Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Rekannya Ditampar, 5.000 Guru Lakukan Demo di Kantor Gubernur Riau

Srie, - Hari ini, Selasa (18/12) terjadi aksi pendudukan Kantor Gubernur Riau, di Pekanbaru oleh ribuan guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Wilayah Riau.
Dalam aksinya, mereka menuntut pemprov Riau agar memproses secara hukum atas salah seorang pejabat di lingkungan Dinas Kehutanan Riau.

Aksi ini merupakan reaksi atas tindakan oknum pejabat bernama Said Nurjaya yang telah melakukan aksi penamparan dan penodongan pistol kepada Nurbaiti, seorang guru SD di Pekanbaru, pada akhir November (26/11) lalu.
"Aksi ini kami lakukan sebagai bentuk kekesalan terhadap Gubernur Riau yang sejauh ini tidak memproses kasus pemukulan guru,"  kata Arwana, seorang pengunjuk rasa. 
Selain menampar Nurbaiti, Said juga mengancam akan membunuh guru SDN 081 Pekanbaru itu dengan menggunakan pistol yang dimilikinya sebagai petugas polisi kehutanan. Terkait dengan aksi tersebut, sebelumnya guru-guru di Pekanbaru akan melakukan demo jika Pemprov Riau tidak segera memproses secara hukum sang oknum.
Dikarenakan tuntutannya tidak ditanggapi oleh Pemprov Riau, maka siang hari ini, sekitar 5.000 orang guru ikut ambil dalam aksi demonstrasi. Salah seorang koordinator aksi guru, Sahran Ritonga mengatakan, aksi para guru membawa nama PGRI Kota Pekanbaru.
Koordinator Forum Komunikasi Guru Kota Pekanbaru Bersatu, Sahran Ritonga mengatakan, aksi para guru membawa nama PGRI Kota Pekanbaru. Namun, dirinya memperkirakan banyak guru lain dari kabupaten/Kota di Riau yang juga ikut solidaritas dengan berdemo.
"Kali ini kami tak membawa nama forum. Tapi bersatu di bawah PGRI Pekanbaru," kata Sahran, sebagaimana dikutip di sini.
Dalam aksinya, para guru akan mendatangi tiga instansi, yaitu BKD, kantor Gubernur Riau dan Mapolda Riau. Mereka menuntut agar pemprov segera mencopot Said Nurjaya dari jabatannya sebagai kepala seksi di Polhut Dinas Kehutanan Riau.
Said dinilai telah bersikap arogan dan melakukan tindak kekerasan. Di samping itu, Polda Riau juga diminta untuk memproses kasus hukum kekerasan tersebut.
Akhir bulan lalu (28/11), sekitar 300-an guru juga sempat berdemo di samping kantor Gubernur Riau, untuk kemudian berjalan kaki menuju Mapolda Riau yang terletak di hadapannya.
Anak Mengadu
Kasus ini bermula dari aksi Said yang marah, kemudian menampar Nurbaiti dan menodongkan pistol kepada guru SDN 081 di Jalan Gabus Pekanbaru ini pada Senin (26/11) lalu.
Said melakukan aksi kekerasan setelah sebelumnya mendapat informasi dari anaknya yang mengadu telah ditampar oleh gurunya, kemudian dipaksa untuk pulang saat jam belajar masih berlangsung.
Namun, cerita pengaduan sang anak itu dibantah keras oleh Nurbaiti. Menurutnya, tidak benar kalau dirinya telah melakukan penamparan kepada anak Said.
Nurbaiti mengakui telah memerintahkan keluar, karena murid itu sering melakukan keributan saat jam belajar berlangsung. Berkali-kali dirinya melakukan teguran namun tidak digubris oleh sang anak, sehingga ia memerintahkannya untuk keluar.
Kasusnya sendiri sedang dalam proses penyelesaian melalui jalur perdamaian. Akan tetapi, para guru tetap meminta pihak berwenang untuk mengusut dan memproses kasus penamparan dan penodongan pistol itu melalui jalur hukum.
Sebagai sesama guru, memang perlu dipupuk solidaritas untuk membela salah seorang rekan seprofesi yang mengalami tindak kekerasan dan ketidakadilan seperti itu. *** [Srie]





Baca Juga

Komentar