Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Gubrax, Apel Malang dan Uang Sialan

 Halo..... Assalamu ‘alaikum... Apa kabar mas? Hahahahahahahaha..... Aku senang sekali, sampeyan masih mau menerimaku dengan senyum manis dan jabat tangan yang erat. Masih seperti yang dulu. Hahahahahahahahaha...

Sampeyan selalu memelukku di kala bertemu. Pundakku, selalu saja sampeyan tepuk-tepuk dengan hangat. Sapaan lembut selalu menghiasi bibirmu. Aku selalu terkesan saat mendengarnya. Sungguh, sangat bersahabat.


Apa? Hahahahahaha... Ya, jangan begitu toh mas.... Ya jelas, aku senang dan bangga toh?. Wong sampeyan ini sudah jadi orang gede di republik ini. Lha, sampeyan masih mau menerimaku, wong cilik yang bernasib kurang beruntung ini. Hahahahahahaha.....

Aku hanya ikut senang dan bersyukur. Sampeyan kini sudah memiliki segalanya, bukan?
Hahahahahahahahaha.... Rumah joglo yang mewah nan megah. Kendaraan berjejer dan super mahal. Luar biasa..... Belum lagi.. perusahaanmu banyak sekali, mas... Iya.. iya...

Ah, jujur saja mas. Aku malu untuk mengatakannya.
Betul. Aku tidak berani mengungkapkannya. Apa?

Ya.... Ini kalau boleh..... Ajaklah aku ini bekerja pada salah satu perusahaan sampeyan. Wong aku ini masih nganggur lho. Lontang lantung enggak jelas. Hahahahahahahaha.....

Itupun kalau sampeyan mau menerimaku sebagai karyawan. Aku berharap banget, lho mas. Hahahahahahahahahaha...

Oh iya? Masa sih.

Oh... begitu ya? Memang sih, enggak penting bekerja. Yang penting penghasilannya jelas dan memadai.

Hmm.... oh iya, maksudku penghasilan yang besar, gitu. Gak usah keluar banyak keringat. Ah, sampeyan kan sudah membuktikannya toh? Hahahahahahaha..

Mas ini bisa saja bercanda. Padahal, dulu aku mengenal sampeyan sebagai sosok pendiam lho. Tidak banyak ngomong. Saat teman-teman lain bicara dalam suatu kumpulan, kan sampeyan lebih banyak diam saja. Terkadang begitu serius. Sekali-kali cuma manggut-manggut dengan senyum yang khas, sangat simpatik.

Apa? Oh, iya.... itu kan kata si Parmin, mas. Memang sih, dulu kan mas tuh mirip Gus Dur. Kalau teman-teman yang lain asyik berdiskusi. Lha, sampeyan kan asyik tertidur sambil terduduk di atas kursi. Yah, paling tidak matamu suka terpejam, terkantuk-kantuk gitu lho. Hahahahahahahahahaha....

Iya.... Tapi, kan pas bangun, Gus Dur selalu tahu apa yang diobrolin atau didiskusikan oleh orang lain. Ya, itu hebatnya Gus Dur. Aku mengingatnya, sampeyan ya begitu. Kalem, santun tapi cerdas. Hahahahahahahahahaha.....

Oh iya... silakan mas. Aku mulai menahan diri untuk melanjutkan ucapanku. Sesekali aku melihat jam tangan tua yang melingkar di tangan kiriku. Hmm... sudah seperempat jam lebih aku masih terdiam. Rupanya, dari tadi sampeyan mulai sibuk membaca dan membalas SMS di hapemu. Aku lebih banyak menunggu.

Ah, sampeyan juga mulai sering-sering berbicara melalui telepon. Aku melihatnya begitu serius, sambil berdiri, lalu selangkah demi selangkah menjauhiku. Sampeyan masih terlihat terus saja asyik bicara.

Aku lihat jam tanganku lagi. Hampir satu jam aku dibiarkan terdiam. Hmm.... sampeyan masih terlihat menelepon di balik kamar sana. Ah.. padahal aku masih ingin bicara banyak lho dengan sampeyan, mas. Hahahahahahahaha...

Nasib.. nasib..... Aku terima apa adanya.

Mataku sempat terpejam. Tentu, setelah aku habiskan separuh teh manis di hadapanku.
Lamat-lamat aku mendengar ketukan langkahmu. Ada suara lembaran kertas warna merah yang sampeyan letakkan di atas meja tamu. Blek.

Oh, iya. Maaf aku sampai ketiduran mas. Maksudnya, mas? Dalam hati, sebenarnya aku jelas mendengar pertanyaanmu. “Setelah dari sini, terus mau ke mana?” Ah, aku tahu maksudmu. Itu kan berarti sampeyan mengusirku cepat-cepat dengan cara yang sopan. Hahahahahahahahaha...

“Lha, tapi sejak kapan sampeyan menggunakan cara yang demikian?” kataku masih dalam hati yang terus dalam keheranan.

Blek. “Silakan diterima uang tidak seberapa ini. Barangkali bermanfaat” katamu.

Mataku melolot. Hampir melompat kegirangan. Belum pernah aku melihat sendiri tumpukan uang ratusan ribu diberikan untukku. Sekilas, aku kira-kira jumlahnya bisa puluhan juta rupiah. Aku masih terkaget-kaget. Sampeyan mengeluarkan lagi gepokan uang dari kantong plastik hitam. Kali ini senyummu mulai hilang. Blek. Blek.

Apa? Masya Allah... Sudah ada tiga tumpukkan uang di atas meja. Katanya, semua untukku. Kali ini, dengan nada ketus. “Silakan ambil!” Aku cukup dibuat bingung.

