa pula memperkenalkan Islam pada masyarakat non-Muslim dengen melukiskan Islam, sebagai Islam-ideal maupun Islam-historis.
Al-Qur’an sendiri telah memberikan jalan pada pendekatan obyektif terhadap Islam. Bagi kaum Muslim sendiri, pendekatan obyektif ini justru akan membuka mata terhadap kenyataan historis yang menampakkan jaraknya terhadap yang ideal. Bagi penulis non-Muslim, pendekatan obyektif akan membuka cakrawala pandangan untuk melihat Islam secara lebih hakiki, walaupun dengan resiko, mereka tidak mampu menampilkan Islam sebagaimana yang diyakini oleh kaum Muslim.
Alternatif dari pendekatan obyektif ini adalah mencoba melihat Islam “dari dalam” atau dengan mempersilakan kaum Muslim sendiri melukiskan agamanya. Hal yang sama bisa diterapkan pada agama-agama lain. Dari sini terbentuk platform untuk melakukan dialog antar iman, dalam rangka saling menyuburkan keyakinan masing-masing dengan pengalaman-pengalaman keagamaan.*** By Srie. 
(Habis).

__________________
Keterangan: Artikel ini disalin dari majalah Ulumul Qur’an, volume III, no. 4 tahun 1992.


Baca Juga

Komentar