Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Spekulasi Anas di Pertemuan Cikeas

Oleh Srie

Sekitar 5 tahun lalu, Anas Urbaningrum adalah “sesuatu banget” bagi Demokrat. Bahkan, kehadirannya di partai berlambang mercy itu langsung atas permintaan sang Ketua Dewan Pembina, SBY. Hingga, usai keluar dari KPU, Anas langsung masuk pada jajaran elit pimpinan partai pemenang Pemilu 2009 lalu.


Bagi para elit partai dan kader Demokrat, kehadiran Anas dianggap sebagai sosok bintang muda yang tengah bersinar terang. Anas hadir sebagai sosok yang sangat dibutuhkan oleh partainya. Ia dikenal masih muda, cerdas, santun dan berpengalaman sebagai organisatoris di kalangan mahasiswa.

Hingga ada ungkapan mereka yang sudah melekat, katanya “ Anas, memang fotokopi SBY dalam hal kepribadiannya, cerdas dan santun”. Apa artinya? Demokrat mempunyai masa depan yang cukup bagus. Anas, calon pemimpin muda masa depan Indonesia. Anas digadang-gadang sebagai calon presiden dari Demokrat pasca SBY lengser. Kemenangan Anas pada Kongres Demokrat di Bandung pada dua tahun lalu, mengukuhkan kesan Anas sebagai calon pemimpin negeri ini di masa depan.
Anas, Kini Sebagai Beban
Lalu, ketika isu korupsi yang membelit Nazarudin terungkap, jelas Anas merupakan sosok yang sangat berbeda bagi partainya. Kini, Anas bukan lagi dianggap sebagai aset masa depan partai yang sangat menjajikan. Anas, kini telah dianggap sebagai beban bagi partainya pun bagi sang Ketua Dewan Pembina.
Itulah, mengapa setiap kali ada pertemuan Dewan Pembina, isu penonaktifan Anas kembali muncul. Termasuk, malam ini yang sedang digelar Rapat petinggi Demokrat di Cikeas. Spekulasi bahwa ada upaya pelengseran Anas sebagai Ketua Umum partai kembali menyeruak di kalangan wartawan.

Meskipun sempat dibenarkan oleh sosok yang dituakan oleh Anas, yaitu Ahmad Mubarok, bahwa sebelumnya memang ada usulan mengenai penon-aktifan Anas, namun sejumlah petinggi partai lainnya rame-rame masih berusaha untuk menutupinya. Katanya, bahwa tidak ada agenda rapat bersama SBY itu akan membahas pelengseran Anas.

Pertanyaannya, apa yang sesungguhnya terjadi? Benarkah, memang Anas masih dianggap aman dalam mempertahankan kursi jabatannya sebagai Ketum Demokrat? Nyanyian Nazarudin bersama bekas anak buahnya di persidangan tipikor jelas-jelas membuat Demokrat menjadi tersandera, sekaligus menjadi sasaran delegitimasi partai yang mengklaim anti korupsi. Masih ingat bukan, slogan yang diteriakkan oleh Anas dan Ibas sebagai icon-nya pada iklan kampanye 2009 lalu? Katakan Tidak pada korupsi! Tidak!.

Kini, Anas bukanlah sosok yang dianggap tepat lagi sebagai icon partai dalam mencitrakan diri anti korupsi. Anas, kini telah menciptakan kegundahan bagi para elit dan kader Demokrat. Anas, kini adalah sosok yang menjadi bulan-bulanan media masa terkait sejumlah kasus korupsi proyek hingga total senilai triliunan rupiah yang terus dikipas-kipasi oleh Nazarudin, Rosa dan kawan-kawan. Istilah “apel Washigton” dan “Bos Besar” kini telah populer dan menjadi bagian joke di masyarakat, yang menjelaskan bagaimana hubungan Anas dengan sejumlah kasus mega korupsi yang ditudingkan oleh bekas teman satu kongsinya.
SBY Pun, Terbelit Juga?