Mas. Maaf. Apa yang terjadi ini? “Ambil saja!” katamu lagi tanpa basa-basi. Sampeyan masih terus berdiri. Aku pun ikut berdiri.

Maaf mas. Jujur, aku memang masih butuh uang. Tapi, aku kan selalu ingat kata-katamu dulu. Ah, sampeyan kan selalu mengajarkan padaku dan pada mereka tentang banyak hal. Dapatkan uang yang halal, jangan syubhat, apalagi haram.

Betul. Aku masih ingat mas. Bla bla bla... Ah, bagiku mas ini kan contoh teladan buat banyak orang. Sampeyan ini kan simbol pribadi yang jujur, amanah, dapat dipercaya gitu lho kata-kata dan perbuatannya.

Iya, mas? Ya iyalah. Sampeyan kan telah banyak ajarkan aku tentang nilai-nilai perjuangan. Tentang nilai-nilai kebenaran. Harus selalu bersikap setia pada kebenaran, karena hal itu akan membuat hidup seseorang menjadi tenang. Kata sampeyan, akhirnya akan mengantar kita pada pertemuan dengan Tuhan. Benar, kan?

Aku akan selalu catat baik-baik mas. Sampeyan selalu mengingatkan. Perjuangan harus selalu ditegakkan. Walau berjalan di atas kerikil tajam, melewati banyak jurang yang menganga, atau lautan luas yang dalam. Aku ingat selalu kata-katamu, mas.

Sampeyan selalu mengingatkan tentang kesabaran dalam kebenaran. Tentang konsistensi, sikap istiqomah. Perjuangan yang benar memang memerlukan kesabaran. Tidak boleh  ada putus asa atau menyerah. Sampeyan selalu menyitir syair lagu, “Ku yakin sampai di sana!”. Ah, itu kan kata-kata yang mirip di zaman kita mahasiswa dulu, mas. “Yakin usaha sampai...”. Betul, aku masih sangat ingat kata-kata itu. Hahahahahahahahahaha...

Blek. Tumpukan uang yang keempat menampar mulutku. Maaf, apa yang terjadi mas? Sampeyan masih terus terdiam. Ada nada kemarahan terpancar dari wajahmu. Tanganmu masih menggenggam gepokan uang itu. Apa yang barusan terjadi? Ah, aku masih belum memperoleh jawaban.

“Jangan ucapkan lagi kata-kata itu!” katamu dengan nada tinggi.

Iya, mas. Benar. Sampeyan lebih tahu tentang hal itu. Maafkan aku. Seharusnya, aku tak perlu lagi berlagak khotbah di hadapanmu. Iya, karena sampeyan jauh lebih tahu semuanya dari pada aku.

Masalahnya, mengapa sampeyan harus dengan cara seperti itu? Maafkan aku jika telah salah dan lancang bicara.

Dalam hatiku. Inikah sampeyan, mas? Aku mulai merasakan perubahanmu. Ya, sampeyan telah berubah. Hatiku mulai terus bertanya-tanya. Inikah perubahan tentang dirimu, sebagaimana teman-teman lain pernah mengatakannya padaku? Jujur, aku mulai asing dengan sampeyan mas. Entahlah....

Mas, bukankah dulu sampeyan selalu katakan bahwa tidak semua dapat dibeli dengan uang? Ada harga diri, kejujuran, kesetiaan dan cita-cita yang selalu kita perjuangkan. Tentang masyarakat yang adil, makmur, tentang nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, tentang ridho Tuhan. Tentang Indonesia yang bersih, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. Aku masih ingat itu. Ya, dulu kita teriakkan slogan : Anti-KKN. Lalu, kita sama-sama tumbangkan rezim otoriter dan korup itu, demi masa depan republik ini yang kita cita-citakan bersama.

Kita, masing-masing berusaha menjadi insan cita, intelektual yang taat beragama, ikut bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat ideal yang dicita-citakan pula. Bukankah sampeyan selalu ucapkan pesan-pesan itu dalam setiap ceramah atau pidatomu dulu? Aku sangat merindukan dirimu yang dulu, mas. Sebagai sahabatku.

Ah. Aku benar-benar telah diabaikan olehnya. Aku melihat sampeyan menggerakkan tangan kanan pada seseorang yang aku perkirakan adalah anak buahmu. Dengan bahasa isyarat, tanpaknya sampeyan perintahkan sesuatu padanya. Terus terang, aku tidak dapat memahaminya.

Aku terus berusaha mengira-ngira. Hingga, secara perlahan aku melihat mobil box bergerak mundur ke arahku. Cepat. Kian mendekat. Sangat dekat. Seiring terbukanya pintu belakang. Braaakk...  Aku benar-benar terkaget. Tanpa sempat menghindar sedikitpun.

Masya Allah! Aku terjatuh. Apa yang terjadi? Aku benar-benar telah terkubur oleh ribuan lembar uang yang berserakan. Ada ratusan ribu rupiah. Lima puluhan ribu rupiah. Ada juga dollar Amerika. Hmm... ribuan apel malang dan washington pun ikut menutupi kepalaku. Hingga, membuat nafasku kian sesak. Tersengal-sengal.

Aku merasakan pukulan bertubi-tubi menimpa wajahku. Buk.. Buk...Buk...!

“Tolong...tolong....” teriakku berulang-ulang.
“Toloooong.... tolooooong.....”

“Peng.... banguuuunnn...Sadaaaar.... hari sudah siang!”
Apa? Gubraxxxx......... Sialan, uang itu belum sempat aku simpan.

Hahahahahahahahahahhaahahahahahahahahahaha.... ***
  
Baca Juga

Komentar