Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Profesor Mengajar Anak SD, dan Budaya Feodal Dalam Pendidikan

Oleh Sri Endang Susetiawati

Sudah cukup lama, saya berharap agar di Indonesia banyak profesor yang bersedia  mengajar di jenjang pendidikan dasar, yaitu SD dan SMP. Mengapa? Pertama, karena di sejumlah negara lain, seperti Singapura, Jepang, Eropa, atau Amerika, misalnya, sudah menjadi hal yang relatif biasa, seseorang yang bergelar Doktor atau bahkan Profesor masih bersedia dengan senang hati mengajar di tingkat pendidikan dasar.

Kedua, pendidikan tingkat dasar sangat penting sebagai fondasi bangunan pengetahuan anak-anak pada tingkat jenjang sekolah yang lebih tinggi. Kehadiran seorang guru yang dianggap jauh lebih menguasai secara materi dan pedagogi, akan sangat membantu dalam membentuk fondasi dan mengembangkan pengetahuan anak yang lebih baik.

Ketiga, adanya gap (jurang pemisah) antara mereka yang selama ini merasa jauh lebih “pintar” dengan mereka yang dianggap sekedar pelaksana dalam menggeluti pekerjaan rutin sebagai guru semata. Sudah saatnya, mereka yang selama ini berhak menggariskan kebijakan pendidikan, sekaligus selalu memberikan bimbingan dan pengarahan kepada para guru, agar mengetahui secara langsung dan lebih mendalam mengenai kompleksitas masalah yang dihadapi dengan cara mengajar sendiri di sekolah-sekolah. Bila perlu, minimal mengajar selama tiga tahun berturut-turut, sama seperti rutinitas guru biasa, hingga dapat diketahui apa masalahnya, dan bagaimana hasil belajar yang diperoleh siswa.

Adalah patut diapresiasi, upaya yang dilakukan oleh kampus Universitas Indonesia (UI) akhir-akhir ini. Kompas.com menginformasikan bahwa bertempat di Balai Sidang Kampus UI, Depok, Sabtu, (11/2/2012) pagi, Universitas Indonesia bekerja sama dengan DAAD Jakarta mengundang 250 siswa-siswi sekolah dasar dari 50 SD se-Jabodetabek untuk mengikuti program Kinder Uni (pengenalan sains untuk sekolah dasar) oleh para profesor/guru besar dari Universitas Indonesia.

Disebutkan bahwa program Kinder Uni digelar setiap Sabtu selama satu bulan. Setiap sekolah mengirimkan empat siswanya untuk menjadi peserta. Kehadiran mereka didampingi guru dari tiap sekolah dan orangtua. Dalam kegiatan yang berlangsung setiap hari Sabtu (pukul 08.00 WIB) ini, para profesor diuji kemampuannya untuk memaparkan konsep sains secara sederhana yang dapat dipahami dengan mudah oleh siswa kelas 4-6 SD tersebut.

Para profesor yang akan menjadi pengajar Kinder Uni di UI di antaranya Lepi Tamidi (FEUI), Asmarinah (FKUI), Gumilar Rusliwa Somantri (FISIP UI), Hengky Ashadi (FTUI), dan Emil Budianto (FMIPA UI). Tema yang akan dibawakan antara lain "Mengapa Terjadi Gempa", "Apa Itu Uang dan Peranannya", "Tantangan Masa Depan Umat Manusia", "Mengapa Kita Perlu Makan dan Minum", dan "Daerah Aliran Sungai".

Tentu saja, kita berharap agar program ini tidak semata sebuah kontes atau demonstrasi keahlian sang profesor. Akan tetapi, perlu dijadikan sebagai bagian dari pilot project untuk mengembangkan strategi pendidikan bermutu dengan menempatkan guru-guru yang bermutu pula. Dalam hal ini, mereka yang telah bergelar doktor atau profesor, untuk bersedia mengajar di sekolah tingkat dasar sekalipun.

Secara kulutral, hal ini dapat dijadikan sebagai bagian dari upaya untuk memberikan alternatif budaya pendidikan. Bahwa gelar kesarjanaan bukanlah bagian dari status dan jabatan feodal, sehingga seseorang yang bergelar tinggi harus merasa malu ketika harus mengajar pada jenjang sekolah yang dianggap lebih rendah.

Sudah saatnya, gelar akademik tidak lagi semata merupakan kepanjangan budaya feodal dalam abad modern. Gelar akademik harus lebih mencerminkan kompetensi, sumbangsih dan perannya secara riil bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. Gelar akademik, bukanlah semata menjadi asesoris status sosial yang kadang-kadang sempat membuat jengah dan geleng-geleng kepala dari sebagian orang yang kebetulan turut menyaksikan sikap dan tingkah lakunya.

Kita hanya bisa berharap, semoga saja ada perubahan kultural secara mendasar dalam pendidikan kita. Sambil bertanya, kapan para doktor dan profesor mau mengajar “sungguhan” di SD atau SMP di seluruh Indonesia? *** By Srie

Salam Persahabatan


Srie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bangkitnya Ekonomi Syariah, Saatnya Dukung Nyata Bebas Bunga

Oleh Sri Endang Susetiawati Perkembangan ekonomi syariah, kini telah memasuki babak baru, di mana kehadirannya kian diperhitungkan di dunia. Adiwarman A. Karim menyebutnya sebagai kebangkitan ekonomi dan keuangan  syariah di dunia yang ditandai oleh adanya tiga indikator penting. Pertama, semakin besarnya volume dan transaksi bisnis berbasiskan syariah; kedua, semakin menguatnya pembangunan infrastruktur kelembagaan yang mendukung perkembangan ekonomi dan keuangan syariah; dan ketiga, penyebaran institusi keuangan syariah yang semakin meluas ke berbagai belahan dunia. Pada indikator pertama, berdasarkan data dalam Ten-Year Framework and Strategies (IFSB, 2007), volume dan transaksi bisnis berdasarkan prinsip syariah secara global telah mengalami pertumbuhan pada kisaran 15-20 % per tahun. Pada kurun waktu ini, terdapat 284 institusi keuangan syariah yang mengelola dana lebih dari US$ 350 milyar, dan beroperasi di 75 negara di dunia. Sekitar USS 300 milyar tertanam di perbankan syaria…

Ironi Kedele di Negeri Tahu Tempe

Oleh Sri Endang Susetiawati
Dalam tiga pekan terakhir ini, mata uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sempat terpuruk hingga menyentuh angka Rp 12.000,- per dollar AS. Padahal, sebulan lalu, 1 dollar AS masih diperdagangkan pada kisaran angka di bawah Rp 10.000.
Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), pada saat yang hampir bersamaan, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menembus angka di bawah 4000, atau terendah dalam 3 tahun terakhir.  Padahal,  di awal tahun ini, IHSG bahkan sempat memecahkan rekor angka 5000, atau tepatnya 5010,907 pada 19/4/2013, atau angka tertinggi sepanjang sejarah kehadiran bursa saham di negeri ini.
Terpuruknya nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS yang hampir seiring dengan kian melemahnya nilai IHSG sempat mengingatkan kembali peristiwa sekitar 15 tahun lalu ketika Indonesia memasuki krisis ekonomi, kemudian krisis politik yang menyebabkan kejatuhan rezim Orde Baru (Orba).
Meski selalu ditepis oleh pemerintah, bayang-bayang krisis ekonomi…

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…