Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Anas, dan Keprihatinan Alumni HMI

Oleh Srie Endang Susetiawati

Suka atau tidak suka, akan selalu ada bayang-bayang HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dalam diri Anas Urbaningrum. Ia mantan Ketua PB HMI periode 1997-1999. Sempat menjadi pimpinan KPU, lalu kini menjadi pucuk pimpinan di partai Demokrat, partainya SBY.

Lantas, ketika saat ini Anas sedang tersandung tudingan Nazarudin mengenai keterlibatannya dalam sejumlah kasus korupsi, bayang-bayang HMI pun kian kental. Sejumlah rekan sesama alumni HMI, sempat mengutarakan kekecewaannya.

“Anas, anak muda cerdas. Kader HMI yang santun. Sayang, dia tergoda untuk melakukan praktek korupsi. Bukan saja berat untuk 2014, tapi akan membebani sejarah HMI” katanya.


Hingga saat ini, Anas memang belum tersentuh hukum meski Nazarudin, mantan koleganya di Demokrat, secara gencar terus-terusan menunjuk keterlibatan Anas dalam sejumlah proyek yang diduga penuh praktek korupsi itu. Namun, dampaknya secara langsung atau tidak langsung diakui cukup lumayan di kalangan  keluarga besar HMI. Paling tidak, sejumlah rekan alumni cukup lama merasakan tanda tanya besar, “kenapa harus begini jadinya?”

Bahkan, ada seorang teman yang secara eksplisit menyatakan bahwa dirinya sekarang merasa “malu” dengan predikat HMI. Jelas, bukan berniat untuk mencampakkan embel-embel alumni HMI, namun dia berharap agar masalah yang melibatkan Anas perlu segera berakhir. Aroma politik kekuasaan tampaknya tidak dapat ditutupi lagi. Ada pengaruh yang yang cukup dirasakan bahwa proses hukum itu menjadi begitu tersendat-sendat, dan sempat agak bias.

Adalah tidak berlebihan, manakala ada beberapa alumni HMI yang menyuarakan keprihatinannya. Meskipun tidak mengaitkan secara langsung pada orang per orang, namun pesannya dianggap sangat relevan. Lihatlah apa yang disampaikan oleh dua mantan Ketum HMI Cabang Bandung terkait masalah tersebut. Menurutnya, tidak dapat dipungkiri, banyaknya kader-kader HMI yang terlibat sejumlah masalah, terutama kasus korupsi dan kasus amoral yang kini menerpa PB HMI, telah menimbulkan kegundahan kolektif pada keluarga besar HMI.

Kegelisahan itu, bukan sekedar catatan kecil tentang perilaku oknum-oknum kader. Namun, sudah sampai pada substansi akar masalah yang sesungguhnya yang jauh lebih luas dan mendasar. Pertanyaannya, adakah yang salah dalam perkaderan HMI, sehingga output-nya telah melahirkan pribadi-pribadi kader yang justru mengabaikan nafas dan semangat Islam yang seharusnya dipegang teguh?

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi mahasiswa yang berfungsi sebagai sumber insani kader bangsa. HMI bertujuan membina pribadi-pribadi muslim-intelektual-profesional, membina insan akademik, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan diridloi oleh Allah SWT. Ada misi perkaderan, yaitu membina insan cita. Ada misi perjuangan, yaitu bertanggungjawab dalam mewujudkan masyarakat cita. Keduanya, merupakan bagian dari totalitas mision HMI sejak berdiri hampir 65 tahun lalu.

Perilaku korupsi, seharusnya tidak dapat ditoleransi. Perbuatan amoral jelas-jelas semestinya tidak memperoleh ruang untuk berkembang. Insan cita yang bernafaskan Islam, sesungguhnya telah jelas menarik garis yang tertutup sama sekali atas perilaku korupsi dan perbuatan amoral. Kualitas pribadi insan cita seharusnya dapat menjadi pembeda yang jelas dan tegas dengan pribadi-pribadi yang lainnya.

Ketika kader-kader yang dibina telah menjadi tak ada bedanya dengan orang lain, atau bahkan justru dianggap lebih buruk, lantas apa gunanya HMI untuk dipertahankan? HMI, justru akan menjadi organisasi yang turut melanggengkan praktek korupsi dan perbuatan amoral bangsa di negeri ini. Perkaderan HMI, pada akhirnya akan dan telah menjadi perkaderan anak-anak bangsa yang korup dan tak bermoral, yang cenderung serba permisif, mengabaikan sama sekali nilai-nilai etik, moral dan kebenaran.

