Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Topeng Koruptor

#1
Sore hari. Seorang pria pulang ke rumah.

“Assalamu’alaikum....”
“Klik....”
Pintu depan rumah terbuka.
“Hiiii... takut...”
“Ada apa De...?”
“Nih ayah datang......”
“Enggak... enggak mauuu... Ade....takuut...... “
“Huu..huu...huu.....” tangisnya memecah telinga.


Kembali. Anak kecil itu berlari. Kedua tangannya merapat. Berusaha untuk menutupi wajahnya yang polos. Hanya matanya yang ia biarkan sedikit terbuka. Agar dapat melihat ke depan hingga di sudut kamar pribadinya yang penuh gambar berwarna.

Ayahnya mengejar. Penasaran. Namun... segera terhalang.

“Brugggg...!” suara pintu tertutup keras secara tiba-tiba.
“Klik....” suara pintu terkunci.
“Tok...tok...tok.....” bunyi pintu diketuk.
“Tidak..tidak.... Ade takut.....” suara di balik pintu terdengar berulang-ulang.

Sang ayah hanya terdiam. Hening. Hingga ia terpaku... berdiri mematung. Hanya berteman  dinding putih yang kokoh. Tegak berdiri. Tetap setia menjadi saksi. Matanya terus menatap ke arah pintu berbahan kayu jati kencana itu.

Dari balik pintu. Sesekali suara tangis ketakutan sang balita masih saja terdengar.

“Huuu...huu.. huuu.. takuuuttt..... Ade.. takuuut....!”

Telinganya ia biarkan terus mendengar. Tangisan terus terngiang-ngiang. Tanpa ia mengerti apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

“Sudahlah, Pah...”
Suara perempuan menyela dari belakang punggungnya. Memecah keheningan.
Sang ayah membalikkan badannya. Matanya langsung menatap ke arah sosok yang telah belasan tahun setia menemaninya. Suara itu belum sempat ia balas.

“Biarkan si Ade tidak diganggu dulu”
“Nanti juga akan tenang sendiri”
“Biar aku yang akan menangani Pah...”
“Tapi, Mah......”
“Sudahlah Pah... ayo ganti baju dulu” ucap sang istri berusaha untuk membujuknya kembali.

Ini hari yang ke tujuh. Kejadian yang sama kembali terulang.


#2
Sabtu sore. Ia sudah berada di ruang tamu sebuah rumah di kompleks pesantren. “Pondok Pesantren Sableng” namanya. Sayup-sayup suara anak-anak mengaji terus terdengar.

Kebingungan tampak masih membekas pada raut wajahnya. Ia terus duduk terpaku. Lebih banyak mendengar. Hanya sesekali saja ia berkata. Hingga.... tanda tanya mulai terbuka.

“Kewajibanku sebagai ayah dan suami... telah aku penuhi semuanya.. Pak Kyai....” ucapnya dengan suara lirih.
“Belum............” sela Kyai.
“Ah.....Saya tidak mengerti Pak Kyai...”
“Engkau belum bisa membuat anak dan istrimu membanggakanmu....”
“Maksudnya.. Pak Kyai?”
“Berhari-hari wajahmu ada di TV dan koran-koran...... “
“Itukah yang engkau banggakan?”
“Topengmu sudah terkuak, Nak....... “
“Semua telah melihatnya..... “
“Engkau sudah hampir telanjang bulat, Nak...
“Nyaris... tanpa kebanggaan...”

Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sambil menengadah.

“Ya Allah..... apa yang terjadi?” keluhnya.
“Engkau selalu sebut nama Tuhan.... namun hati dan perbuatanmu laksana setan.....” timpal sang Kyai.

 “Papah jahat... Papah jahat... Papah jahat....!” teriakan suara balita tiba-tiba terdengar dari balik kamar sang Kyai.
“Ade..... kenapa ada di sini?” tanya ayah.
“Ade enggak mau....punya  ayah bertopeng.....” kata sang anak sambil menunjuk-nunjuk ayahnya sendiri.
Si anak berjingkrak-jingkrak, sambil terus berteriak.
“TOPENG KORUPTOR!” 
“TOPENG KORUPTOR!”
“TOPENG KORUPTOR!

“Hmmm.... Hanya hati yang polos dan bersih... yang dapat menolak korupsi....” ucap Kyai Gendheng seraya menunjuk ke arah sang anak.

#3
Dari luar pintu seseorang tergopoh-gopoh masuk ruangan. Ada kecemasan yang sangat mendalam.

“Ampun Kyai... Ampuun Kyai....!”
“Ampun apaan Peng?”
“Ampun Kyai... Ampuun Kyai....!”
“Iya..... tuh kamu ampuun apaan tahuuu...?”
“Saya tidak pernah korupsi Kyai....
“Apa, Peng?”
“Iya.... saya tidak pernah membuka apa-apa tentang diri saya... apalagi korupsi.. Kyai...” ucapnya memelas... bercampur takut..

“Hahahahahahahahahaha.... Peng... Peng... Apanya yang mau dikorupsi? Apa urusannya dengan kamu, Peng ?! Mau topengmu dibuka atau tidak. Tetaplah kamu si Topeng! Gak ngaruh tauuu... hahahahahahahahaha....”
“Peng.. peng... bodoh kok kamu terus pelihara... hahahahahahahahahaha.......”
“Jadi.. Kyai?”
“Tuh...TOPENG PARA POLITISI tauuuuu.....! Hahahahahahahaha......”
“Alhamdulillah.......”

Si Topeng pun turut tertawa. Hahahahahahahahahahahahahaha......***
Baca Juga

Komentar