Lantas, bagaimana kita dapat memproyeksikan masa depan Anas? Banyak spekulasi dapat dikemukakan. Antara lain, adalah bahwa pada akhirnya Anas akan sulit untuk bertahan dari jabatannya sebagai Ketum Demokrat yang semula digunakan sebagai kendaraan dalam meraih jabatan persiden RI pada 2014 mendatang. Tentu saja, salah satu kuncinya adalah terletak pada SBY itu sendiri.

Jelang akhir tahun lalu, pimpinan KPK secara tersirat sempat menjanjikan kepastian nasib Anas pada tanggal 27 Desember lalu. Namun, hingga kini pun Anas belum juga dipanggil oleh KPK, meskipun telah begitu kencang namanya diteriakkan dalam berbagai dugaan kasus oleh Nazarudin, dan para tersangka terkait lainnya. Tampaknya, tarik ulur kepentingan dan kekuatan politik amat mungkin telah benar-benar terjadi. Baik, antar internal Demokrat maupun antar elit partai-partai lainnya yang terlibat dalam politik saling menyandera. KPK, kini benar-benar diuji integritasnya setelah Abraham Samad tampil sebagai Ketua KPK yang baru pada Desember lalu.

Amat mungkin, pada akhirnya SBY akan “menjual Anas” untuk dapat sedikit menyelamatkan citra diri dan partainya. Hampir mirip, kala SBY “menjual Aulia Pohan, sang besan” yang harus masuk penjara karena kasus korupsi di BI, jelang Pemilu 2009. Dalam hal ini, Anas akan “di-aulia-pohan-kan”, dengan terpaksa mau tidak mau harus direlakan untuk diproses secara hukum, dengan harapan masih ada citra SBY dan Demokrat yang dapat dipertahankan.

Masalahnya, mungkinkah Anas akan dengan suka rela melepas jabatannya, dan membiarkan dirinya mengikti jejak Nazarudin menjadi pesakitan KPK? Tampaknya, inilah yang membuat drama “nyanyian Nazarudin” menjadi kian berliku, timbul tenggelam seiring dengan latar cerita di balik layar yang sesungguhnya. Masalahnya, Nazarudin pun keburu bernyanyi bahwa tepat sehari sebelum ia kabur ke luar negeri, kasusnya telah dibahas petinggi Demokrat bersama SBY di Cikeas.

Suatu keadaan yang menyiratkan, bahwa kasus korupsi yang membelit Nazarudin, dan kemudian ditudingkan pada Anas, amat mungkin telah membelit Demokrat secara kelembagaan. Tidak tertutup kemungkinan pula, termasuk SBY sendiri telah mengetahuinya, dan telah ikut memberikan restu atas sejumlah langkah yang pernah ditempuh sang mantan Bendahara Umum partai tersebut, misalnya terkait rencana pembangunan gedung DPP Demokrat, persiapan 2014, hingga soal alasan kaburnya Nazar yang diakuinya atas suruhan Anas sendiri, usai menghadiri pertemuan Cikeas sehari sebelumnya tersebut.

Inilah, suatu keadaan tali-temali yang kini diduga membelit para petinggi Demokrat. Tarik ulur mengenai bagaimana  nasib Anas amat mungkin masih terus terjadi. Termasuk, apa yang dibahas saat rapat di Cikeas malam ini. Tampaknya, Anas pun tidak akan dengan mudah untuk begitu saja dilengserkan dari jabatannya, kecuali KPK benar-benar berani menetapkannya sebagai tersangka, berdasarkan bukti-bukti kuat yang diyakininya.

Janji pimpinan KPK yang baru telah terlewati pada tanggal 27 sebulan yang lalu. Bagaimanakah lanjutan kisah sang anak muda yang kekayaannya sempat membuat banyak orang terheran-heran? Kita tunggu saja, bagaimana perkembangan berikutnya. Ah, ternyata belum apa-apa pimpinan KPK juga terbelah tiga. Luar biasa...... *** [Srie]




Baca Juga

Komentar