Langsung ke konten utama

Selamat Datang di Kelas Digital Sejarah

Selamat datang di Kelas Digital Pelajaran Sejarah SMAN 2 Kuningan. Ini merupakan media pembelajaran Sejarah yang diampu oleh guru Dra. N. Sri Endang Susetiawati, M.Pd.

Dengan media Kelas Digital Sejarah ini, diharapkan siswa dapat melakukan proses belajar secara lebih mudah, intensif dan dapat dilakukan kapanpun, baik saat berada di sekolah maupun saat usai pulang sekolah.

Kelas Digital Sejarah merupakan media komunikasi dalam proses pembelajaran Sejarah yang dapat diakses melalui handphone, komputer atau laptop.

Melalui Kelas Digital ini, guru akan memberikan konten belajar, baik berupa teks, foto, video atau dokumen lainnya yang diharapkan dapat direspon oleh siswa dengan memberikan komentar atau berdiskusi.

Melalui Kelas Digital pula guru akan memberikan penugasan, ulangan secara online, serta pengumuman.

Tugas dapat dilaporkan oleh siswa melalui media Kelas Digital pula dengan cara mengunggah file penugasan.

Sementara itu, hasil ulangan secara online akan memudahkan guru untuk me…

Wamendikbud Bantah Tudingan Logika Terbalik Perubahan Kurikulum


Srie, - Wamendikbud, Musliar Kasim, membantah pernyataan Koalisi Tolak Kurikulum 2013 yang menuding Kemdikbud telah menggunakan logika terbalik dalam melakukan perubahan kurikulum.

Jum’at (15/2), pekan lalu, Koalisi yang terdiri atas sejumlah tokoh pendidikan, guru, aktivis dan lain-lain, menuding adanya 8 kejanggalan pada Kurikulum 2013, sehingga secara tegas mereka menolak kurikulum pengganti KTSP itu.

Salah satu kejanggalan itu, menurut Kolisi, adalah penggunaan logika terbalik yang dilakukan oleh Kemdikbud pada perubahan kurikulum pendidikan. Yaitu, kurikulumnya dulu diubah, kemudian baru merevisi Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

“Seharusnya, pemerintah merevisi PP No. 19 tahun 2005 dulu, kemudian baru menyusun dan menetapkan kurikulum baru. Bukan seperti saat ini, standar nasional pendidikan harus mengikuti atau mengacu pada Kurikulum 2013,” kata Siti Juliantary, peneliti ICW yang ikut bergabung dalam Koalisi.

Pernyataan inilah yang dibantah oleh Musliar, dengan mengatakan bahwa justru Kemdikbud telah melakukan perubahan kurikulum berdasarkan logika yang benar.

Sebaliknya, ia menuding balik, bahwa logika yang digunakan oleh kelompok pengritiknya sebagai sesuatu yang tidak mungkin dapat dilakukan terkait dengan perubahan kurikulum.

“Bagaimana mau mengubah PP, kalau kurikulum belum ada? Artinya, kita desain dulu kurikulumnya, baru ubah PP. Jadi, logika terbalik itu sudah kita pikirkan. Tidak mungkin kita ubah PP, sementara yang mau diubah itu belum siap,” tegas Musliar, saat dimintai tanggapannya terkait tudingan Koalisi Tolak Kurikulum 2013, Senin (18/2), di Jakarta.

Untuk diketahui, Koalisi Tolak Kurikulum 2013 masih terus melakukan penolakan atas kurikulum baru yang saat ini diklaim oleh Kemdikbud telah memasuki masa implementasi.

Dalam jumpa pers yang bertempat di kantor ICW, Kalibata, akhir pekan lalu, disebutkan alasan penolakan Kurikulum 2013 karena sedikitnya ditemukan ada 8 kejanggalan. [Baca: Ada 8 Kejanggalan, Kurikulum 2013 Ditolak]

Selain menuding adanya sejumlah kejanggalan, anggota Koalisi, Sekjen FSGI, Retno Listyarti, juga menilai Kurikulum 2013 sebagai kurikulum yang lucu dan membuat bingung bagi guru. [Baca: Kurikulum 2013 Lucudan Bingung, Ajarkan Disiplin Tiru Elektron].

Bahkan, ada anggota lainnya, Jerry Sumampow, yang menuding Kurikulum 2013 tak lain hanya sebagai megaproyek untuk mencari uang  jelang Pemilu 2014

Selanjutnya, ia mengingatkan bahwa apabila Kemdikbud tetap bersikukuh untuk menerapkan Kurikulum 2013 mulai Juli tahun ini, maka pihaknya sudah berencana akan melakukan gugatan hukum, antara lain melalui PTUN.

Mendikbud, Mohammad Nuh sendiri menanggapinya dengan mengatakan bahwa saat ini sudah memasuki masa implementasi, bukan masanya lagi berwacana mendukung atau menolak Kurikulum 2013.


Baca Juga

Komentar

  1. PP No. 19 tahun 2005 hanya supporting system bukan tujuan utama, sedangkan kurikulum menjadi tujuan utama karena mengikuti tuntutan zaman. Jika kurikulum berubah, standar-standar yg menjadi pendukung (PP 19 th 2005) harus menyesuaikan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Kami menghargai komentar yang relevan dengan konten tulisan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, dan tidak mengandung unsur kebencian berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).