Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Mahfud MD: KPK “Tabrak” Saja Kasus Korupsi LHI, Tidak Ada Konspirasi!


Srie, - Ketua Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Mahfud M.D. meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk terus maju dalam memproses kasus dugaan suap impor daging sapi yang melibatkan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishak (LHI), pada akhir Januari lalu.
Ia mendukung langkah KPK yang menetapkan tersangka pada LHI, dan mengatakan bahwa siapapun yang terlibat praktek korupsi, hukum harus ditegakkan.
“KPK, “tabrak” saja kasus itu. Siapapun yang terlibat, hukum harus ditegakkan.” kata Mahfud saat mengadakan konferensi pers Presidium KAHMI, di Jakarta, Senin (4/2) kemarin, sebagaimana diberitakan di sini.
Pernyataan Mahfud ini disampaikan terkait adanya upaya pihak-pihak tertentu yang terkesan membela tersangka korupsi dengan cara menghembuskan isu konspirasi. Belakangan, isu yang pertama kalai dimunculkan oleh elit PKS itu dianggap telah mengintimidasi KPK dalam mengusut mantan presiden partainya.
“Sampai saat ini tidak ada yang bisa mengintimidasi dan mendikte KPK. Coba saja, saya tahu kredibilitas komisionernya,” ungkapnya.
Dikatakan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini, pihak yang menuding adanya konspirasi di tubuh KPK, ternyata tidak bisa berkutik ketika diminta menunjukkan bukti-bukti atas tudingannya tersebut.
Ia menegaskan, penetapan tersangka atas LHI kemudian menahannya di rutan Guntur merupakan sebuah fakta, bukan sebuah bentuk konspirasi.
“Fakta itu harus tetap berjalan proses hukumnya. Masalah konspirasi itu kan dugaan, dan tidak ada indikasinya,” ujarnya.
Kalaupun dianggap ada indikasi oleh elit PKS, lanjutnya, maka hal itu urusan internal partai yang bersangkutan untuk diurus sendiri. Boleh jadi, katanya, bisa berguna bagi kepentingan internal partai yang berslogan, bersih, peduli dan profesional itu.
“kami tidak mengurusi itu. Silakan saja, mungkin itu berguna bagi partai. Kita tidak boleh ikut campur,” tandasnya.
Pada bagian akhir konpers-nya, Mahfud yang terpilih sebagai Ketua Presidum KAHMI pada awal Desember 2012 ini menghimbau kepada masyarakat agar secara bersama-sama terus menegakkan hukum, terutama mendukung upaya memerangi korupsi di negeri ini.
Beberapa waktu lalu, Mahfud meminta aparat penegak hukum agar tidak saja menghukum terdakwa koruptor dengan penjara seberat-beratnya. Namun, ia pun mengusulkan agar pelaku korupsi dipermalukan dan dilakukan pemiskinan, dengan cara menyita seluruh harta miliknya yang diduga hasil korupsi. 
Pekan lalu, Luthfi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada Kamis (31/1) lalu, kemudian ditahan di rutan Guntur pada beberapa jam berikutnya. Mantan presiden PKS ini bersama orang dekatnya, Ahmad Fathanah yang ditangkap tangan di hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (29/1) malam, dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 5 ayat 1 atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. *** [Srie]

Catatan : Baca juga: Presiden PKS Tersangka KPK, "Islam Yes, Partai Islam No" Masih Relevan!

Baca Juga

Komentar