Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

HMI Bubar, Layak Dipertimbangkan!


Oleh Kusairi

HMI agaknya memang sudah terlalu berat menanggung beban sejarah. Para pendahulu HMI telah sedemikian rupa berjuang hingga mampu memberikan warna bahkan penopang bagi tegaknya Republik Indonesia tercinta ini.

Sekadar merefleksi  sejarah. Ketika PKI melakukan Apel Besar di Gelora Bung Karno (dulu Stadion Utama Senayan) pada 1965, betapa DN Aidit, selaku pimpinan PKI, berucap lantang untuk "Membubarkan HMI". Lantas Pakde Dahlan (Alm), Ketum HMI PB saat itu, sebagaimana yang pernah diceritakannya saat saya berkesempatan kursus ideologi di rumahnya, harus melakukan lobi-lobi khusus kepada Soekarno, Sang Pemimpin Besar Revolusi. Dan HMI pun eksis sampai hari ini.

Karenanya, ketika muncul gerakan mahasiswa Tahun' 66, HMI menjadi  kekuatan mahasiswa inti yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). HMI pun, bersama kekuatan gerakan yang lain, lantang memperjuangkan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat): Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya; Perombakan kabinet DWIKORA; dan Turunkan harga dan perbaiki sandang-pangan.

Kini cerita sejarah itu pun seolah tinggal kenangan.HMI kini sangat jauh berbeda dengan "HMI dulu". Saban hari kita dipertontan oleh tingkah pola para alumni HMI yang "liar". Mungkin jumlahnya tidak sebanding dengan alumni yang baik. Sepak terjangnya telah membuat republik dan bangsa ini menjadi "pesakitan", karena tingkah laku politik dan "keganasannya" dalam "mengkorup" uang negara. Sehingga yang sedikit ini pun seolah menjadi personifikasi. Menjadi representasi dari HMI secara keseluruhan. Terlalu banyak untuk menyebut beberapa kasus yang sempat menempati rating tertinggi dalam pemberitaan media nasional; baik cetak maupun elektronik.

Mungkin kita bisa katakan mereka adalah oknum. Tetapi kalau oknum-oknum itu ternyata pernah menduduki posisi puncak Ketua Umum Pengurus Besar (Ketum PB), pasti ada yang salah dalam perdekatan perkaderan HMI. Celakanya, dan mungkin ini ibarat "petir menyambar di siang bolong", "azab" itu pun kini menimpa Sang Ketua Umum PB HMI -- Fajriansyah. Kita mungkin tidak perlu meminta pembuktian secara hukum. Karena pendekatan hukum kadang mensyaratkan alat bukti dan saksi yang tidak mudah. Tetapi kasus yang menimpanya, berdasarkan pengakuan "para korban" dan diikuti pernyataan mundur 9 Staf Ketua PBHMI, tidak bisa dianggap remeh.

HMI hari ini ibarat kena "kutukan Tuhan". Mengapa? HMI sepertinya terlalu berat menyandang kosa kata "Islam". Bahkan bisa disebut "kualat" dengan atribut Islam-nya. HMI sudah terlalu sering bermain-main dengan "kata Islam". HMI sudah terlalu banyak mendistorsi nilai-nilai Islam demi memajukan ambisi-ambisi pribadi dan kepentingan-kepentingan sesaat. Padahal Islam adalah kosa kata yang Allah pilihkan langsung dalam Alqur'an. Dalam bahasa Arab, Islam berasal dari akar kata "salama", "yaslimu", "Islam", yang berarti keselamatan, kepasrahan, kesejahteraan, ketundukan. Tidak itu saja. Bahkan Islam telah menjadi rahmatan lil 'alamin. Jadi kalau HMI sudah tidak mampu lagi menjanjikan keselamatan bagi para kadernya, rahmat bagi bangsa ini, bahkan sebaliknya, kita layak mengatakan: Untuk apa ada HMI?

Untuk itu, opsi pembubaran perlu dipertimbangkan. Daripada pihak lain yang menuntut pembubaran. Kita khawatir, HMI malah dijadikan sebagai "organisasi terlarang" bahkan "musuh bersama" bagi  organisasi mahasiswa yang lain. Sesungguhnya kekhawatiran itu saat ini sudah terjadi.

Salam,


Kusairi
Mantan Ketua HMI Cabang Jakarta, 1992-1993
Mantan Ketua Umum HMI Koorkom Universitas Nasional, 1995-1996
Baca Juga

Komentar

  1. Sejarah tidak dapat diperbandingkan, Om. Karena lingkungan dan situasinya sudah berbeda.
    Tulisan Om juga tidak jelas. misal, "...berdasarkan pengakuan "para korban" dan..."
    "para korban" itu siapa dan dalam kasus apa?? Kronologis kasus juga tidak ada. Tau-tau sudah ada saja "korban"..

    Sebuah analogi:
    Jika pemimpin dan pejabat sebuah negara korupsi, foya2 sementara rakyat kelaparan, lebih mementingkan diri dan golongan, APA HARUS NEGARA YANG DIBUBARKAN!!!

    BalasHapus
  2. Ini gosip apa opini sih...ga jelas

    BalasHapus
  3. tulisan diatas emg ga mengena,tp terlepas dr itu saya setuju bhwa kiprah hmi hari ini sdh sama sekali tidak mencerminkan tujuannya,bagi saya keterkaitan kader & alumni yg sdh tidak mengindahkan indepensi lagilah yg merupakan salah satu faktor mundurnya organisasi ini

    BalasHapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).