Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Penjurusan Dihapus: Manajemen SMA Ditata Ulang, Guru Disertifikasi Ulang?


Srie, - Perubahan kurikulum akan berdampak pula pada perubahan manajemen sekolah. Terutama, manajemen yang berkaitan dengan guru perlu ditata-ulang agar menyesuaikan dengan sistem baru yang diterapkan pada jenjang SMA.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, mengatakan bahwa dengan dipilihnya pola peminatan, dan bukan penjurusan oleh Kemendikbud, maka ada kemungkinan sekolah akan mengalami kekurangan guru yang sesuai dengan peminatan siswa.
Akibatnya, tidak menutup kemungkinan akan terjadi sertifikasi ulang bagi guru yang beralih mengajar pada mata pelajaran (mapel) lain yang lebih banyak dimintai oleh siswa.
“Pasti akan terjadi hal seperti ini. Ada mata pelajaran yang jadi favorit dan ada juga yang sedikit peminatnya,” kata Hamid, saat berada di jambi, Senin (7/1), sebagaimana diberitakan di sini.
Sebagai konsekuensinya, lanjut Hamid, manajemen sekolah harus ditata-ulang. Manajemen sekolah harus menyesuaikan diri, dikarenakan jika pilihan anak beragam, maka guru harus lebih banyak dan beragam pula.
“Kalau pilihan siswa beragam, maka guru harus banyak. Bisa jadi, satu guru tidak lagi mengampu satu mata pelajaran,” jelasnya.
Ia memberikan contoh, misalnya bila siswa banyak yang berminat atau tertarik mengambil mapel Ekonomi, sementara jatah untuk satu kelas terbatas hingga 40 siswa. Bila peminat mapel Ekonomi lebih dari 40 anak, maka perlu ditambah kelas baru, dan sekolah perlu menyediakan guru tambahan yang mengampu mapel Ekonomi.
Dengan demikian, sekolah pun harus melatih guru yang akan dialihtugaskan pada mapel yang lebih banyak diminati itu.
“Misal, tadi itu. Ekonomi yang banyak diminati. Sementara Antropologi sedikit, nah guru Antropologi ini yang akan dilatih untuk juga bisa mengajar Ekonomi,” tutur Hamid.
Kemendikbud telah memutuskan untuk menerapkan pola pengelompokan siswa berdasarkan kelompok peminatan untuk menggantikan pola penjurusan di SMA yang berlaku hingga saat ini. Pengelompokan berdasarkan peminatan akan dimulai pada Kelas X SMA.
Dalam pelaksanaannya, pola baru ini akan menggunakan gabungan dari sistem block dan sistem kredit semester (SKS). Rencananya, sistem block akan diterapkan pada mapel wajib untuk setiap kelompok peminatan. Sedangkan, sistem SKS akan digunakan untuk untuk mapel pilihan yang diambil oleh siswa berdasarkan minat dan kesukaannya.*** [Srie]
Baca Juga

Komentar