Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Mahfud MD: Siapapun Dia, Anas atau Bukan, Kalau Korupsi Sikat Saja!


Srie, - Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Mahfud MD kembali melontarkan pernyataan yang cukup keras dan tegas.

Kali ini, ia memberikan tanggapannya terkait penetapan status tersangka oleh KPK kepada mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, pada Jum’at (22/2), pekan lalu.

“Saya tegaskan, yang urusan hukum itu tetap harus jalan. Saya termasuk orang yang keras. Pokoknya, kalau sudah korupsi jangan diampuni. Siapapun dia, apakah Anas atau bukan, kalau korupsi sikat saja,”tegas Mahfud, Selasa (26/2) kemarin, usai acara peresmian Gedung Pendidikan Pancasila dan Konstitusi di Cisarua, Bogor, Jawa Barat.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu mengatakan, saat ini negara akan ambruk, sehingga jangan karena alasan teman korupsi, lalu berusaha ditutup-tutupi. Ucapan Mahfud ini terkait dengan posisi Anas yang alumni HMI dan kini masih menjabat sebagai anggota Presidium KAHMI.

Saat ditanya terkait kunjungannya ke rumah Anas ketika telah berstatus tersangka,  Mahfud MD menegaskan bahwa hal itu dilakukan sekadar bersilaturahmi saja, sebagai seorang senior terhadap juniornya di HMI.

“Anas itu adik saya. Junior saya. Sebab itu saya berempati dan bersimpati. Dan, saya melakukan hal yang sama kepada Bachtiar Chamsyah ketika di penjara. (Itu), teman-teman saya juga,” ujarnya.

Terkait dengan adanya kasus bocornya Sprindik KPK yang menetapkan Anas sebagai tersangka, Mahfud meminta agar dibedakan kasusnya sebagai dua hal yang terpisah.  Ia tidak sependapat adanya dugaan politisasi dalam kasus penetapan Anas oleh KPK.

Menurutnya, masalah bocornya Sprindik adalah kasus tersendiri, sedangkan kasus dugaan korupsinya sudah berjalan mulai bulan Juli. Sprindiknya bocor atau tidak, kata dia, arah hukumnya harus seperti itu, dan tidak boleh dikait-kaitkan dengan politisasi.

“Oke, mari masalah Sprindik itu, mari kita persoalkan. Tapi, jangan menganggap kalau Sprindik betul, korupsinya bersih. Itu tidak boleh. Korupsinya harus disikat. Oleh sebab itu, saya katakan nggak ada urusan politik. Nggak ada. Ada Upaya politisasi. Tapi, hukumnya tidak terpolitisasi. Itu sudah benar,” ungkapnya.

Mahfud menegaskan kembali, bahwa upaya politisasi itu memang ada. Tapi, katanya, tidak boleh menghilangkan proses hukum. Sehingga, tambahnya, seumpama tidak ada proses politik, maka proses hukumnya akan tetap berjalan seperti itu juga.

“Harus dibedakan. Kasus Sprindik itu disendirikan saja. Sprindik itu agar diselidiki polisi. Nggak usah nunggu dewan etik. Itu kejahatan. Itu disidik saja. Tetapi, yang kasus Anas juga jalan. Tangkap saja,” tandasnya.

Beberapa waktu lalu, saat mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishak ditahan oleh KPK terkait dugaan kasus suap impor daging sapi, Mahfud pun mengeluarkan pernyataan yang cukup keras dan lugas. [Baca: Mahfud MD: KPK Tabrak Saja Kasus LHI, Tidak Ada Konspirasi!]. *** [Srie]
Baca Juga

Komentar