Kebenaran. Sesuatu yang seharusnya menjadi karakter insan cita, yang bersifat independen, yang secara etis tunduk, terikat dan hanya taat pada nilai-nilai kebenaran. Bukan tunduk dan taat pada nilai-nilai kekuasaan, materialisme, hedonisme dan syahwat hewani yang rendah di mata Tuhan. Kebenaran dan kejujuran memang seharusnya menjadi benang merah dari karakter kader HMI.

Ketika HMI telah menjadi organisasi yang tidak lagi mengajarkan tentang independensi, tidak lagi mengemban misi suci di atas landasan nilai-nilai keislaman, lantas untuk apa lagi dipertahankan? Boleh jadi, ada dosa besar bila tetap membiarkan HMI dalam keadaan yang sedemikian rupa, sehingga justru mempertunjukkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dianutnya. Ketika keberadaan HMI telah menimbulkan lebih banyak kemudharatan dibandingkan kemaslahatannya, maka alasan apalagi yang dapat diajukan agar HMI tetap dipertahankan?

Tidak ada alasan lain, kecuali sebuah komitmen kuat dan sungguh-sungguh dari seluruh keluarga besar HMI, khususnya kader-kader HMI yang masih aktif sebagai anggota, untuk bersedia berubah dan berbenah secara konsisten. Pengabaian atas komitmen untuk sungguh-sungguh mau berubah dan berbenah hanya akan menegaskan sebuah pilihan bahwa HMI memang sudah saatnya untuk segera dibubarkan. Karena, tidak ada lagi insan cita yang akan dibina dan dihasilkan. Tidak ada lagi masyarakat cita yang hendak diperjuangkan. Tidak ada lagi mission HMI yang diemban. Tidak ada lagi alasan HMI untuk terus dipertahankan.

Ada baiknya, untuk sejenak memperhatikan kata-kata mantan Ketum Cabang Bandung, pada akhir pernyataan keprihatinannya.

“Kini, sudah sampai pada titik pernyataan: Kami sangat cinta HMI, tapi lebih mencintai kebenaran nilai-nilai Islam! Tidak ada HMI, tanpa nafas Islam! Tanpa nafas Islam, seharusnya HMI dibubarkan?”*** By Srie
Baca Juga

Komentar

  1. baca yg ini...“Anas, anak muda cerdas. Kader HMI yang santun. Sayang, dia tergoda untuk melakukan praktek korupsi. Bukan saja berat untuk 2014, tapi akan membebani sejarah HMI” katanya.. kata siapa?????? gosip wae. kumaha ieu teh!

    BalasHapus
  2. Saya pikir kalau ternyata dikemudian hari Anas benar2 korupsi maka saya pikir tidak akan berdampak pada HMI atau kaderisasi di HMI.. HMI punya konsep yang jelas bahwa ajaran Islam sebagai pegangan utama... Korupsi bertentangan dgn Islam dan HMI tidak mentolerir hal tsb.. HMI tdk mengajarkan korupsi dan tidak mengharapkan anggaran dari koruptor atau hasil dari korupsi. HMI membiayai dirinya dari iuran anggota dan penerimaan lainnya yang sah... Kalaupun misal-a nanti ada bukti bahwa Anas terlibat korupsi, maka hal tsb merupakan tanggung jawab Anas sebagai individu dan pribadi bukan tanggungjawab lembaga HMI dan KAHMI... Setelah menjadi almuni HMI maka mereka berhak beraktivitas dan berkarya dimana saja sesuai keahlian-a masing-masing... HMI tetap mengarahkan mereka ke hal-hal positif, namun dalam perjalanan karir-a mereka tersandung masalah hukum, kejahatan dll akan menjadi tanggungjawab dan pilihan mereka masing2... HMI hanya memberikan pedoman tentang amar makruf nahi mungkar...

    BalasHapus
  3. assalamualaikum .....

    anas adalah sosok alumni hmi yang menjadi sumber inspirasi bagi kader ~kader hmi masa kini meskipun dia tersandung kasus korupsi tapi itu belum terbukti saya yakin kanda anas urbanigrum tidak seperti itu....


    yakin usaha sampai
    hmi komisyariat syariah iain raden intan lampung.....

    BalasHapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).