Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Ensiklopedi al-Qur’an (Hanif-3): Hanif versus Musyrik

Oleh M. Dawam Rahardjo

Dalam Surat-surat Makiyah, pada umumnya, seruan al-Qur’an ditujukkan kepada manusia seluruhnya, dan bukan misalnya tertuju kepada kaum yang sudah beriman atau pemeluk agama lain, khususnya Yahudi dan Nasrani. Ayat 105 di muka menyeru kepada manusia. Dalam ayat selanjutya, kata hanif dipertentangkan dengan kata musyrik. Jadi, yang dituju adalah kaum politeis Mekkah. Pada ayat 106 dikatakan bahwa alternatif terhadap hanif adalah zalim.

Artinya, menyembah berhala berarti merendahkan derajat manusia sendiri. Betapa tidak, karena manusia “menyembah sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat atau mudharat.” Pada ayat 100 dikatakan: “Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya,” sebagaimana halnya kaum penyembah berhala.


Kata hanif kedua dalam kronologi surat-surat adalah yang tercantum dalam surat al-An’am ayat 79 yang berbunyi:

Sesungguhnya aku menghadapkan wajah dengan lurus (hanif) kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi, dan aku bukanlah termasuk golongan orang yang musyrik (menyekutukan-Nya).

Ayat di atas merupakan kesimpulan dari perjalanan fikir dan dzikir yang dilakukan oleh Ibrahim tatkala ia mencari Tuhannya dengan mengamati bintang-bintang yang bertaburan di langit (ayat 76), bulan (ayat 77), dan matahari (ayat 78) yang terbit secara bergantian, tapi kesemuanya lalu tenggelam bergantan pula. Ia kemudian menarik kesimpulan bahwa itu semua bukan Tuhan. Tuhan yang sebenarnya adalah Dzat yang menciptakan langit dan bumi.

Ayat 75 menjelaskan bahwa Allah telah “memperlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda dari sistem langit dan bumi, agar ia menjadi orang yang yakin”. Kesimpulan yang diambil oleh Ibrahim tersebut berlawanan dengan keyakinan kaum Sabi’ah pada masa ia hidup yang menyembah bintang, bulan dan matahari. Ibrahim adalah seorang hanif.

Di situ, al-Qur’an bercerita tentang perjalanan rohani Ibrahim. Tapi sekali lagi, hal itu tidak ada kaitannya dengan orang-orang Yahudi atau Nasrani, karena ayat inipun turun di Mekkah, ketika nabi dan kaum muslimin belum mengalami ecounter dengan kaum Nasrani maupun Yahudi. Dalam surat al-An’am ini juga, pada ayat 161, al-Qur’an juga bercerita tentang Ibrahim, sebagai rujukan tentang jenis kepercayaan yang dibawa oleh nabi saw., seperti diutarakan dalam ayat 161-163:

Katakanlah Muhammad: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus (shirath al-Mustaqim), (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus (hanif) dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”

Katakanlah Muhammad: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku (pengabdianku), hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Tiada sekutu bagi-Nya, dan yang demikian itulah doktrin yang diberikan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (muslim).

Ayat di atas memberikan gambaran yang lebih jelas tentang agama yang dibawa oleh Muhammad, Rasulullah saw., yaitu agama yang sama dengan yang dipeluk oleh Ibrahim. Di situ pula hanif dipertentangkan dengan sikap musyrik.

Keterangan lain yang menjelaskan kaitan antara kepercayaan yang dibawa oleh nabi dan agama Ibrahim dijelaskan dalam surat al-Nahl ayat 120-123, yang didalamnya terselip keterangan mengenai hanif:

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin yang dapat dijadikan teladan (rujukan), karena sikapnya yang patuh kepada Allah, dan bersikap hanif (berpegang pada kebenaran dan tak pernah meninggalkannya). Dan sekali-kali bukanlah ia termasuk orang-orang yang mempersekutukan-Nya.

(Dan ia) adalah orang yang mensyukuri nikmat-nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya. Allah telah memilihkannya jalan dan menunjukinya jalan yang lurus (shirath al-mustaqim).

Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya kebaikan dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat (akan berbahagia, karena di dunia ini ia) benar-benar termasuk di antara orang-orang yang saleh.

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif”. Dan bukanlah ia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Sebagaimana dikatakan pada ayat 161 surat al-An’am, dalam surat an-Nahl ayat 121, salah satu tanda dari seorang hanif itu adalah karena seseorang itu mengikuti jalan yang lurus (shirath al-mustaqim). Tanda lain dari seorang yang hanif adalah sikap dan cara hidup yang saleh, yaitu hidup yang harmonis dengan lingkungannya.
Surat terakhir yang secara kronologis tergolong dalam surat Makiyah dan mengandung kata hanif adalah surat ar-Rum ayat 30. Dalam ayat ini terdapat keterangan baru mengenai istilah hanif, yaitu:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus (hanif) kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah itu. Itulah agama yang kuat dasarnya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Dalam ayat ini, hanif mengandung arti cenderung kepada agama Allah yang merupakan sikap yang sesuai dengan fitrah manusia. Di sini dikaitkan pula bahwa beragama, yaitu beragama yang hanif adalah merupakan kecenderungan dasar manusia. Demikian pula kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Agama yang sesuai dengan fitrah manusia adalah Islam. Islam adalah agama yang kokoh dasarnya, karena sesuai dengan fitrah manusia itu. Ini adalah sesuai dengan statement al-Qur’an yang dapat dijadikan hipotesa bagi mereka yang sedang mencari kebenaran. Hal ini dapat bisa dijadikan sasaran penelitian, apakah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa itu merupakan kecenderungan manusia yang universal?

Ayat 135 surat al-Baqarah adalah ayat pertama yang mengandung istilah hanif di antara surat-surat Madaniyah yang menyebut kata tersebut. Pada waktu itu, dakwah Islam memang telah menghadapi pergaulan dengan agama-agama besar lain, terutama Yahudi dan Nasrani. Dan agaknya, ayat tersebut memang merupakan sahutan (response) terhadap golongan Yahudi dan Nasrani yang merasa bahwa kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu sudah terdapat dalam kedua ajaran agama besar tersebut. 

Padahal, dalam kenyataan yang hidup di kalangan masyarakat Arab pada waktu itu, terdapat orang-orang yang percaya hanya kepada Allah dan tidak menyembah berhala, tetapi mereka bukanlah termasuk ke dalam agama Yahudi maupun Nasrani. Mereka adalah kaum hunafa’ yang mengikuti agama Ibrahim. ***By Srie.

(Bersambung........)

Catatan: Tulisan ini disalin dari Majalah Ulumul Qur’an No. 5 Vol. II 1990/1410 H.

Baca Juga

Komentar