Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Kemendikbud Sangkal Tudingan ICW, Dana BOS Boros!

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Suyanto menyangkal terjadi pemborosan pada penggunaan dana bantuan operasional sekolah. Hal itu dikatakannya menyusul ada tudingan dari Indonesia Corruption Watch (ICW) yang menemukan kejanggalan pada petunjuk teknis penggunaan dana BOS tentang pengadaan dan penggandaan buku teks pelajaran.

Seperti dirilis hari Rabu (14/12/2011), dalam pantauan Indonesia Corruption Watch (ICW), pada petunjuk teknis penggunaan dana BOS, Kemdikbud secara jelas mewajibkan sekolah untuk membeli buku teks mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, serta buku teks pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan. ICW menuding Kemdikbud telah melakukan pemborosan dana BOS triliunan rupiah karena kedua buku ajar tersebut bukan merupakan prioritas sekolah dan tidak termasuk dalam mata pelajaran yang diuji pada ujian nasional.

Merespons pantauan ICW, Suyanto mengungkapkan, pengadaan buku tersebut bukan atas instruksi langsung dari Kemdikbud. Menurut dia, pengadaan buku itu sepenuhnya dilakukan berdasarkan permintaan daerah.

"Jadi, daerah yang tahu apa kebutuhan buku di daerahnya, bukan kewenangan kementerian menentukan jenis buku," kata Suyanto, Kamis (15/12/2011) di Jakarta.

Ia menjelaskan, dasar pemilihan kedua buku tersebut diwajibkan adalah untuk menunjang penerapan pendidikan karakter di sekolah.

"Kata daerah, itu untuk penyeimbang antara penggunaan otak kiri dan otak kanan," ujarnya.

Pada tahun 2012, lanjut Suyanto, Kemdikbud akan kembali melakukan pengadaan buku penunjang UN. Selain harus diperbarui setiap lima tahun sekali, kebijakan ini dilandasi alasan karena buku-buku penunjang UN yang ada secara fisik kondisinya sudah tidak layak.
Baca Juga

Komentar