Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

DPR: Anggaran Kurikulum Baru Membengkak Spektakuler, Belum Clear!


Srie, - Komisi X DPR RI menilai usulan anggaran Kurikulum 2013 yang diajukan oleh Kemdikbud belum clear. Alasannya, pengajuan anggaran yang besarnya terus membengkak itu belum melalui mekanisme pembahasan di DPR.

Anggota Komisi X DPR, Ferdiansyah mengatakan, Kemdikbud tidak bisa menetapkan anggaran seenaknya sendiri. 

Apalagi, katanya, anggaran yang tiba-tiba berubah membengkak menjadi Rp 2,491 triliun sama sekali belum dipresentasikan Mendikbud di hadapan anggota DPR.

"Bicara anggaran kurikulum, itu belum tuntas, karena ada rakernya sendiri tentang itu. Itupun setelah kami mendengar laporan Panja Kurikulum. Jadi kami menganggap anggaran belum clear karena belum dipresentasikan," kata Ferdiansyah, Kamis (7/2) malam, di Jakarta, sebagaimana dilansir di sini.

Ia mengungkapkan, pada saat pembahasan awal RKA/KL, Komisi X dan Kemdikbud hanya menyepakati alokasi anggaran sebesar Rp 648,4 miliar untuk perubahan kurikulum. Anggaran sebesar itu, lanjutnya, sudah termasuk untuk dana persiapan pengadaan buku hingga pelatihan guru.

Namun, kata politisi asal Golkar ini, pihaknya sempat terkejut ketika belakangan mengetahui anggaran itu mengalami dua kali perubahan yang dinilai spektakuler.

Saat rapat kerja dengan Kemdikbud, yang diwakili Wamendikbud, Musliar Kasim, pada pertengahan Januari lalu (15-16/1), anggarannya ternyata tiba-tiba melonjak menjadi Rp 1,4 triliun.

“Awalnya perubahan kurikulum 2013 itu disepakati Rp 684 miliar. Waktu raker dengan Wamen naik jadi Rp 1,4 triliun. Lantas, kenapa akhirnya jadi Rp 2,491 triliun? Ini perubahan spektakuler dan harus dibahas lagi,” kritiknya.

Sebelumnya, pada akhir Januari (31/1) lalu, Mendikbud, Mohammad Nuh mengungkapkan rincian anggaran yang dibutuhkan untuk Kurikulum 2013 itu, dengan total mencapai Rp 2,491 triliun.

Dalam konperensi pers yang diadakan di kementeriannya, Nuh menyebutkan, anggaran sebesar itu terdiri atas anggaran melekat sebesar Rp 1,740 triliun (69,9%) dan anggaran tambahan sebesaar Rp 751,4 miliar (30,1%).

Dari sejumlah itu, kata Nuh, anggaran melekat sebanyak Rp 1,740 triliun disediakan untuk pengadaan buku bagi siswa dan guru, serta untuk pelatihan guru.

Anggaran terbesar digunakan untuk penggandaan buku sebanyak 72,8 eksemplar dengan nilai Rp 1,2 triliun, sedangkan untuk pelatihan guru senilai Rp 1,09 triliun. Selengkapnya baca di [Anggaran Kurikulum Baru Rp 2,491 Triliun, Mendikbud Tak Khawatir Ada Hambalangisasi].

Anggaran terakhir kurikulum baru yang sebesar Rp 2,491 triliun inilah yang membuat banyak anggota Komisi X bingung hingga menimbulkan sejumlah pertanyaan.

“Katanya ada anggaran melekat, melekat bagaimana?” tanya Ferdiansyah.

Belum adanya lampu hijau dari DPR untuk anggaran pergantian kurikulum, diperkirakan  akan membuat persiapan  implementasi Kurikulum 2013 kian terancam molor.


Baca Juga

Komentar